Hubungan Sepihak Fans dan Idol: Memahami Parasocial Relationship dalam Psikologi

Psychology Student
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Azra Rabbania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penulis: Azra Rabbania Zulkarnain, Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog
“Aku tahu makanan favoritnya, hafal kebiasaan kecilnya, tahu hobinya, senang ketika melihat dia senang, bahkan mood bisa rusak hanya karena rumor buruk tentang dia, padahal dia bahkan tidak tahu aku ada.”
Bagi banyak fans idol, selebriti, influencer, atau karakter fiksi, perasaan seperti ini pasti terasa akrab. Kedekatan itu sering muncul dari paparan yang berulang terhadap konten mereka, sehingga mereka seolah hadir dalam kehidupan fans.
Di era media sosial, hubungan antara fans dan figur publik terasa jauh lebih personal. Bagaimana tidak, hari ini fans dimanja dengan konten harian, live streaming, meet and greet, hingga interaksi kecil di media sosial yang membuat figur publik terasa dekat. Akibatnya, hubungan satu arah yang awalnya hanya sebatas hiburan perlahan berubah menjadi keterikatan emosional yang terasa nyata. Tidak heran banyak fans yang bahkan bisa menangis saat idolnya hiatus, merasa sangat kehilangan ketika grup favoritnya bubar, atau bahkan cemburu saat idol-nya berkencan.
Dalam psikologi fenomena ini disebut dengan parasocial relationship, yaitu ikatan emosional satu arah yang terbentuk ketika fans merasa dekat dengan figur media seperti idol, selebritas, influencer, dsb. Meski terlihat lumrah di era media sosial saat ini, parasocial relationship ini ternyata memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap kondisi emosional dan kehidupan sosial seseorang.
Mengenal Parasocial Relationship
Parasocial relationship awalnya bermula ketika Donald Horton dan Richard Wohl memperkenalkan istilah parasocial interaction, yaitu pengalaman singkat ketika pengguna media merasa seolah-olah berinteraksi langsung dengan figur media. Dari pengalaman yang berulang tersebut, kemudian terbentuk parasocial relationship, yaitu ikatan emosional yang lebih menetap. Menurut Horton dan Wohl, media mampu menciptakan ilusi kedekatan melalui berbagai cara, seperti percakapan yang terasa personal, kontak mata ke kamera, hingga perilaku figur media yang dibuat seolah-olah sedang berbicara langsung kepada pengguna media. Terlebih teknologi hari ini memperkuat fenomena tersebut melalui media sosial, fans jadi bisa mengikuti keseharian idol dan memperkuat ikatan emosional semu di antara mereka.
Parasocial Relationship dari Kacamata Psikologi
Secara psikologis, parasocial relationship muncul karena manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa terhubung, diterima, dan aman secara emosional. Ketika kebutuhan ini tidak sepenuhnya terpenuhi dalam relasi nyata, figur media atau idol dapat menjadi tempat pelampiasan keterikatan emosional. Horton dan Wohl menjelaskan bahwa hubungan parasosial dapat memberikan rasa “ditemani” terutama bagi individu yang merasa kesepian, terisolasi, atau tidak memiliki hubungan sosial yang memuaskan. Dalam teori attachment yang dikemukakan oleh John Bowlby, manusia cenderung mencari sosok yang dapat memberikan rasa aman, nyaman, dan dukungan emosional. Dalam konteks parasocial relationship, sosok idol dapat berperan sebagai attachment figure yang memberikan kenyamanan emosional bagi pengguna media atau fans itu sendiri.
Selain itu, media sosial juga berperan besar dalam memperkuat parasocial relationship ini dengan menciptakan ilusi kedekatan atau illusion of intimacy yang membuat pengguna media atau fans merasa memiliki hubungan personal dengan figur media. Horton dan Wohl juga menjelaskan bahwa pengguna media sering kali berusaha untuk mengetahui kehidupan pribadi idol untuk memperkuat ilusi hubungan tersebut, seperti mencari tahu makanan favorit, hubungan asmara, atau kehidupan pribadi idol favoritnya tersebut.
Dampak Psikologis Parasocial Relationship
Dalam batas tertentu, parasocial relationship dapat memberikan dampak positif, seperti mengurangi kesepian, memberikan hiburan, serta meningkatkan rasa nyaman dan self-esteem fans. Namun, hubungan ini perlu diwaspadai ketika kedekatan ini terlalu kuat dalam artian fans sebagai pengguna media bisa terlarut secara emosional pada idol sebagai figur media dan hubungan semu ini mulai menggantikan hubungan sosial nyata. Horton dan Wohl menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk keterikatan yang bersifat tidak adaptif lagi, yaitu ketika seseorang terlalu terbawa perasaan dalam hubungan satu arah sehingga mengabaikan realitas sosial di sekitarnya dan berujung pada mengganggu fungsi sosialnya. Dalam beberapa kasus tertentu, keterikatan ini bisa menjadi tidak sehat jika berubah menjadi obsesi emosional, misalnya saat seseorang terlalu larut dalam kehidupan idol hingga mengabaikan kehidupan sosial di sekitarnya. Karena itu, parasocial relationship perlu dipahami bukansebagai sesuatu yang otomatis buruk, melainkan sebagai hubungan psikologis yang bisa memberikan dukungan emosional, tetapi juga bisa menjadi masalah jika tidak disadari batasnya.
Referensi
Baek, Y. M., Bae, Y., & Jang, H. (2013). Social and parasocial relationships on social network sites and their differential relationships with users' psychological well-being. Cyberpsychology, behavior, and social networking, 16(7), 512-517.
Hoffner, C. A., & Bond, B. J. (2022). Parasocial relationships, social media, & well-being. Current opinion in psychology, 45, 101306.
Perse, E. M., & Rubin, R. B. (1989). Attribution in social and parasocial relationships. Communication research, 16(1), 59-77.
