Konten dari Pengguna

Sering Dianggap Gampang Resign, Ini Penyebab Anak Muda Stres Kerja

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari MUHAMMAD AZKA ARYA PUTRA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto seorang remaja, sedang menatap laptop yang sedah menghadap masa depan.                          -sumber dari AI GPT
zoom-in-whitePerbesar
Foto seorang remaja, sedang menatap laptop yang sedah menghadap masa depan. -sumber dari AI GPT

Fenomena anak muda stres kerja kini makin sering menjadi perbincangan hangat di dunia profesional. Tidak sedikit generasi senior yang menganggap generasi muda saat ini mudah menyerah dan gampang resign. Namun, benarkah mental mereka lebih lemah, atau justru tekanan dunia kerja modern yang makin brutal? Selengkapnya mengenai isu kesehatan mental dan dinamika dunia kerja dapat disimak di bawah ini.

"Baru ditegur sedikit langsung ajukan resign."

"Anak muda zaman sekarang mentalnya kayak kerupuk, gampang banget burnout!"

Kalimat-kalimat senada tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Generasi muda hari ini—khususnya Milenial akhir dan Gen Z—sering kali mendapat label negatif dari generasi senior. Mereka dinilai kurang memiliki ketahanan mental dalam menghadapi tekanan dunia kerja.

Namun, jika kita mau melihat lebih jernih dan melepas kacamata stereotipe, benarkah mental anak muda sekarang benar-benar lebih "lembek"? Atau justru lingkungan dan dinamika kerja saat ini yang sudah berubah menjadi jauh lebih brutal?

1. Batas Jam Kerja yang Kabur Jadi Penyebab Utama Anak Muda Stres Kerja

Generasi terdulu umumnya menjalani pola kerja yang jelas: masuk pukul 08.00, pulang pukul 17.00. Setelah melangkah keluar dari pintu kantor, urusan pekerjaan secara otomatis selesai hingga keesokan harinya.

Bandingkan dengan hari ini. Perkembangan teknologi membuat pekerjaan ikut "pulang" ke rumah. Notifikasi pesan WhatsApp grup kantor di malam hari, email mendadak saat akhir pekan, hingga ekspektasi untuk selalu fast response membuat otak pekerja muda selalu dalam kondisi siaga (hyper-vigilance).

Kondisi always-on ini secara perlahan mengikis energi mental tanpa disadari. Bukan karena mereka lemah, melainkan karena tubuh dan pikiran manusia memang tidak dirancang untuk bekerja 24 jam nonstop.

2. Ketidakpastian Ekonomi dan Pudarnya "Jaminan Masa Depan"

Pada masa lalu, loyalitas pada satu perusahaan kerap diganjar dengan jenjang karier yang pasti, kenaikan gaji berkala, hingga uang pesangon dan pensiun yang menjanjikan.

Di era gig economy saat ini, situasinya berbalik 180 derajat. Anak muda dihadapkan pada tren kerja kontrak, outsourcing, hingga ancaman efisiensi dan PHK yang bisa terjadi kapan saja. Di saat yang sama, kenaikan biaya hidup dan harga hunian melonjak tak seimbang dengan standar gaji entry-level.

Keputusan untuk resign sering kali bukan bentuk "melarikan diri", melainkan langkah rasional untuk mencari安全性 finansial dan lingkungan kerja yang lebih menghargai tenaga mereka.

3. Hustle Culture dan Tekanan Media Sosial

Media sosial turut memperkeruh suasana. Linimasa seperti LinkedIn dan Instagram setiap hari menyajikan narasi keberhasilan usia muda: pencapaian karir melesat di usia 20-an, gaji dua digit, hingga finansial bebas sebelum usia 30.

Paparan narasi hustle culture yang mengagungkan kerja keras tanpa batas ini menciptakan perfectionism trap. Anak muda merasa bersalah jika beristirahat. Tekanan psikologis untuk selalu terlihat "sukses" inilah yang memicu kecemasan (anxiety) berlebih dan berujung pada burnout.

4. Literasi Kesehatan Mental yang Lebih Baik

Faktor penting yang sering dilupakan: anak muda zaman sekarang memiliki kesadaran kesehatan mental (mental health awareness) yang jauh lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.

Di masa lalu, rasa cemas, depresi, atau kelelahan mental ekstrem sering diabaikan atau dianggap sebagai risiko wajar dalam bekerja. Hari ini, anak muda tahu cara mengenali batas kemampuan psikologis mereka. Ketika sebuah lingkungan kerja mulai berdampak buruk pada kesehatan mental, mereka tidak ragu untuk mengambil tindakan tegas—termasuk mengundurkan diri.

Kesimpulan: Bukan Soal Mental Lembek, Tapi Menjaga Diri

Melabeli generasi muda sebagai generasi yang "lembek" adalah bentuk penyederhanaan masalah yang tidak adil. Tantangan fisik generasi terdulu kini telah berganti menjadi tekanan kognitif dan emosional yang masif di era informasi.

Keberanian untuk menetapkan batasan (boundaries) dan meninggalkan lingkungan kerja yang beracun (toxic workplace) bukanlah tanda kelemahan. Justru, itu adalah bentuk kesadaran untuk menjaga kualitas hidup secara berkelanjutan.

Sudah saatnya dunia kerja tidak hanya menuntut produktivitas tinggi, tetapi juga menyediakan ekosistem kerja yang manusiawi dan menghargai kesehatan mental pekerjanya.

Bagaimana pendapatmu? Apakah kamu setuju bahwa tuntutan kerja zaman sekarang memang lebih berat, atau punya pandangan lain? Tulis di kolom komentar, ya!