Konten dari Pengguna

Bagaimana Akuntan Manajemen Menjaga Moral dan Etik dalam Era Kecerdasan Buatan?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi akuntan manjemen di era AI. Foto: wee dezign/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi akuntan manjemen di era AI. Foto: wee dezign/Shutterstock

Kemunculan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membawa banyak perubahan dalam berbagai sektor pekerjaan, termasuk di bidang akuntansi manajemen. Penggunaan AI dapat membantu para akuntan manajemen untuk menghasilkan informasi berkualitas hingga pengambilan keputusan.

Namun, penggunaan AI juga memunculkan beberapa isu moral dan etika yang kadang membuat akuntan manajemen dilema. Sebagai contoh, menggunakan AI dalam pengambilan keputusan bisnis dapat menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan akuntabilitas.

Lantas, bagaimana seorang akuntan manajemen dapat menjaga moral dan perilaku etik dalam era kecerdasan buatan? Simak penjelasannya berikut ini.

Bagaimana Seorang Akuntan Manajemen Dapat Menjaga Moral dan Perilaku Etik dalam Era Kecerdasan Buatan?

Ilustrasi era kecerdasan buatan. Foto: Digineer Station/Shutterstock

Dikutip dari dokumen Scribd berjudul Etika Akuntan Manajemen di Era AI yang diunggah Elvira, untuk menjaga moral dan perilaku etik di era kecerdasan buatan, seorang akuntan manajemen dapat menerapkan prinsip-prinsip berikut.

1. Kompetensi (Competence)

Akuntan manajemen harus menjaga kemampuan dan pengetahuan profesional mereka tetap mumpuni serta tekun saat memberikan jasanya. Mereka harus terus mengasah kompetensi, melaksanakan tugas profesional yang sesuai dengan hukum, serta menyediakan laporan lengkap dan transparan.

2. Kerahasiaan (Confidentiality)

Akuntan manajemen harus menghormati dan menghargai kerahasiaan informasi yang diperoleh dari pekerjaan dan hubungan profesionalnya. Artinya, mereka tidak boleh membocorkan rahasia itu pada sembarangan orang, berkomunikasi secara hati-hati pada bawahan (subordinat) saat harus membagi rahasia itu, serta tidak memanfaatkan informasi rahasia yang diperoleh.

3. Integritas (Integrity)

Akuntan manajemen harus jujur, bersikap adil serta dapat dipercaya dalam hubungan profesionalnya. Caranya sebagai berikut:

  • Menghindari konflik kepentingan yang tersirat maupun tersurat.

  • Menahan diri dari aktivitas yang akan memengaruhi segala macam tindakan dalam pekerjaan.

  • Mengetahui dan mengomunikasikan hatas-batas profesionalitas.

  • Mengomunikasikan informasi yang baik maupun tidak baik.

  • Menghindarkan diri dalam keikutsertaan atau membantu kegiatan yang akan mencemarkan nama baik profesi.

4. Kredibilitas (Credibility)

Akuntan manajemen tidak boleh melibatkan prasangka serta konflik kepentingan dalam membuat penilaian profesional. Mereka harus memberitahukan informasi dengan wajar, objektif dan mengungkapkan informasi relevan secara menyeluruh. Kredibilitas juga dapat diartikan sebagai sikap independen. Tidak memihak pada salah satu pihak dengan tujuan pembelaan ataupun oportunistis.

Selain menerapkan empat prinsip di atas saat menggunakan AI, ada beberapa prinsip etika dari lembaga internasional seperti European Group on Ethics (EGE) yang juga dapat dijadikan pedoman bagi akuntan manajemen. Dikutip dari dokumen unggahan Febryanti Musa di Scribd, berikut di antaranya:

  • Martabat Manusia: Al tidak boleh digunakan secara diskriminatif.

  • Otonomi: Sistem Al harus transparan dan dapat dikontrol oleh manusia.

  • Tanggung Jawab Bersama: Semua pemangku kepentingan harus bertanggung jawab atas pengembangan dan penggunaan Al.

  • Penghormatan terhadap Privasi: Mencegah pelanggaran dan penyalahgunaan data.

  • Kolaborasi antara Akuntan dan Pakar Teknologi: Kerja sama diperlukan dalam merancang, mengimplementasikan, dan mengawasi sistem AI agar tetap sesuai nilai-nilai etika dan integritas profesi.

Baca Juga: Dampak Etis dan Moral dalam Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Akuntansi

(DEL)