Konten dari Pengguna

Apa Nama Geosite yang Menunjukkan Pertemuan Dua Jenis Rijang dan Gamping Merah?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Geopark Kebumen di Jawa Tengah.  Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Geopark Kebumen di Jawa Tengah. Foto: Shutterstock

Geosite atau situs warisan Geologi merupakan objek dengan ciri khas tertentu di dalam kawasan Geopark yang menjadi bagian tak terpisahkan dari evolusi atau pembentukan suatu daerah. Geosite dapat berupa garis pantai, patahan tebing, hingga pertemuan antara dua batuan.

Di Indonesia, terdapat geosite yang menjadi pertemuan antara batuan rijang dan gamping merah. Dikutip dari Britannica, rijang merupakan mineral silika (kuarsa) yang mengandung sedikit ketidakmurnian. Beberapa jenisnya adalah jaspel, batu api (flint), porselen, dan lain-lain.

Sementara itu, gamping merah merupakan batuan sedimen dengan kandungan mineral kalsium karbonat kalsit yang terpengaruh oleh mangan dan oksida besi. Lantas, apa nama geosite yang menunjukkan pertemuan dua jenis rijang dan gamping merah?

Nama Geosite yang Menunjukkan Pertemuan Dua Jenis Rijang dan Gamping Merah

Kebumen Geopark. Foto: Dok. Kemlu.go.id

Berdasarkan jurnal yang diterbitkan Universitas Teknologi Bandung (ITB), geosite yang menunjukkan pertemuan dua jenis rijang dan gamping merah adalah Kompleks Melange Luk Ulo di kawasan Geopark Karangsambung, Kebumen.

Kompleks Melange Luk Ulo terbentuk akibat proses subduksi (pergeseran lempeng) antara Lempeng Eurasia dengan Lempeng Indo-Australia. Proses alam ini membuat kawasan tersebut tersusun atas bongkah batuan rijang, gamping merah, basalt, batuan basa dan ultrabasa (Kog), sekis dan filit (Km), greywacke (KTs), serta granit tuf terkresikkan.

Lebih lanjut, dalam laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dijelaskan bahwa proses pembentukan Melange Luk Ulo terjadi pada periode Eosen-Oligosen (56 hingga 23 juta tahun lalu).

Teori tersebut didasarkan pada temuan para peneliti tentang umur pengendapan matriks unit-unit Melange yang sesuai dengan periode Eosen Tengah sampai Oligosen Awal. Sampai saat ini, kawasan geosite di Geopark Karangsambung ini masih menyimpan banyak misteri dan terus diteliti oleh ahli.

Mengenal Geopark Karangsambung-Karangbolong Kebumen

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di wilayah Geopark Kebumen, Jawa Tengah. Foto: BRIN/HO/ANTARA

Dikutip dari buku Valuasi Ekonomi di Kawasan Geopark: Sebuah Kajian untuk Mitigasi Bencana Lingkungan susunan Rika Harini, secara geografis, Geopark Karangsambung-Karangbolong berada di bagian utara dan selatan Kabupaten Kebumen.

Geopark ini memiliki luas 543.599 km2, dan terbagi menjadi 3 segmen, yaitu kawasan Karangsambung sebagai cagar alam geologi di bagian utara, kawasan Sempor di bagian tengah, dan kawasan Pesisir Ayah yang terdiri dari karst dan vulkanik tua di bagian selatan. Total ada 41 geosite, 8 situs biologi, dan 10 situs budaya di Geopark ini.

Kawasan ini juga memiliki banyak batuan, meliputi batuan metamorf derajat tinggi, batuan beku basa, ultrabasa, dan sedimen laut yang masuk dalam perbukitan Melange atau Melange Luk Ulo.

Semakin ke selatan, terlihat hamparan perbukitan dengan ciri khas bentang alam karst dengan susunan batu gamping. Bagian selatan ini menunjukkan sisa proses vulkanisme berbentuk aliran lava dan intrusi batuan beku.

Baca Juga: Pesona 4 Geopark Indonesia yang Baru Ditetapkan UNESCO

(DEL)