Konten dari Pengguna

Peran Manusia di Era AI: Bukan Sekadar Mencari Pekerjaan yang Tersisa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bayu Istantoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi peran manusia di era AI ketika pekerjaan berubah dan tujuan menjadi semakin penting. Dibuat dengan AI ChatGPT/DALL·E, 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi peran manusia di era AI ketika pekerjaan berubah dan tujuan menjadi semakin penting. Dibuat dengan AI ChatGPT/DALL·E, 2026.

Peran manusia di era AI sering dibahas dengan mencari pekerjaan apa yang masih terlalu sulit dilakukan mesin. Selama AI belum memiliki kreativitas, empati, critical thinking, atau judgment seperti manusia, kita merasa masih memiliki wilayah yang aman. Namun cara berpikir ini memiliki kelemahan: relevansi manusia selalu didefinisikan dari keterbatasan teknologi. Setiap kali AI menjadi lebih mampu, daftar pekerjaan atau kemampuan yang dianggap khusus milik manusia kembali menyempit.

Perkembangan AI membuat pertanyaan itu semakin sulit dihindari. Teknologi tidak lagi hanya mengambil alih pekerjaan fisik atau aktivitas administratif, tetapi mulai membantu menulis, membuat kode, menganalisis data, merancang gambar, membaca dokumen, menyusun rekomendasi, hingga menjalankan beberapa langkah pekerjaan secara mandiri. Karena itu, mungkin pertanyaan mengenai peran manusia di era AI perlu diubah. Bukan lagi pekerjaan apa yang pasti tidak akan pernah bisa dilakukan AI, tetapi mengapa manusia sejak awal berada di dalam sistem ekonomi dan organisasi.

Karena itu, mungkin kita perlu berhenti mencari satu kemampuan yang pasti tidak akan pernah bisa dilakukan AI. Perlombaan seperti itu membuat relevansi manusia selalu didefinisikan dari kelemahan mesin. Setiap kali teknologi bertambah mampu, wilayah manusia menjadi semakin sempit.

Pertanyaan yang lebih menarik adalah: mengapa sejak awal manusia perlu ada di dalam sebuah sistem ekonomi atau organisasi?

Peran Manusia di Era AI Tidak Berarti Mempertahankan Semua Pekerjaan

Kita perlu mengakui sesuatu yang terkadang tidak nyaman. Jika sebuah pekerjaan dapat dilakukan mesin dengan lebih cepat, lebih murah, dan cukup baik, tidak ada alasan ekonomi yang kuat untuk mempertahankan proses manual hanya agar manusia tetap memiliki sesuatu untuk dikerjakan.

Jika rekonsiliasi dapat berjalan otomatis, tidak ada nilai khusus dalam mempertahankan seseorang untuk mencocokkan ribuan transaksi secara manual. Jika laporan rutin dapat disusun sistem setiap pagi, membuat orang menghabiskan beberapa jam hanya untuk memindahkan angka bukan bentuk perlindungan terhadap martabat manusia. Jika AI dapat membuat draf pertama dalam satu menit, tidak ada alasan menjadikan halaman kosong sebagai ritual yang harus tetap dilakukan.

Teknologi memang seharusnya menghilangkan pekerjaan yang tidak lagi perlu dikerjakan manusia. Kita tidak harus menciptakan kesulitan buatan agar manusia terasa berguna.

Tetapi konsekuensinya perlu diterima secara serius. Orang yang seluruh nilainya berasal dari melakukan satu aktivitas yang kini dapat direplikasi teknologi memang menghadapi persoalan relevansi. Pengalaman sepuluh tahun melakukan sebuah proses tidak otomatis bernilai tinggi jika proses tersebut dapat dilakukan mesin dalam beberapa detik.

Di sinilah percakapan mengenai masa depan pekerjaan sering terlalu cepat menjadi optimistis. Kita mengatakan bahwa AI akan “membebaskan manusia untuk pekerjaan bernilai lebih tinggi”, seolah pekerjaan bernilai lebih tinggi itu otomatis tersedia dan semua orang otomatis mampu berpindah ke sana. Padahal perpindahan tersebut membutuhkan kemampuan baru, kesempatan baru, dan sering kali perubahan pada desain organisasi itu sendiri.

Relevansi manusia bukan hadiah otomatis dari kemajuan teknologi.

Peran Manusia di Era AI Bukan Sekadar Mencari Aktivitas Baru

Selama ini kita cenderung mendefinisikan pekerjaan melalui aktivitas. Analis menganalisis. Penulis menulis. Programmer membuat kode. Desainer membuat desain. Ketika AI mulai mampu melakukan aktivitas tersebut, profesinya kemudian dianggap terancam.

