Konten dari Pengguna

Apa Itu Hujan Meteor Quadrantid? Begini Penjelasan Fenomenanya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi fenomena hujan meteor Quadrantid. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi fenomena hujan meteor Quadrantid. Foto: Unsplash

Setiap awal Januari, masyarakat berkesempatan menyaksikan fenomena alam menarik di langit malam, yakni hujan meteor Quadrantid. Meski hanya berlangsung selama beberapa jam, fenomena ini dikategorikan sebagai salah satu hujan meteor paling aktif.

Melalui fenomena tersebut, para pengamat langit dapat menyaksikan meteor-meteor terang hingga bola api yang meluncur di atmosfer Bumi. Lantas, apa itu hujan meteor Quadrantid? Bagi yang penasaran dengan fenomena ini, perhatikan penjelasan lengkapnya berikut.

Apa Itu Hujan Meteor Quadrantid?

Ilustrasi apa itu hujan meteor Quadrantid? Foto: Unsplash

Dikutip dari laman NASA, nama "Quadrantid" diambil dari konstelasi Quadrans Muralis yang kini sudah tidak digunakan lagi. Konstelasi ini dibuat oleh astronom asal Prancis, Jerome Lalande pada tahun 1795 dan dulunya terletak di antara rasi bintang Bootes dan Draco.

Hujan meteor Quadrantid sendiri terjadi saat Bumi melintasi sisa-sisa debu dan partikel kecil dari luar angkasa. Partikel-partikel ini diduga berasal dari asteroid 2003 EH1. Ketika memasuki atmosfer Bumi, partikel tersebut melaju dengan kecepatan sangat tinggi.

Akibat gesekan dengan udara, partikel-partikel ini terbakar dan memancarkan cahaya. Cahaya inilah yang tampak dari permukaan Bumi dan disebut sebagai meteor, atau lebih dikenal dengan bintang jatuh. Jadi, fenomena ini bukan berarti bintang yang benar-benar jatuh ke Bumi.

Adapun fenomena hujan meteor Quadrantid berlangsung aktif dari 25 Desember 2025–12 Januari 2026. Namun, puncaknya biasa terjadi pada 3–4 Januari. Dalam periode ini, jumlah meteor yang tampak dapat mencapai 120 meteor per jam dalam kondisi ideal.

Agar berpeluang melihat meteor, waktu terbaik untuk pengamatan dilakukan pada dini hari menjelang subuh, yakni sekitar pukul 03.00–05.00 WIB. Pada jam-jam tersebut, langit biasanya lebih gelap dan kondisi lebih tenang. Berikut beberapa tips pengamatannya:

  • Pilih lokasi yang jauh dari sumber cahaya atau lampu penerangan.

  • Arahkan pandangan ke langit bagian utara.

  • Luangkan waktu sekitar 15 menit agar mata menyesuaikan dengan kegelapan.

Kalender Hujan Meteor 2026

Ilustrasi kalender hujan meteor 2026. Foto: Unsplash

Selain Quadrantid, di sepanjang tahun 2026 terdapat beberapa hujan meteor menarik lainnya. Berikut rinciannya yang disadur dari laman almanac.com:

  • Lyrid (22 April 2026): Hujan meteor ini menghasilkan kilatan terang meski jumlah meteornya tidak terlalu banyak.

  • Eta Aquariids (5–6 Mei 2026): Berasal dari sisa debu Komet Halley, puncaknya pada awal Mei. Namun, cahaya Bulan hampir penuh diperkirakan mengurangi jumlah meteor yang terlihat.

  • Delta Aquariids (30–31 Juli 2026): Berasal dari rasi bintang Aquarius, hujan meteor ini termasuk lemah dengan sekitar 10–20 meteor per jam pada puncaknya di akhir Juli.

  • Perseid (12–13 Agustus 2026): Salah satu hujan meteor terbaik dengan lebih dari 50 meteor per jam pada puncaknya.

  • Draconid (9 Oktober 2026): Hujan meteor kecil yang menandai awal musim sibuk hujan meteor, yang akan terjadi tiap 1-2 minggu sampai akhir Desember.

  • Orionid (21–22 Oktober 2026): Berasal dari rasi bintang Orion, hujan meteor ini menampilkan bintang jatuh yang cepat dan terang, dengan puncak sebelum fajar 22 Oktober.

  • Leonid (17–18 November 2026): Biasanya menghasilkan 10–15 meteor per jam, tapi kadang bisa menjadi “badai meteor” dengan ribuan meteor melintas.

  • Geminid (13–14 Desember 2026): Hujan meteor terbesar tahun ini dengan sekitar 75 meteor per jam, terjadi malam penuh dan gelap lebih awal sehingga mudah diamati tanpa harus begadang.

Baca juga: Apa itu Siklon Tropis Bakung yang Diperingatkan BMKG? Ini Penjelasannya

(RK)