Mengapa Cinta Ibu Terlalu Dingin?

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Nisrina Ismah Rafifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kita hidup di era yang sangat bising. Hari ini, cinta seolah-olah wajib divalidasi lewat kata-kata manis di media sosial, pelukan hangat yang dipamerkan atau ucapan "aku sayang kamu" yang diulang-ulang. Kita selalu menuntut ungkapan kata-kata untuk membuktikan bahwa rasa itu ada. Namun, benarkah kasih sayang hanya sah jika di ucapkan?
Sastra selalu punya cara tersendiri untuk memutarbalikkan cara pandang kita terhadap realita. Lewat cerpen Daftar Belanja Mamak karya Fri Yanti yang terbit di Kompas (20 Maret 2026), kita diajak melihat ke dalam sebuah rumah sunyi. Di sana, seorang ibu memilih untuk menyembunyikan seluruh rasa sayangnya bukan lewat kata-kata, melainkan dalam kesunyian tinta pulpen di atas kertas belanja.
Lewat sudut pandang Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya Teori Pengkajian Fiksi, Saya ingin mengajak kalian melihat bagaimana karakter atau penokohan "Mamak" dihidupkan dengan begitu indah hingga mampu membuat air mata kita menetes tanpa sadar.
Mamak Sosok Manusia Nyata yang Bukan Sekadar Hitam-Putih
Dalam dunia cerita, kita mengenal dua jenis sifat tokoh. Teori Nurgiyantoro menyebutkan bahwa Ada tokoh sederhana yang wataknya cenderung datar serta itu-itu saja dan ada tokoh bulat yang sifatnya lebih hidup. Tokoh yg memiliki banyak sisi kepribadian sehingga pembaca tidak bisa menilai dia hanya baik atau hanya jahat. Manusia di dunia nyata adalah contoh nyata dari tokoh bulat ini. Kita semua punya ketakutan, ego, cinta, sekaligus kelemahan yang saling bergolak di dalam diri.
Menurut pendapat Saya, sosok Mamak dalam cerpen ini dapat masuk ke kategori tokoh bulat, tokoh Mamak tersebut digambarkan sebagai tokoh bulat karena memiliki kepribadian yang kompleks. Pada awal cerita ia tampak keras dan membatasi anaknya, tetapi dibalik sikap itu ternyata tersimpan kasih sayang yang selama ini ia sembunyikan. Kompleksitas inilah yang membuat tokoh mamak terasa hidup. Hal ini terlihat jelas dari potongan percakapan yang menunjukkan betapa kaku dirinya, yaitu:
"Cukup abang-abangmu saja yang kuliah di luar Sumatera,"
"Mengapa abang-abang bisa, aku tidak bisa?"
"Karena kau perempuan!"
kalimat-kalimat Mamak yang membekas sebagai luka di batin Arini. Ucapan itu seolah mempertegas sosok Mamak sebagai orang tua kaku yang masih memegang erat pandangan kuno tentang batasan peran perempuan. Perselisihan ini bahkan membuat Arini nekat pergi ke Yogyakarta demi bisa mandiri, tanpa mau meminta bantuan sepeser pun dari ibunya.
Namun, di sinilah letak indahnya karakter yang kaya warna ini. Burhan Nurgiyantoro menyebutkan bahwa karakter yang memiliki banyak sisi seperti ini selalu menyimpan kejutan bagi pembacanya dan benar saja, kejutan tak terduga itu akhirnya datang ketika Mamak berpulang.
Saat Arini pulang dan membuka laci meja tulis usang peninggalan ayahnya, ia menemukan sebuah buku catatan bersampul batik liris. Buku itu berisi daftar belanja bulanan Mamak dari tahun 2014 hingga 2018 persis pada masa-masa Arini melakukan "pemberontakan" di tanah rantau.
Di balik coretan belanja dapur yang tampak biasa, terselip catatan-catatan sunyi:
"Sepatu kuliah untuk Arini melalui Boni, lima setel baju kuliah Arini melalui Boni, minyak param untuk Arini melalui Boni, uang saku untuk Arini melalui Boni"
Bahkan, ada sebuah catatan kaki pada Mei 2016 yang begitu getir sekaligus manis:
"Pastikan Krisman tidak bilang ke Arini kalau Ikan Mas Arsik itu bikinanku. Pastikan juga sepatu gunung untuk Arini sudah dia pakai."
Seketika, persepsi Kita dan Arini runtuh. Mamak yang selama ini tampak keras di luar, ternyata menyimpan kelembutan batin yang luar biasa di balik lembar-lembar kertas usang.
