Dry Ice untuk Karhutla, Bagaimana Cara Kerjanya?

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatra dan Kalimantan, BMKG bersama seluruh unsur terkait seperti TNI, BNPB, Kemenhut, Kemenhan, dan BRIN melakukan penyemaian dry ice atau es kering melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Dikutip dari laman BMKG, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca Tri Handoko Seto menjelaskan bahwa penggunaan dry ice dalam operasi ini bertujuan beda dari penyemaian awan untuk memicu hujan. Lantas, apa tujuannya dan bagaimana cara kerja dry ice untuk karhutla? Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.
Memahami Penggunaan Dry Ice untuk Karhutla
Merujuk informasi BMKG, saat karhutla terjadi, asap yang pekat terperangkap di lapisan atmosfer akibat adanya lapisan inversi. Ketinggiannya di kisaran 6.000–7.000 kaki, bahkan bisa lebih tinggi.
Dalam kondisi normal, makin tinggi lapisan atmosfer, suhu udara akan cenderung makin rendah. Namun pada lapisan inversi, kondisi tersebut berubah, sehingga atmosfer menjadi relatif stabil dan asap sulit bergerak naik.
Nah, metode penyemaian dry ice dilakukan untuk membantu melabilkan atmosfer. Proses sublimasi dry ice akan memicu pendinginan dan penurunan suhu secara mendadak sehingga membantu membuka aliran konveksi.
Dengan demikian, asap karhutla yang terperangkap akibat lapisan inversi dapat bergerak naik dan menyebar. Jadi, metode modifikasi atmosfer ini ditujukan untuk mengurangi konsentrasi asap, bukan memicu hujan.
“Kondisi ini memungkinkan asap bergerak naik secara vertikal dan terurai ke atmosfer. Selain itu, proses tersebut juga meningkatkan peluang pertumbuhan awan yang selanjutnya dapat menjadi sasaran penyemaian dalam OMC,” kata Seto, Selasa (20/10), dikutip dari laman BMKG.
Menurut laporan Bloomberg sebagaimana dikutip The Guardian, teknik ini pertama kali diterapkan pada tahun 1940-an untuk mendorong pembentukan es di awan. Manfaatnya dinilai efektif untuk sementara waktu dalam skala lokal.
“Ini berpotensi memberikan bantuan lokal yang mungkin efektif untuk sementara waktu,” kata Rick McRae, profesor adjung dari kelompok penelitian kebakaran hutan Universitas New South Wales (UNSW).
Cara Kerja Dry Ice untuk Operasi Modifikasi Cuaca
Dalam laman BPNB disebutkan bahwa metode dry ice berbeda dengan OMC dengan material Natrium Klorida (NaCl) yang umum digunakan. Metode ini tidak bergantung pada ketersediaan awan hujan.
Dry ice berbentuk butiran berukuran sekitar tiga milimeter dengan titik dingin sekitar -75 derajat celcius. Ketika partikel es tersebut jatuh menembus lapisan troposfer bersuhu 27°C, es akan mencair dan mengalami proses koalesensi. Alhasil, es yang sudah mencair ini akan turun ke permukaan bumi sebagai air hujan.
BMKG memproyeksikan bahwa kombinasi penggunaan dry ice dengan masuknya tiupan angin baratan yang lebih lembap pada akhir Oktober akan mendongkrak efektivitas hujan lokal yang bermanfaat untuk memadamkan karhutla.
Baca Juga: Kemenkes: 314 Ribu Kasus ISPA di Wilayah Karhutla, 70 Ribunya Jangkiti Balita
(DEL)
