2 Contoh Jurnal Pembelajaran PPG yang Bisa Jadi Referensi

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan Profesi Guru (PPG) membekali peserta dengan berbagai materi dan tugas untuk meningkatkan kompetensi serta kualitas pembelajaran di kelas. Salah satu tugas yang perlu dikerjakan peserta adalah jurnal pembelajaran.
Jurnal pembelajaran merupakan catatan reflektif yang dibuat peserta PPG untuk mendokumentasikan aksi nyata setelah mempelajari modul di Platform Merdeka Mengajar (PMM). Melalui jurnal tersebut, guru dapat mengevaluasi proses pembelajaran sekaligus mengidentifikasi aspek yang masih perlu diperbaiki.
Hasil refleksi tersebut dapat menjadi acuan bagi guru untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif. Bagi Bapak atau Ibu Guru yang sedang mengerjakan jurnal pembelajaran PPG, berikut beberapa contoh jurnal pembelajaran yang dapat membantu dalam proses pengerjaan.
Contoh Jurnal Pembelajaran PPG
Dikutip dari kanal YouTube Ibuexa dan Sriyanti_nst, berikut beberapa contoh jurnal pembelajaran PPG yang dapat dijadikan referensi bagi peserta:
Contoh 1
JURNAL PEMBELAJARAN
MODUL 1
MENERAPKAN PRINSIP UNDERSTANDING BY DESIGN PADA PELAJARAN IPA KELAS 7
A. Pendahuluan
Proses belajar merupakan kegiatan yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan mencapai tujuan pendidikan nasional. Upaya tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan agar kualitas sumber daya manusia di Indonesia terus berkembang.
Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, berbagai model pembelajaran telah dikembangkan, salah satunya adalah model Understanding by Design (UbD). Model ini menekankan pada perencanaan pembelajaran yang berfokus pada hasil belajar yang ingin dicapai.
Dengan mempelajari konsep UbD, guru dapat merancang pembelajaran yang berorientasi pada tujuan-tujuan esensial, menarik bagi peserta didik, serta mendorong terciptanya proses belajar yang bermakna.
B. Pengertian Understanding by Design (UbD)
Understanding by Design (UbD) merupakan pendekatan dalam merencanakan pembelajaran yang menekankan pada pemahaman mendalam peserta didik terhadap materi yang dipelajari.
Dalam penerapannya, guru terlebih dahulu menentukan hasil belajar yang diharapkan, kemudian merancang asesmen dan kegiatan pembelajaran yang mendukung tercapainya tujuan tersebut.
C. Ide yang Saya Pelajari dari Topik Ini
Setelah mempelajari prinsip Understanding by Design, terdapat beberapa ide penting yang dapat saya terapkan dalam proses pembelajaran, yaitu:
Menganalisis Capaian Pembelajaran (CP) untuk menentukan Tujuan Pembelajaran (TP) berdasarkan hasil belajar yang ingin dicapai.
Menerapkan asesmen awal sebelum pembelajaran untuk mengetahui kemampuan dan kebutuhan peserta didik.
Merancang pembelajaran yang lebih spesifik dengan memperhatikan keberagaman karakteristik dan kebutuhan peserta didik.
Merancang kegiatan pembelajaran berdasarkan tujuan akhir sehingga setiap aktivitas yang dilakukan memiliki keterkaitan dengan kompetensi yang ingin dicapai.
D. Langkah-Langkah Perancangan Pembelajaran dengan UbD
1. Menentukan Tujuan Pembelajaran
Capaian Pembelajaran (CP)
Peserta didik dapat menjelaskan mengenai zat dan perubahannya, tidak hanya berdasarkan sifat zat yang dibedakan secara fisika dan kimia, tetapi juga mengembangkan kemampuan bernalar kritis melalui berbagai pengalaman belajar.
Tujuan Pembelajaran (TP)
Setelah mengikuti pembelajaran, peserta didik diharapkan mampu:
Mengidentifikasi sifat dan karakteristik zat padat, cair, dan gas dengan tepat.
Menjelaskan perbedaan unsur, senyawa, dan campuran dengan tepat.
Mengidentifikasi perubahan zat dalam kehidupan sehari-hari sebagai perubahan fisika atau kimia dengan tepat.
2. Menentukan Asesmen
Asesmen dirancang untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran, baik dari aspek pengetahuan maupun keterampilan.
Aspek yang dinilai: pengetahuan dan keterampilan.
Teknik penilaian: LKPD dan penilaian kinerja.
Bentuk penilaian: observasi dan presentasi kelompok.
3. Merancang Kegiatan Pembelajaran
Mata Pelajaran: IPA
Kelas: VII
Materi: Zat dan Perubahannya
a. Kegiatan Pendahuluan
Pada tahap pendahuluan, guru melakukan beberapa kegiatan berikut:
Membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam.
Menanyakan kondisi peserta didik dan mengecek kondisi ruang kelas.