Namun aktivitas sebenarnya hanyalah cara untuk menghasilkan sesuatu yang dianggap bernilai.

Seorang dokter bukan dibutuhkan karena masyarakat membutuhkan seseorang untuk menulis diagnosis. Yang dibutuhkan adalah kesehatan. Finance tidak ada karena perusahaan membutuhkan spreadsheet. Perusahaan membutuhkan pemahaman mengenai kondisi ekonominya agar dapat mengambil keputusan. Customer service bukan tujuan; pelanggan membutuhkan persoalannya diselesaikan.

Begitu aktivitas dan tujuan dipisahkan, pertanyaannya berubah. Jika AI mengambil alih sebagian besar aktivitas, manusia tidak harus mencari aktivitas baru hanya untuk tetap sibuk. Kita perlu melihat siapa yang menentukan hasil seperti apa yang sebenarnya diinginkan dan siapa yang hidup dengan konsekuensi dari hasil tersebut.

Bayangkan sebuah AI mampu menghitung struktur tenaga kerja paling efisien untuk perusahaan. Ia dapat menunjukkan jumlah pegawai optimal, lokasi yang sebaiknya ditutup, pekerjaan yang dapat diotomatisasi, serta penghematan yang akan dihasilkan. Analisisnya mungkin bahkan lebih baik daripada manusia.

Namun “paling efisien” belum menyelesaikan seluruh persoalan. Apakah perusahaan ingin mengoptimalkan laba kuartal berikutnya, kemampuan jangka panjang, kualitas pelayanan, stabilitas tenaga kerja, atau kombinasi semuanya? Berapa banyak risiko yang bersedia diterima? Dampak terhadap siapa yang dianggap cukup penting untuk masuk ke dalam keputusan?

Tidak ada jawaban teknis yang berdiri di luar pilihan mengenai apa yang dianggap bernilai.

AI dapat membantu membuat pilihan tersebut semakin terinformasi. Pada titik tertentu bahkan mungkin mampu merekomendasikan pilihannya sendiri. Namun rekomendasi selalu berangkat dari sesuatu yang hendak dioptimalkan. Di balik setiap sistem tetap ada pertanyaan normatif: hasil seperti apa yang kita anggap baik?

Manusia Bukan Hanya Pekerja di Dalam Sistem

Di sinilah saya melihat kesalahan lain dalam pertanyaan “kalau semua dikerjakan AI, manusia buat apa?”

Pertanyaan itu memperlakukan manusia hanya sebagai faktor produksi.

Seolah alasan utama manusia berada di perusahaan adalah karena perusahaan membutuhkan tangan dan otaknya untuk menyelesaikan pekerjaan. Kalau mesin sudah mampu menggantikannya, manusia menjadi komponen yang berlebihan.

Padahal ekonomi dan organisasi pada akhirnya dibangun untuk manusia juga. Manusia bukan hanya pekerja yang memproduksi barang dan jasa. Manusia adalah pelanggan yang menginginkannya, pemilik yang menanamkan modal, masyarakat yang menanggung dampaknya, warga yang menetapkan aturan, dan individu yang mempunyai kebutuhan serta preferensi mengenai bagaimana kehidupan seharusnya dijalani.

Jika suatu hari AI mampu mengoperasikan sebuah restoran hampir sepenuhnya secara otomatis, pertanyaan terakhir restoran tersebut tetap bukan “bagaimana mesin bisa terus bekerja?”, melainkan apakah ada manusia yang ingin makan di sana dan pengalaman seperti apa yang mereka inginkan. Jika sebuah perusahaan dapat dijalankan oleh sistem yang sangat otonom, perusahaan tersebut tetap harus menciptakan sesuatu yang dianggap bernilai oleh seseorang.

Dengan kata lain, manusia tidak hanya berada di dalam sistem sebagai tenaga kerja. Manusia juga berada di luar sistem sebagai alasan mengapa sistem tersebut ada.

Perbedaan ini menjadi semakin penting jika AI benar-benar mengurangi kebutuhan terhadap tenaga manusia dalam produksi. Kita mungkin harus memikirkan ulang hubungan yang selama ini terlalu kuat antara pekerjaan dan nilai manusia. Jika produktivitas suatu hari dapat dihasilkan dengan jauh lebih sedikit tenaga kerja, persoalannya tidak hanya “pekerjaan baru apa yang akan muncul?”, tetapi juga bagaimana manfaat produktivitas tersebut dibagikan dan bagaimana seseorang memperoleh tempat dalam ekonomi ketika kontribusi produktif tradisionalnya semakin sedikit dibutuhkan.

