Rupiah Menguat karena Apa? Ini Faktor-Faktor yang Berpengaruh

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertanyaan mengenai rupiah menguat karena apa, kini dapat terjawab melalui pembukaan perdagangan pada Senin pagi, 24 Agustus 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melonjak 54 poin atau sekitar 0,3% hingga menyentuh Rp17.694 per dolar Amerika Serikat (AS).
Meskipun sempat bergerak dinamis pada kisaran Rp17.690 hingga Rp17.750 per dolar AS, performa rupiah menunjukkan tren penguatan sepanjang tahun (year-to-date) sebesar 6,08%. Pencapaian ini mencerminkan pemulihan jika dibandingkan dengan 52 minggu terakhir.
Rupiah Menguat karena Apa?
Melansir Antara, Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai pergerakan rupiah terdorong oleh penurunan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut didukung pula oleh menguatnya mayoritas mata uang di kawasan regional.
1. Sentimen Harga Minyak dan Neraca Pembayaran
Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan merosot melebihi 13 persen hingga berada di bawah 90 dolar AS per barel. Penurunan ini dipicu oleh perkiraan melambatnya pertumbuhan ekonomi global akibat pengetatan kebijakan bank sentral dunia.
Dari dalam negeri, pelaku pasar menyoroti perbaikan pada kinerja neraca berjalan Indonesia. Defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II-2026 tercatat menyusut signifikan menjadi 0,9 miliar dolar AS.
Meskipun membaik, struktur tersebut dinilai masih cukup rentan. Hal ini disebabkan oleh besarnya porsi aliran modal spekulatif jangka pendek yang masuk ke pasar domestik.
“Hot money (modal asing jangka pendek) sangat deras masuk ke pasar keuangan Indonesia, dipengaruhi oleh naiknya yield (imbal hasil) obligasi pemerintah AS, terutama yang jangka panjang. Naiknya yield, turunnya minat pelaku pasar,” kata Rully di Jakarta, Senin, 24 Agustus 2026.
2. Keputusan Suku Bunga
Sebelumnya, pada Jumat, 21 Agustus 2026, Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan kepada Antara, bahwa penguatan rupiah ditopang oleh kebijakan moneter domestik.
Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen menjadi penahan utama stabilitas nilai tukar.
Langkah tersebut diambil untuk mengendalikan tingkat inflasi dan menopang laju pertumbuhan ekonomi. Strategi ini pun memberikan sentimen positif bagi pergerakan mata uang lokal.
Sementara dari faktor eksternal, rupiah masih dibayangi oleh arah pergerakan dolar AS dan imbal hasil Treasury. Dolar AS sempat tertekan akibat kebijakan pembelian kembali obligasi jangka panjang oleh pemerintah setempat.
Namun, imbal hasil Treasury kembali naik seiring tingginya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal dan inflasi AS. Sikap ragu-ragu pejabat Bank Sentral AS atau The Fed dalam risalah Federal Open Market Committee (FOMC) semakin menambah ketidakpastian pasar.
“Risalah Federal Open Market Committee juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed mengenai arah suku bunga, sehingga prospek kebijakan moneter AS masih menjadi perhatian pasar,” ucap Amru.
Baca Juga: Apa yang Membuat Rupiah Menguat? Ini Faktor-Faktor dan Manfaatnya
(MDP)
