Makna Sosial Shalat Berjamaah

Saya bekerja di Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Memiliki latar belakang pendidikan di bidang hukum dan saat ini aktif mengembangkan kemampuan menulis di berbagai media.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Bayu Susena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap hari, ratusan mahasiswa berbaris rapat di masjid kampus. Apakah barisan itu ikut membentuk cara mereka memperlakukan sesama? Bayangkan kampus menjelang waktu Zuhur. Di ruang kelas, ada yang masih menyelesaikan presentasi. Di selasar, ada yang berbincang dan tertawa. Di perpustakaan, ada yang menutup laptop dengan tergesa. Lalu azan berkumandang dari Masjid Kampus. Satu per satu mereka berjalan ke arah yang sama, berwudu, mengenakan mukena atau sarung, dan masuk ke dalam saf. Dalam beberapa menit, orang-orang yang tadi sibuk dengan urusannya masing-masing sudah berdiri berdampingan, bahu bertemu bahu, menghadap kiblat yang sama.
Bagi sivitas akademika kampus pemandangan ini begitu lazim sehingga jarang dipikirkan lebih jauh. Padahal masjid ini melayani ribuan mahasiswa dan ratusan dosen serta tenaga kependidikan, dan dimaksudkan bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat kegiatan keislaman dan pendidikan karakter. Maka muncul pertanyaan sederhana yang tidak mudah dijawab, apakah kebiasaan berbaris bersama itu benar-benar memengaruhi cara kita bergaul?
Dalam ajaran Islam, shalat bukan semata urusan pribadi dengan Tuhan. Al-Qur’an menyebut bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Pesan ini lazim dipahami sebagai ukuran akhlak. Shalat yang sungguh-sungguh semestinya membuat seseorang makin baik, bukan hanya kepada Tuhan, tetapi juga kepada sesama manusia.
Shalat berjamaah punya tempat istimewa. Shalat berjamaah lebih utama 27 derajat daripada shalat sendirian. Rukuklah bersama orang-orang yang rukuk, isyarat bahwa ibadah ini memang dirancang sebagai kegiatan bersama.
Keutamaan itu tidak hanya soal pahala. Cara berjamaah dijalankan sarat dengan praktik sosial. Jamaah diminta merapatkan saf sampai tak ada celah, dan saf yang kosong harus diisi. Siapa pun boleh berdiri di saf depan, tanpa memandang kaya atau miskin, dosen atau mahasiswa, guru besar atau asisten ahli, pegawai tetap atau kontrak, senior atau mahasiswa baru, pintar atau biasa-biasa saja. Selesai shalat, banyak jamaah bersalaman. Tidak ada ceramah panjang dan tidak ada ujian. Yang ada hanya kebiasaan berdiri sejajar, saling memberi ruang, saling menunggu, dan saling menyapa. Sebagian orang menyebutnya “latihan sosial” yang diulang setiap hari.
Di banyak lingkungan pendidikan seperti kampus, dosen dan orang tua mengeluhkan tentang mahasiswa yang makin individualistis, kurang peka pada teman, mudah membentuk kelompok tertutup, dan canggung untuk saling menyapa. Ada yang tidak bersalaman ketika bertemu dosennya. Ada yang masih asyik dengan gawainya ketika azan berkumandang. Ada pula kelompok pertemanan yang terbentuk karena kesamaan daerah asal, bahasa, atau organisasi sehingga terkesan eksklusif.
Ini bukan potret yang aneh atau memalukan. Siapa pun yang pernah tinggal di asrama, kos, atau kantor tahu bahwa kelompok kecil pasti terbentuk, sebab manusia cenderung mencari yang serupa. Yang menjadi soal adalah ketika kelompok itu mengeras menjadi sekat dan kepedulian pada orang di luar lingkaran menipis.
Jika shalat berjamaah dijalankan setiap hari dan memang membawa nilai kebersamaan, semestinya jejaknya terlihat pada perilaku sosial para jamaahnya. Namun, apakah itu benar, atau hanya harapan yang terdengar indah?
Kita bisa melihat seberapa rutin mahasiswa berjamaah di masjid, apakah bersiap saat azan, apakah merapatkan saf, apakah datang karena kesadaran sendiri atau karena tuntutan, dan apakah ada yang kerap mencari alasan untuk tidak ikut. Dari sisi sosial, kita bisa melihat apakah mereka terbiasa membantu teman, santun kepada dosen dan orang tua, bergaul tanpa memandang status, menaati aturan, terlibat dalam kegiatan kampus dan masyarakat, serta terhindar dari kecenderungan pamer, mengolok-olok teman, atau menyelesaikan masalah dengan cara yang kasar.