Itu pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar reskilling.

AI Mengubah Tempat Manusia Menciptakan Nilai

Dalam jangka lebih dekat, tentu manusia masih akan bekerja. Namun komposisi nilainya kemungkinan berubah.

Ketika membuat output menjadi semakin murah, sekadar mampu menghasilkan output menjadi semakin kurang langka. AI dapat membantu membuat laporan, kode, gambar, analisis, dan tulisan dalam jumlah hampir tak terbatas. Kelangkaannya berpindah ke kemampuan mengetahui output mana yang sebenarnya dibutuhkan.

Seorang analis mungkin menghasilkan lebih sedikit tabel tetapi lebih banyak waktu digunakan untuk memahami bisnis. Seorang programmer mungkin menulis lebih sedikit baris kode sendiri tetapi semakin banyak menentukan arsitektur, kebutuhan pengguna, dan apakah sistem benar-benar menyelesaikan persoalan. Seorang penulis dapat menggunakan AI untuk menghasilkan draf, tetapi nilainya berada pada gagasan, sudut pandang, seleksi, kritik, dan keberanian membuang paragraf yang terdengar bagus tetapi sebenarnya kosong.

Artikel ini sendiri dibuat dengan bantuan AI. Itu tidak membuat proses berpikir menjadi tidak diperlukan. Justru karena mesin dapat menghasilkan seribu kata dengan sangat mudah, bagian yang semakin penting adalah membaca kembali dan bertanya: apakah ini benar-benar mengatakan sesuatu? Apakah argumennya hanya terdengar pintar? Apa yang generik? Apa yang terlalu mudah? Apakah saya sendiri percaya pada kesimpulannya?

Kemudahan menghasilkan sesuatu membuat kemampuan untuk menolak hasil yang medioker semakin berharga.

Bukan karena manusia secara ajaib selalu mempunyai judgment yang lebih baik. Manusia juga bias, ceroboh, dan sering salah. Tetapi manusia yang menggunakan AI tanpa menyerahkan proses berpikirnya memiliki sesuatu yang berbeda dari sekadar pengguna mesin: ia memiliki posisi terhadap hasil yang dihasilkan.

Ia tidak hanya bertanya, “Bisakah AI mengerjakan ini?”

Ia bertanya, “Apakah ini layak dikerjakan seperti ini?”

Peran Manusia di Era AI Tidak Ditentukan oleh Siapa yang Lebih Hebat

Mungkin kita memang perlu berhenti mencari satu keterampilan terakhir yang akan menyelamatkan manusia dari AI. Jika sejarah teknologi mengajarkan sesuatu, kemampuan mesin akan terus berubah dan batas antara pekerjaan manusia dan mesin akan terus bergerak.

Karena itu, strategi “cari pekerjaan yang tidak bisa dilakukan AI” terasa rapuh.

Yang lebih masuk akal adalah membangun kemampuan untuk terus berpindah tingkat: dari melakukan pekerjaan menjadi memahami pekerjaan, dari menghasilkan output menjadi menilai output, dari mengikuti proses menjadi memperbaiki proses, dan dari menerima tujuan menjadi mampu mempertanyakan tujuan.

Tidak semua orang akan otomatis berhasil melakukan perpindahan tersebut. Sebagian pekerjaan mungkin benar-benar hilang. Sebagian profesi akan mengecil. Sebagian kemampuan yang sekarang kita banggakan mungkin menjadi biasa saja. Kita sebaiknya tidak menutupi kemungkinan itu dengan slogan bahwa manusia akan selalu diperlukan.

Namun relevansi manusia juga tidak harus bergantung pada adanya daftar tugas yang masih terlalu sulit bagi AI.

Jika suatu hari mesin dapat melakukan hampir semua cara yang kita gunakan untuk mencapai sesuatu, manusia justru perlu semakin serius pada pertanyaan yang selama ini mudah tenggelam di tengah kesibukan:

Apa sebenarnya yang layak kita capai?

Mungkin di situlah pertanyaannya berubah.

Bukan lagi pekerjaan apa yang tersisa untuk manusia setelah AI mengambil alih?

Melainkan apa yang ingin manusia lakukan dengan kemampuan yang sekarang tidak lagi harus dikerjakan sendirian?