Konten dari Pengguna

Apa Efek Trickle-Down Economics yang Diharapkan pada Rumah Tangga Kelas Bawah?

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi membahas apa efek trickle-down economics yang diharapkan pada rumah tangga kelas bawah. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi membahas apa efek trickle-down economics yang diharapkan pada rumah tangga kelas bawah. Foto: Pexels

Perbincangan mengenai apa efek trickle-down economics yang diharapkan pada rumah tangga kelas bawah menjadi topik hangat di tengah masyarakat Indonesia. Istilah ini menjadi populer usai disinggung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Presiden mengkritik teori ekonomi neoliberal, terutama pada konsep trickle-down effect. Konsep ini didasarkan pada asumsi bahwa keuntungan ekonomi yang diterima oleh kelompok atas akan mengalir ke masyarakat lapisan terbawah.

Lantas, dalam teori trickle-down economics, efek apa yang diharapkan terjadi pada pendapatan rumah tangga kelas bawah?

Apa itu Trickle-Down Economics?

Ilustrasi mengenal apa itu trickle-down economics. Foto: Pexels

Berdasarkan jurnal Trickle-Down Economics Arthur Lewis dan Ekonomi Pembangunan Wisata Gunung Bromo di Desa Ngadisari, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur Tahun 2017-2018 karya Renny Candradewi Puspitarini dan Isrofiatul Anggraini, teori trickle-down economics sempat mendulang popularitas tinggi.

Konsep ini pernah menjadi ikon kebijakan perekonomian di masa pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Ronald Reagan pada 1980-an. Oleh sebab itu, kebijakan ekonomi tersebut sangat akrab dikenal sebagai Reaganomics.

Strategi ekonomi yang menjadi pokok utama dari kebijakan Reaganomics adalah supply-side economics, yang mengadopsi prinsip kerja teori trickle-down economics. Teori ini mendorong adanya pertumbuhan pada pengeluaran pemerintah, pemotongan pajak pendapatan federal, dan pajak pendapatan modal.

Selain itu, kebijakan trickle-down economics berfokus pada pengendalian regulasi pemerintah yang tidak perlu dan memperketat pasokan uang untuk menekan laju inflasi.

Apa Efek Trickle-Down Economics yang Diharapkan pada Rumah Tangga Kelas Bawah?

Teori trickle-down economics berasumsi bahwa kebijakan ekonomi yang memihak pemilik modal dan kelas atas nantinya akan membawa dampak positif bagi masyarakat luas.

Berikut adalah beberapa efek yang diharapkan dapat dirasakan oleh rumah tangga kelas bawah melalui konsep ekonomi ini:

1. Terbukanya Lapangan Kerja Baru

Pemotongan pajak bagi korporasi dan kelompok orang kaya diharapkan dapat mendorong peningkatan investasi dan ekspansi bisnis.

Hal ini secara otomatis akan menyerap banyak tenaga kerja, termasuk masyarakat dari kelas bawah yang membutuhkan pekerjaan.

2. Peningkatan Pendapatan Keluarga

Ketika aktivitas bisnis berkembang pesat, persaingan untuk mendapatkan tenaga kerja akan menaikkan standar upah di pasar. Peningkatan upah ini diharapkan mampu mendongkrak daya beli dan pendapatan riil rumah tangga miskin secara bertahap.

3. Penurunan Harga Barang dan Jasa

Insentif dari pemerintah ditujukan agar produsen dapat menekan biaya operasional dan meningkatkan efisiensi produksi.

Hasilnya, harga kebutuhan pokok di pasar bisa menjadi lebih murah dan lebih terjangkau bagi kantong masyarakat berpenghasilan rendah.

4. Kemudahan Akses Fasilitas Umum

Pertumbuhan ekonomi yang digerakkan oleh sektor swasta secara tidak langsung akan meningkatkan pendapatan pajak negara dalam jangka panjang.

Pendapatan tersebut kemudian dapat digunakan untuk membangun fasilitas publik yang berkualitas untuk warga miskin.

Kontroversi Trickle-Down Economics

Konsep trickle-down economics secara teori terdengar ideal, karena menjanjikan aliran kekayaan dari kelas atas. Namun, dalam penerapannya, konsep ini banyak dikritik, karena dinilai sering kali gagal di dunia nyata dan justru memperlebar jurang ketimpangan.

Melansir laman United for a Fair Economy, berikut bukti nyata yang membantah efektivitas efek trickle-down economics:

  • Tidak ada hubungan erat antara penurunan tarif pajak kelas atas dan peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB). Bahkan, pertumbuhan ekonomi tertinggi di AS justru pernah tercatat pada 1950-an, yaitu saat tarif pajak bagi kelompok kaya tembus 91 persen.

  • Kebijakan memangkas pajak bagi orang kaya terbukti tidak menjamin kenaikan pendapatan bagi keluarga kelas menengah ke bawah. Sebaliknya, pertumbuhan pendapatan masyarakat rata-rata sering kali terpantau jauh lebih kuat dan stabil pada tahun-tahun ketika pemerintah menerapkan tarif pajak yang tinggi.

  • Penurunan beban pajak bagi pemilik modal tidak serta-merta membuat upah per jam para pekerja ikut mengalami kenaikan. Data historis membuktikan bahwa upah riil pekerja tumbuh lebih pesat di era ketika tarif pajak untuk orang kaya diberlakukan secara ketat.

  • Mitos bahwa pemotongan pajak bagi miliarder akan membuka banyak lapangan kerja baru tidak didukung oleh data yang valid. Faktanya, tingkat penurunan pengangguran terbesar dalam sejarah justru kerap terjadi pada masa-masa ketika tarif pajak marjinal tertinggi berada di level maksimal.

Baca Juga: Prabowo Ungkap Permasalahan Ekonomi Asia Tenggara: Selalu Ikut Kekuatan Besar

(MDP)