Kenapa Akhir-akhir Ini Cuaca Dingin? Ini Penjelasan Pakar IPB

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa pekan terakhir, masyarakat di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Pulau Jawa, merasakan suhu udara yang lebih dingin dari biasanya. Fenomena ini paling terasa pada malam hingga pagi hari.
Bagi masyarakat Jawa, kondisi tersebut dikenal dengan istilah bedhidhing atau bediding, yakni udara dingin yang lazim terjadi pada musim kemarau. Meski bukan fenomena baru, kondisi ini tetap menarik perhatian karena udara terasa lebih menusuk dibandingkan beberapa bulan yang lalu.
Lantas, mengapa akhir-akhir ini cuaca terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari? Simak penjelasan lengkap mengenai penyebabnya dan faktor-faktor yang memengaruhinya berikut ini.
Mengapa Malam Saat Musim Kemarau Terasa Lebih Dingin?
Dikutip dari situs IPB, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB University, Dr Givo Alsepan, menjelaskan bahwa fenomena bediding bukan merupakan dampak langsung dari perubahan iklim. Menurutnya, kondisi ini adalah bagian dari siklus iklim musiman yang umumnya terjadi setiap tahun pada periode Juni hingga September.
Givo menerangkan bahwa suhu udara yang lebih dingin pada malam hingga pagi hari dipengaruhi oleh proses alami di atmosfer. Saat musim kemarau, suhu minimum harian bisa turun cukup tajam karena proses pelepasan panas dari permukaan Bumi berlangsung lebih efektif.
Beberapa faktor yang menyebabkan suhu dingin pada musim kemarau, yaitu:
Langit cenderung cerah - Minimnya tutupan awan membuat panas yang tersimpan di permukaan Bumi setelah siang hari lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer dan luar angkasa.
Proses pendinginan radiasi berlangsung optimal - Setelah Matahari terbenam, permukaan Bumi memancarkan kembali panas yang diserap pada siang hari sehingga suhu udara di sekitarnya turun lebih cepat.
Udara lebih kering - Pada musim kemarau, kandungan uap air di atmosfer lebih sedikit sehingga panas tidak banyak tertahan. Akibatnya, pelepasan panas berlangsung lebih efektif dan suhu udara pada malam hingga pagi hari menjadi lebih rendah.
Karena dipengaruhi oleh kondisi atmosfer tersebut, udara saat musim kemarau sering kali terasa lebih sejuk bahkan dingin, terutama menjelang dini hari hingga pagi hari. Fenomena ini merupakan kejadian yang normal dan hampir selalu muncul setiap musim kemarau di Indonesia.
Suhu Lebih Dingin di Dataran Tinggi
Givo Alsepan menjelaskan bahwa fenomena bediding umumnya terasa lebih kuat di wilayah pegunungan dan dataran tinggi. Hal ini disebabkan oleh suhu udara yang memang lebih rendah di daerah dengan ketinggian tertentu dibandingkan wilayah dataran rendah.
Selain faktor elevasi, udara dingin juga cenderung mengalir dan berkumpul di lembah. Di kawasan dataran tinggi seperti Dieng, kondisi tersebut bahkan dapat memicu terbentuknya embun beku atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai embun upas.
Pengaruh Angin Monsun Australia
Selain proses pendinginan alami di atmosfer, fenomena bediding juga diperkuat oleh angin monsun Australia. Saat Indonesia memasuki musim kemarau, Australia sedang mengalami musim dingin sehingga massa udara yang bergerak menuju Indonesia membawa karakter udara yang lebih sejuk dan kering.
Pengaruh ini paling terasa di wilayah selatan khatulistiwa, seperti:
Pulau Jawa
Bali
Nusa Tenggara
El Nino Dapat Memperkuat Fenomena Bediding
Givo juga menyebutkan bahwa perkembangan fenomena El Nino berpotensi memperkuat musim kemarau di Indonesia. Kondisi ini menyebabkan curah hujan berkurang, kelembapan udara menurun, dan langit lebih sering cerah pada malam hari.
Ketiga faktor tersebut membuat proses pelepasan panas dari permukaan Bumi berlangsung lebih efektif. Akibatnya, suhu udara pada malam hingga pagi hari dapat turun lebih cepat sehingga fenomena bediding terasa semakin kuat.
Baca Juga: BMKG Prediksi Kemarau Terjadi hingga September 2026
(ANB)
