Pegambus Legendaris Gorontalo Tiga Tahun Menahan Sakit

BANTHAYO.ID,GORONTALO - Matahari begitu terik, saat saya menyusuri lorong di Dusun II, Desa Buhu, Kecamatan Talaga Jaya, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (27/7).
Butuh waktu satu menit saya menyusuri lorong itu. Tibalah saya di rumah berukuran 4 x 5 meter persegi. Rumah itu milik pegambus dan pantun legendaris di Gorontalo. Namanya Risno Ahaya (55).
Tinggal di rumah sederhana, pelestari budaya itu dalam kondisi memprihatinkan. Badannya kurus. Ia duduk di ruang tamu saat saya menyambanginya. Sesekali ia menggumam tak jelas.
Menurut istrinya, Astin Yunus (44), Risno sudah tiga tahun dalam kondisi sakit. Sakitnya bermula saat Risno pulang dari undangan warga yang ingin menyaksikan ia memainkan gambus dan pantun.
Astin sudah dua kali membawa Risno ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Tombulilato. Hasilnya nihil. Tak ada perubahan yang dialami Risno.
"Dokter mengatakan tak ada penyakit, padahal Risno sering berontak dan teriak. Terpaksa kami harus mengikat tangannya," kata Astin.
Keluarganya juga sering memberikan obat penenang agar Risno tak berontak. Dalam sehari bisa dua kali. Belakangan pemberian obat sudah dihentikan karena kondisi Risno yang mulai diam. Namun kakinya membengkak.
Risno juga tidak lagi mengenal orang-orang di sekitarnya. Bahkan istrinya sendiri. Kini, tulang punggung keluarga itu tak mampu lagi mencari nafkah.
Dahulu, sebelum Risno sakit, ia bisa mencukupi kebutuhan keluarga dari memainkan gambus di pasar dan menghadiri undangan warga. Kini, tinggal istrinya yang harus banting tulang. Astin, sesekali mencuci pakaian tetangga. Upah itu yang dipakai untuk kebutuhan harian.
Rinso dan Astin memiliki empat orang anak. Tiga sudah menikah. Satu lagi masih duduk di bangku sekolah. Si bungsu terpaksa dititipkan kepada orang lain karena Astin tak sanggup lagi membiayai anaknya.
Sementara itu, Hasan (26) warga sekitar merasa prihatin dengan kondisi Risno.
"Kami ingin membantu. Kami juga berharap ada pemerintah yang ikut membantu," imbuhnya.
----
Reporter : Rahmat Ali, Mirna Ahaya
Editor : Febriandy Abidin
