Konten dari Pengguna

#KaburAjaDulu: Ketika Generasi Muda Tak Lagi Percaya Negara

Potret pribadi penulis yang juga bagian dari generasi muda yang merasakan keresahan akan masa depan di negeri sendiri. (Dok. pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Potret pribadi penulis yang juga bagian dari generasi muda yang merasakan keresahan akan masa depan di negeri sendiri. (Dok. pribadi)

Lahirnya Tagar #KaburAjaDulu: Dari Ajakan ke Gerakan Sosial

Beberapa tahun terakhir, media sosial tidak hanya menjadi tempat berbagi foto, video, atau opini pribadi, tetapi juga ruang bersama tempat masyarakat mengekspresikan kegelisahan, kekecewaan, dan harapan terhadap kondisi sosial-politik di Indonesia. Salah satu contoh paling nyata dari kekuatan media sosial dalam membentuk respons kolektif adalah munculnya tagar #KaburAjaDulu.

Tagar ini mulai muncul sekitar 2023—digunakan oleh para penggiat teknologi sebagai ajakan mencari peluang di luar negeri. Tapi pada Februari 2025, ia kembali mencuat setelah pernyataan kontroversial Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer:

“Mau kabur, kabur aja lah. Kalau perlu, jangan balik lagi.”

Sontak, kalimat itu meledak di linimasa. Bukan hanya karena nada nyinyirnya, tapi karena ia terasa seperti simbol ketidakpedulian negara pada rakyatnya sendiri. Terutama di mata generasi muda yang selama ini merasa tidak didengar.

Dari Protes Digital ke Gerakan Informasi Kolektif

Awalnya, tagar #KaburAjaDulu hanyalah bentuk sinis—semacam protes diam lewat sindiran. Namun seiring waktu, ia berevolusi jadi wadah informasi kolektif: orang-orang saling berbagi info beasiswa, lowongan kerja luar negeri, kursus bahasa asing, hingga kiat lolos sponsorship internasional.

Di TikTok, konten dengan tagar ini mencapai lebih dari 18 juta views per Mei 2025. Di Instagram, akun seperti @infobesiswaluarnegeri, @workabroad.id, atau @kerjadijepang dibanjiri komentar warganet yang haus akan jalan keluar.

Apa yang awalnya dianggap “lelucon viral” justru memuat pesan yang lebih dalam: banyak anak muda merasa tidak punya masa depan di negerinya sendiri.

Karena Bertahan di Sini Butuh Nafas Panjang

Salah satu isu yang memperparah rasa frustasi ini adalah akses terhadap keadilan sosial yang timpang. Contohnya, saat media sosial diramaikan dengan kasus penerima KIP Kuliah yang justru memamerkan gaya hidup mewah—iPhone terbaru, liburan mahal, dan nongkrong di kafe setiap minggu. Netizen geram. Bukan soal iri, tapi karena banyak mahasiswa benar-benar miskin justru gagal lolos beasiswa.

“Kami yang makan satu kali sehari, jalan kaki ke kampus, ditolak KIP. Tapi yang foya-foya malah lolos,” tulis salah satu komentar yang viral di TikTok.

Kondisi ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya soal ekonomi, tapi tentang keadilan yang tak merata dan sistem seleksi yang cacat. Ketika peluang hidup layak terasa makin sempit, “kabur” bukan lagi dianggap sebagai pengkhianatan, tapi sebagai bentuk bertahan.

Sulitnya Mencari Kerja dan Janji yang Menguap

Selain soal pendidikan, problematika mencari pekerjaan menjadi beban berat generasi muda. Di tengah janji pemerintah menciptakan 19 juta lapangan kerja, realitas di lapangan justru jauh dari harapan. Banyak yang terjebak dalam pekerjaan kontrak tanpa kepastian, upah minim, dan persaingan ketat tanpa peluang nyata untuk berkembang.

Ironisnya, di saat rakyat bergelut dengan kesulitan itu, ada pejabat yang dengan enteng menyebut mereka “kufur nikmat” karena masih mengeluh. Sindiran yang menampar rasa malu, padahal faktanya janji-janji besar yang dilontarkan pemerintah masih jauh dari realisasi.

Sementara itu, kasus korupsi besar yang menyeret pejabat tinggi dengan fasilitas mewah dan gaya hidup boros semakin memperparah kekecewaan. Ketika sumber daya negara dikorupsi dan tidak dialokasikan untuk kesejahteraan rakyat, kepercayaan terhadap pemerintah kian terkikis.

Krisis Kepercayaan: Ketika Negara Tak Lagi Hadir

Lebih dalam lagi, tagar ini adalah gejala dari krisis kepercayaan. Ketika pejabat publik berbicara tanpa empati, ketika sistem pendidikan gagal menjangkau yang miskin, ketika gaji minimum tak cukup untuk hidup layak, maka yang muncul adalah frustrasi kolektif.

Dalam demokrasi, pemimpin tak cukup hanya bekerja—mereka juga harus bisa mendengar. Tapi saat suara rakyat justru disambut dengan sindiran, ruang-ruang digital berubah menjadi tempat pelarian dan perlawanan. Sebuah studi Katadata pada Maret 2025 mencatat: 62% anak muda ingin kerja atau tinggal di luar negeri, mayoritas karena merasa tak punya masa depan di Indonesia.

Penutup: Harapan yang Tak Boleh Dibiarkan Mati

Fenomena #KaburAjaDulu bukan sekadar tren digital. Ia adalah refleksi luka sosial yang belum sembuh, hasil dari sistem yang gagal memberi rasa aman, adil, dan masa depan. Dan ketika negara tak hadir, media sosial menjadi tempat mengadu sekaligus mencari harapan.

Tagar ini bukan hanya tentang ingin pergi, tapi tentang ingin hidup lebih layak. Ini bukan soal lari dari tanggung jawab, tapi soal mencari ruang bernapas ketika bertahan terasa seperti siksaan diam-diam.

“Orang tidak kabur dari negaranya karena benci, tapi karena terlalu cinta dan terlalu sakit melihatnya hancur perlahan.”

Sebelum makin banyak yang memilih pergi, mungkin saatnya negara bertanya: apa yang telah kita abaikan selama ini?