Kesetaraan yang dialami, bukan dihafal. Di dalam saf tidak ada kursi kehormatan. Mahasiswa dari kota besar dan dari desa, anak pejabat dan anak petani, berdiri berdampingan, dan siapa yang datang lebih dulu mendapat tempat lebih depan. Pengalaman berdiri sejajar secara fisik, berulang kali, dapat menanamkan rasa bahwa semua orang punya kedudukan yang sama.
Latihan memberi ruang. Ketika imam meminta jamaah merapatkan saf, setiap orang menggeser sedikit dan memastikan tidak ada celah. Itu latihan kecil untuk peka pada orang di sekitar. Orang yang terbiasa menggeser kaki untuk memberi tempat pada sesamanya mungkin lebih mudah memberi ruang dalam diskusi kelompok, dalam antrean, atau dalam lingkaran pertemanan.
Disiplin pada kepentingan bersama. Waktu shalat tidak bisa ditawar. Mahasiswa belajar bahwa ada kepentingan bersama yang tidak boleh dikalahkan oleh kesenangan pribadi. Disiplin ini, bila tumbuh, ikut memengaruhi cara mereka mengerjakan tugas kuliah dan tugas organisasi, menaati aturan, dan menepati janji.
Rasa memiliki. Orang yang terbiasa menjadi bagian dari barisan cenderung tidak merasa terasing. Bagi mahasiswa rantau yang jauh dari keluarga, saf bisa menjadi tempat pertama mereka merasa diterima. Rasa diterima biasanya membuat orang lebih mudah bersikap terbuka dan peduli.
Keakraban dari seringnya bertemu. Ini mungkin yang paling sederhana. Orang yang bertemu setiap hari dan berdiri berdampingan beberapa kali sehari punya lebih banyak kesempatan saling mengenal. Seperti banyak hal dalam kehidupan sosial, keakraban tumbuh dari seringnya bertemu.
Nilai kebersamaan, kepedulian, dan kesetaraan tidak akan melekat bila ibadah hanya dijalani sebagai formalitas. Bila berjamaah hanya soal hadir dan absen, wajar kalau dampak sosialnya terbatas. Itulah mengapa niat dan kesadaran menjadi kunci. Mahasiswa yang berjamaah dengan ikhlas, bukan karena takut sanksi atau sekadar mengejar daftar hadir.
Pekerjaan rumah yang lebih halus daripada sekadar menegakkan jadwal. Ada tiga hal dapat dicoba:
Keteladanan. Dosen dan pimpinan ikut berjamaah dan berdiri di saf yang sama dengan mahasiswa. Keteladanan lebih cepat ditiru daripada imbauan.
Ruang untuk saling menyapa. Beri waktu beberapa menit setelah shalat untuk berdiskusi, bertanya kabar, atau berkenalan dengan jamaah di sebelah. Kehadiran fisik saja tidak cukup, orang bisa berdiri di samping orang lain tanpa benar-benar bertemu.
Menyambungkan ibadah dengan kepedulian. Kegiatan seperti kajian ringan, kerja bakti, kegiatan sosial, atau program pendampingan mahasiswa baru dapat berangkat dari masjid, sehingga ibadah vertikal dan akhlak sosial dijahit menjadi satu. Dalam ajaran yang sama, keduanya memang tidak dipisahkan.
Kebiasaan kecil yang dilakukan bersama-sama punya kekuatan membentuk. Kita sering mencari program besar untuk menumbuhkan karakter, padahal rutinitas sederhana yang konsisten, shalat berjamaah bisa lebih berpengaruh. Semuanya bekerja dengan logika yang sama dengan berdiri dalam satu barisan.
Kembali ke kampus tadi. Setelah salam terakhir, para mahasiswa bisa saling sapa antar jamaah lalu kembali ke kelas, perpustakaan, atau organisasi masing-masing. Besok, pada waktu yang sama, mereka akan berbaris lagi.
Mungkin itu pelajaran yang paling berharga. Kebersamaan tidak lahir dari satu peristiwa besar, tetapi dari kebiasaan kecil yang diulang dengan niat baik. Semangat itu terasa dekat dengan pesan satu saf yang rapat, asalkan kita mau menggeser sedikit tempat berdiri, dan memastikan tidak ada yang tertinggal di luar barisan.