Mengajak peserta didik berdoa sebelum pembelajaran dimulai yang dipimpin oleh ketua kelas.
Memberikan motivasi kepada peserta didik.
Mengaitkan materi yang akan dipelajari dengan materi sebelumnya.
Menyampaikan tujuan pembelajaran kepada peserta didik.
b. Kegiatan Inti
Pada kegiatan inti, guru melaksanakan pembelajaran melalui beberapa aktivitas berikut:
Menampilkan gambar mengenai berbagai perubahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Mengajak peserta didik mengamati gambar dan video pembelajaran.
Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengajukan pertanyaan mengenai materi yang sedang dipelajari.
Memberikan penjelasan dan jawaban atas pertanyaan yang diajukan peserta didik.
Membentuk kelompok belajar dan membagikan LKPD kepada setiap kelompok.
Mengarahkan setiap kelompok untuk mengidentifikasi perubahan fisika dan perubahan kimia.
Meminta peserta didik mencatat hasil pengamatan dan percobaan pada lembar kerja yang telah disediakan.
Meminta setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja di depan kelas.
Memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk memberikan tanggapan atau mengajukan pertanyaan terhadap hasil presentasi.
Memberikan apresiasi kepada peserta didik atas partisipasi dan proses belajar yang telah dilakukan.
c. Kegiatan Penutup
Pada tahap penutup, guru melakukan kegiatan berikut:
Bersama peserta didik menyimpulkan materi pembelajaran yang telah dipelajari.
Melakukan refleksi setelah proses pembelajaran selesai.
Memberikan pesan moral kepada peserta didik yang berkaitan dengan materi pembelajaran.
Menginformasikan kegiatan yang akan dilakukan pada pertemuan berikutnya.
Mengarahkan peserta didik untuk merapikan kembali tempat duduk dan lingkungan kelas.
Menutup pembelajaran dengan doa bersama.
Contoh 2
Modul 2: Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)
A. Pengertian Pembelajaran Sosial Emosional
Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) merupakan proses yang membantu anak dan orang dewasa memperoleh serta menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk:
mengembangkan identitas diri yang sehat;
mengelola emosi;
mencapai tujuan pribadi maupun kolektif;
merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain;
membangun serta mempertahankan hubungan yang positif; dan
mengambil keputusan secara bertanggung jawab dan penuh kepedulian.
PSE dilaksanakan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Penerapannya tidak hanya ditujukan kepada peserta didik, tetapi juga melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan.
B. Tujuan Pembelajaran Sosial Emosional
Pembelajaran Sosial Emosional memiliki beberapa tujuan utama yang mencakup aspek akademik, emosional, dan sosial.
1. Bidang Akademik
PSE membantu peserta didik mengembangkan keterampilan dan pengetahuan tentang diri sendiri, meningkatkan fokus dalam pembelajaran, mengelola waktu, serta menyelesaikan tugas akademik secara lebih efektif.
2. Bidang Emosional
PSE membantu meningkatkan kesadaran diri dan kemampuan peserta didik dalam mengenali serta mengelola emosi. Dengan kemampuan tersebut, peserta didik diharapkan dapat menghadapi emosi negatif dan mengurangi stres atau tekanan selama proses belajar.
3. Bidang Sosial
PSE membantu peserta didik membangun dan memelihara hubungan yang sehat dengan teman, guru, maupun keluarga. Hal tersebut dilakukan melalui pemahaman dan pengelolaan emosi, empati, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif.
C. Pentingnya Pembelajaran Sosial Emosional bagi Peserta Didik
Pembelajaran Sosial Emosional penting diterapkan karena tidak hanya mendukung perkembangan akademik, tetapi juga membantu peserta didik membangun karakter dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa manfaat PSE bagi peserta didik antara lain:
Membentuk karakter peserta didik melalui pengembangan nilai-nilai positif seperti empati, kepedulian, dan tanggung jawab.
Membangun hubungan yang positif dengan orang lain, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
Meningkatkan prestasi akademik. Peserta didik yang memiliki keterampilan sosial emosional yang baik cenderung lebih fokus dan termotivasi dalam mengikuti pembelajaran.
Mempersiapkan peserta didik menghadapi masa depan dengan membekali mereka keterampilan seperti komunikasi efektif, kerja sama, dan pemecahan masalah yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia kerja.
D. Pentingnya Pembelajaran Sosial Emosional bagi Pendidik
Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional juga memberikan manfaat bagi pendidik. PSE dapat membantu pendidik mengelola konflik emosional dan menghadapi berbagai permasalahan yang muncul selama proses pembelajaran.
Sebagai fasilitator pembelajaran, pendidik memiliki peran penting dalam membantu peserta didik mengembangkan potensinya secara menyeluruh, baik dari aspek emosional, akademik, maupun pribadi. Oleh karena itu, kemampuan pendidik dalam memahami dan menerapkan PSE menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif.
