Apa Itu Tes Kraepelin dan Pauli? Ini Perbedaan dan Cara Mengerjakannya

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tes Kraepelin dan Pauli adalah dua jenis tes psikologi yang sering dijumpai dalam proses seleksi kerja. Keduanya bertujuan untuk menilai berbagai aspek kemampuan calon karyawan, seperti ketelitian, kecepatan, konsentrasi, dan ketahanan dalam menyelesaikan tugas.
Tes tersebut juga dikenal sebagai tes koran karena menggunakan lembar kerja seperti halaman koran yang dipenuhi deretan angka. Peserta diminta menjumlahkan angka-angka yang berdekatan sesuai dengan aturan pengerjaan dan batas waktu yang telah ditentukan.
Meski sekilas terlihat serupa, masing-masing tes memiliki pola pengerjaan yang berbeda. Untuk mengetahui apa itu tes Kraepelin dan Pauli, simak ulasan lengkapnya di bawah ini.
Apa Itu Tes Kraepelin dan Pauli?
Pada dasarnya, tes Kraepelin dan Pauli merupakan dua jenis tes yang berbeda. Dikutip dari buku Psikotes Calon Pegawai Negeri & Swasta karya Muhammad Amien, tes Kraepelin berawal dari penelitian psikiater asal Jerman, Emil Kraepelin, yang digunakan sebagai alat bantu diagnosis gangguan otak Alzheimer dan demensia.
Sementara itu, tes Pauli merupakan pengembangan dari tes Kraepelin yang dilakukan oleh psikolog Richard Pauli dengan bantuan Wilhelm Arnold dan Van Hiss. Penyempurnaan tersebut menghasilkan metode pengerjaan yang mampu mendapatkan data tentang kepribadian seseorang.
Perbedaan utama kedua tes ini terletak pada arah penjumlahan dan instruksi yang diberikan selama pengerjaan. Pada tes Kraepelin, peserta menjumlahkan angka dari bawah ke atas. Ketika pengawas memberikan instruksi “pindah”, peserta harus beralih ke kolom berikutnya dan melanjutkan perhitungan.
Sebaliknya, pada tes Pauli, peserta menjumlahkan angka dari atas ke bawah. Dalam interval waktu tertentu, pengawas akan memberikan instruksi “garis” sebagai tanda bahwa peserta harus membuat garis di bawah hasil penjumlahan terakhir, kemudian melanjutkan pengerjaan berikutnya.
Cara Mengerjakan Tes Kraepelin dan Pauli
Tes Kraepelin dan Pauli sama-sama mengharuskan peserta menjumlahkan dua angka yang berdekatan. Namun, keduanya berbeda dalam arah pengerjaan, instruksi pergantian waktu, serta penggunaan lembar kerja.
1. Cara Mengerjakan Tes Kraepelin
Pada tes Kraepelin, peserta menjumlahkan angka secara vertikal dari bawah ke atas. Tes ini umumnya berlangsung sekitar 10–15 menit, dengan instruksi perpindahan kolom yang diberikan secara berkala. Adapun langkah-langkah pengerjaannya sebagai berikut:
Mulailah menjumlahkan dua angka yang berdekatan dari bawah ke atas.
Tuliskan hasil penjumlahan di sebelah kanan antara kedua angka yang dijumlahkan. Jika hasilnya lebih dari 9, cukup tuliskan angka satuannya saja.
Ketika pengawas memberikan instruksi “pindah”, segera hentikan pengerjaan pada kolom tersebut dan beralih ke kolom di sebelah kanan.
Lanjutkan penjumlahan pada kolom berikutnya hingga waktu tes berakhir.
Tes Kraepelin umumnya menggunakan satu lembar kerja utama tanpa penambahan lembar baru selama pengerjaan.
2. Cara Mengerjakan Tes Pauli
Berbeda dengan tes Kraepelin, tes Pauli dikerjakan dengan menjumlahkan angka secara vertikal dari atas ke bawah. Tes ini umumnya berlangsung lebih lama, yakni sekitar 60 menit. Berikut langkah-langkah pengerjaannya:
Mulailah menjumlahkan dua angka yang berdekatan dari atas ke bawah.
Tuliskan angka satuan dari hasil penjumlahan di sebelah kanan antara kedua angka yang dijumlahkan.
Ketika pengawas memberikan instruksi “garis”, buatlah garis horizontal di bawah hasil penjumlahan terakhir yang telah dikerjakan.
Setelah membuat garis, lanjutkan penjumlahan dengan arah pengerjaan yang sama hingga pengawas memberikan perintah untuk berhenti.
Jika ruang pada lembar kerja telah habis, peserta dapat menggunakan lembar tambahan sesuai instruksi pengawas.
Baca Juga: Pengukuran Kepuasan Kerja Karyawan merupakan Bidang Domain Sasaran Apa?
(SA)