Seni "Menunjukkan," Bukan "Menceritakan"
Cerita ini begitu menyesakkan dada. Alih-alih langsung menceritakan sifat tokohnya secara blak-blakan, Fri Yanti memilih cara yang lebih halus, yaitu membiarkan kita menebak sendiri watak tokoh lewat tindakan dan dialog mereka. Nurgiyantoro sempat menjelaskan bahwa jika penulis mendeskripsikan secara langsung, mereka akan langsung menjabarkan sifat tokoh secara tertulis, misalnya:
"Mamak sebenarnya sangat menyayangi Arini.”
Teknik ini sering kali terasa kering dan menceramahi. Sebaliknya, Fri Yanti menggunakan teknik dramatik yang jauh lebih memikat melalui cara pembaca yang tidak pernah diberitahu secara langsung bahwa mamak adalah sosok yang penyayang. Penulis justru membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri lewat tindakan-tindakan kecil seperti mengirim uang, makanan, dan perlengkapan kuliah melalui orang lain. Cara inilah yang membuat pengungkapan karakter terasa lebih alami.
Watak sejati Mamak terlihat dari kerja kerasnya membeli kain "monza" di Tanjung Balai, membuka butik, hingga meminjam uang ke bank demi pendidikan anaknya. Nurgiyantoro menyebut dokumen pribadi sebagai jendela batin tokoh. Dokumen pribadi ini berfungsi sebagai media tidak langsung, sehingga di akhir cerpen, rahasia hati Mamak terbongkar sepenuhnya lewat catatan kecilnya:
"Arini, boruku, kalau kau tahu sejengkal saja isi hati Mamak, Nak. Seumur hidup Mamak hanya dikelilingi lelaki. Saudara lelaki Mamak telah berpulang dan beliau tidak memiliki saudara perempuan. Itu sebabnya Mamak bersukacita begitu mengetahui kau terlahir sebagai perempuan. Dia bisa menjadi teman curhatku kelak, begitu pikir Mamak. Begitu Mamak mendengar kau akan ke Yogya, beliau mendadak sedih. Mamak akan merasa sepi meskipun bertetangga dengan Uda Krisman dan istrinya."
Kalimat ini menggambarkan kerapuhan, kesepian, dan kerinduan seorang ibu yang mendambakan pelukan anak perempuannya. Keberhasilan karakter Mamak juga divalidasi oleh runtuhnya pertahanan emosional Arini. Ketika Arini menangis sejadi-jadinya saat membaca daftar belanja tersebut, pembaca ikut merasakan kesedihan yang sama. Dinding kemarahan bertahun-tahun runtuh hanya oleh beberapa baris tulisan tangan.
Cermin Ibu-Ibu di Sekitar Kita
Kekuatan terbesar dari cerpen ini adalah penggambaran karakternya yang terasa sangat nyata, hidup, dan mirip dengan keseharian kita. Tokoh Mamak terasa sangat dekat karena ia adalah cerminan dari kebudayaan kita sendiri. Di ranah masyarakat Sumatra Utara, maupun kebudayaan Timur pada umumnya, figur orang tua yang mengekspresikan cinta lewat tindakan praktis seperti memastikan anak kenyang, membelikan baju, mengirim uang saku jauh lebih sering kita jumpai ketimbang figur yang terbiasa mengucapkan "I love you". Mamak adalah gambaran nyata dari jutaan ibu di sekitar kita. Ibu yang mungkin sering kita salahkan karena ucapan kasarnya, namun tanpa kita sadari, nama kita selalu berputar-putar di dalam kepala, doa sunyi, dan peluh perjuangan mereka yang tidak pernah mereka pamerkan.
Melalui telaah sastra ini, akhirnya kita memahami bahwa "Daftar Belanja Mamak" bukan sekadar cerita perasaan seseorang tentang penyesalan setelah kehilangan. Lebih dalam dari itu, cerpen ini adalah sebuah pencapaian keindahan yang membuktikan bahwa sastra yang dimanfaatkan dengan baik, dapat berhasil merekam karakter kemanusiaan yang paling murni bahwa cinta sejati terkadang memang tidak butuh suara, ia hanya butuh ditulis dalam diam, lalu dibaca dengan penghayatan penuh.
Daftar Pustaka
Nurgiyantoro, Burhan. (2009). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Yanti, Fri. (2026, 20 Maret). "Daftar Belanja Mamak." Kompas.id.