E. Lima Kompetensi Sosial Emosional Menurut CASEL
Menurut kerangka CASEL, terdapat lima kompetensi utama dalam Pembelajaran Sosial Emosional, yaitu sebagai berikut.
1. Self-Awareness (Kesadaran Diri)
Self-awareness merupakan kemampuan untuk mengenali dan memahami perasaan, pikiran, serta tindakan diri sendiri. Peserta didik yang memiliki kesadaran diri mampu memahami keterkaitan antara emosi, pikiran, dan perilaku yang ditunjukkan.
2. Self-Management (Manajemen Diri)
Self-management merupakan kemampuan dalam mengelola emosi, pikiran, dan perilaku dalam berbagai situasi. Kompetensi ini mencakup kemampuan peserta didik dalam menghadapi stres, mengendalikan keinginan, serta mengatur diri agar tetap mampu mencapai tujuan.
3. Social Awareness (Kesadaran Sosial)
Social awareness berkaitan dengan kemampuan memahami kondisi dan perasaan orang lain. Kompetensi ini juga mencakup empati serta kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain, termasuk mereka yang berasal dari latar belakang dan budaya yang berbeda.
4. Relationship Skills (Keterampilan Berelasi)
Relationship skills merupakan kemampuan untuk berkomunikasi, mendengarkan, bekerja sama, serta membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat dengan orang lain. Keterampilan ini membantu peserta didik menjalin hubungan positif dengan orang-orang dari berbagai latar belakang.
5. Responsible Decision-Making (Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab)
Responsible decision-making merupakan kemampuan untuk mengidentifikasi masalah, menganalisis informasi, mempertimbangkan berbagai konsekuensi, dan mengambil keputusan secara tepat. Kompetensi ini juga mencakup kesediaan untuk bertanggung jawab atas keputusan yang telah dibuat.
F. Refleksi Pengalaman Bermakna
Salah satu pengalaman bermakna yang saya rasakan dalam penerapan Pembelajaran Sosial Emosional adalah ketika menjadi guru kelas 1 SD di sekolah swasta, seperti SDIT Al Kahfi. Pada saat itu, saya menemukan bahwa durasi belajar yang cenderung lebih lama dibandingkan sekolah dasar negeri dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi emosional peserta didik.
Untuk mengetahui kondisi emosional peserta didik sebelum memulai pembelajaran, saya menggunakan metode "emoji". Peserta didik diberikan beberapa pilihan gambar wajah yang mewakili suasana hati mereka.
Pilihan emoji tersebut terdiri atas:
Wajah tersenyum: menunjukkan suasana hati yang baik-baik saja.
Wajah tertawa: menunjukkan perasaan bahagia dan semangat untuk mengikuti pembelajaran.
Wajah murung: menunjukkan suasana hati yang kurang bersemangat.
Wajah sedih: menunjukkan kondisi emosional yang kurang baik dan kemungkinan peserta didik belum siap mengikuti pembelajaran.
Setelah mengetahui kondisi emosional peserta didik, saya mengajak mereka mengelola emosi melalui teknik STOP. Teknik ini dilakukan dengan cara berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya secara perlahan sebanyak tiga kali.
Penerapan teknik STOP membantu peserta didik mengurangi stres dan tekanan selama proses pembelajaran. Dengan kondisi emosi yang lebih terkelola, peserta didik diharapkan dapat membangun sikap yang lebih positif terhadap diri sendiri maupun orang lain dalam kehidupan sosial.
G. Dampak Pembelajaran Sosial Emosional terhadap Praktik Mengajar
Setelah mempelajari dan menerapkan Pembelajaran Sosial Emosional, saya melakukan beberapa perubahan dalam praktik mengajar, di antaranya:
Menerapkan teknik STOP untuk membantu peserta didik mengelola emosi dan menenangkan diri sebelum mengikuti pembelajaran.
Memulai pembelajaran dengan kegiatan yang menyenangkan, seperti permainan, ice breaking, atau berbagi pengalaman untuk membangun suasana kelas yang lebih positif.
Menciptakan lingkungan kelas yang aman dan nyaman sehingga peserta didik merasa bebas untuk bertanya, menyampaikan pendapat, dan mengekspresikan perasaannya.
Memperhatikan kondisi emosional peserta didik sebelum dan selama proses pembelajaran agar strategi mengajar dapat disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
H. Kesimpulan
Pembelajaran Sosial Emosional memberikan pemahaman bahwa proses pendidikan tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan peserta didik secara menyeluruh. Aspek emosional, sosial, dan karakter memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan peserta didik selama mengikuti pembelajaran.
Melalui penerapan PSE, saya terdorong untuk menjadi pendidik yang lebih peka terhadap kondisi emosional peserta didik serta mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Pengalaman tersebut menjadi refleksi bagi saya untuk terus mengembangkan praktik pembelajaran agar dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik.
Baca Juga: Jadwal PPG Calon Guru Gelombang 2 2026 dan Tahapan Seleksinya
(ANB)
