Konten dari Pengguna

Perencanaan SDM di Era Digital: Menyiapkan Skill dan Manusia di Tengah Teknologi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bhernard Probo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Proses strategis untuk mengelola dan merancang tenaga kerja masa depan dengan menyeimbangkan pemanfaatan teknologi (seperti AI dan otomatisasi), pengembangan keterampilan/skill yang relevan, serta fokus utama pada kesejahteraan dan kolaborasi manusia.
zoom-in-whitePerbesar
Proses strategis untuk mengelola dan merancang tenaga kerja masa depan dengan menyeimbangkan pemanfaatan teknologi (seperti AI dan otomatisasi), pengembangan keterampilan/skill yang relevan, serta fokus utama pada kesejahteraan dan kolaborasi manusia.

Perencanaan SDM di era digital tidak lagi sekadar menghitung berapa banyak karyawan yang dibutuhkan perusahaan. Perubahan teknologi, otomatisasi, dan Artificial Intelligence (AI) membuat kebutuhan terhadap keterampilan kerja ikut berubah.

Bayangkan sebuah perusahaan yang sudah menggunakan berbagai teknologi digital, tetapi karyawannya belum memiliki kemampuan yang sesuai. Sistem baru mungkin sudah tersedia, tetapi proses kerja belum tentu berjalan optimal.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi dan manusia tidak bisa dipisahkan dalam proses transformasi digital. Perusahaan perlu memikirkan bukan hanya teknologi apa yang akan digunakan, tetapi juga SDM seperti apa yang mampu menggunakan teknologi tersebut.

Karena itu, perencanaan SDM menjadi semakin penting untuk memastikan perusahaan memiliki orang dengan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan saat ini dan masa depan.Bayangkan sebuah perusahaan yang memiliki teknologi canggih, sistem kerja serba digital, dan berbagai aplikasi untuk membantu pekerjaan karyawan. Namun, ketika teknologi tersebut digunakan, tidak semua karyawan mampu mengikutinya.

Ada yang kesulitan beradaptasi dengan sistem baru. Ada pula yang sebenarnya memiliki pengalaman kerja cukup lama, tetapi keterampilannya tidak lagi sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pekerjaan yang terus berubah.

Di sinilah perencanaan sumber daya manusia (SDM) menjadi penting.

Perencanaan SDM bukan sekadar menentukan berapa banyak karyawan yang dibutuhkan perusahaan. Di era digital, perusahaan juga perlu memikirkan keterampilan apa yang dibutuhkan, bagaimana mengembangkan karyawan yang sudah ada, dan bagaimana mempersiapkan SDM menghadapi perubahan teknologi.

Teknologi Mengubah Cara Kita Bekerja

Perkembangan teknologi membuat dunia kerja bergerak semakin cepat. Digitalisasi, otomatisasi, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), hingga penggunaan berbagai platform digital mulai memengaruhi cara perusahaan menjalankan aktivitasnya.

Perubahan tersebut tidak selalu berarti manusia akan sepenuhnya digantikan oleh mesin.

Justru, tantangannya adalah bagaimana manusia dapat bekerja berdampingan dengan teknologi.

Menurut World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025, sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja diperkirakan akan mengalami perubahan hingga 2030. Laporan yang sama menunjukkan bahwa keterampilan teknologi seperti AI, big data, jaringan, dan keamanan siber semakin dibutuhkan. Pada saat yang sama, keterampilan manusia seperti kemampuan berpikir analitis, kreativitas, fleksibilitas, kepemimpinan, dan kemampuan berkolaborasi tetap memiliki peran penting. World Economic Forum

Artinya, perusahaan tidak cukup hanya membeli teknologi baru. Mereka juga harus mempersiapkan orang-orang yang akan menggunakan dan mengembangkan teknologi tersebut. Masalahnya Bukan Hanya Teknologi, tetapi Skill Gap

Salah satu tantangan yang muncul dalam transformasi digital adalah skill gap, yaitu kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki tenaga kerja dengan keterampilan yang dibutuhkan pekerjaan.

Teknologi dapat berubah dalam waktu relatif cepat, sementara proses pengembangan kemampuan manusia membutuhkan waktu.

Menurut Future of Jobs Report 2025, 63 persen perusahaan yang disurvei menyebut kesenjangan keterampilan sebagai salah satu hambatan utama transformasi bisnis. Laporan tersebut juga memperkirakan bahwa dari setiap 100 pekerja, sekitar 59 orang akan membutuhkan pelatihan atau pengembangan keterampilan hingga 2030. World Economic Forum

Data tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan perusahaan terhadap SDM tidak berhenti pada proses rekrutmen.

Perusahaan juga perlu bertanya:

Apakah karyawan yang dimiliki saat ini sudah memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan masa depan?

Pertanyaan inilah yang membuat perencanaan SDM menjadi semakin strategis.

Tidak Semua Masalah SDM Harus Diselesaikan dengan Rekrutmen

Ketika perusahaan membutuhkan kemampuan baru, solusi yang sering terpikir adalah mencari karyawan baru.

Padahal, belum tentu demikian.

Perusahaan dapat terlebih dahulu melihat potensi karyawan yang sudah dimiliki. Bisa saja terdapat karyawan yang memiliki pengalaman dan pemahaman terhadap bisnis, tetapi membutuhkan keterampilan baru agar dapat mengikuti perubahan teknologi.

Di sinilah konsep upskilling dan reskilling menjadi relevan.

Upskilling berarti meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki seseorang, sedangkan reskilling berkaitan dengan mempelajari keterampilan baru untuk menjalankan pekerjaan atau peran yang berbeda.

Keduanya dapat menjadi bagian dari strategi perencanaan SDM agar perusahaan tidak hanya berfokus pada mencari orang baru, tetapi juga mengembangkan orang-orang yang sudah ada.

Dengan pendekatan tersebut, perencanaan SDM tidak hanya berbicara tentang siapa yang harus direkrut, tetapi juga siapa yang perlu dikembangkan.

Lalu, Apa yang Harus Direncanakan Perusahaan?

Perencanaan SDM di era digital setidaknya perlu melihat beberapa hal.

1. Memahami kebutuhan keterampilan

Perusahaan perlu memetakan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan saat ini maupun menghadapi perubahan di masa depan.

Kebutuhan tersebut dapat mencakup keterampilan digital dan teknologi, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, kepemimpinan, dan kolaborasi.

2. Memetakan kemampuan karyawan

Setelah mengetahui keterampilan yang dibutuhkan, perusahaan perlu melihat kemampuan tenaga kerja yang sudah dimiliki.

Dari sini dapat terlihat keterampilan apa yang sudah tersedia dan bagian mana yang masih membutuhkan pengembangan.

3. Menyiapkan program pengembangan

Pelatihan tidak harus selalu berupa seminar atau pelatihan formal.

Pengembangan dapat dilakukan melalui pembelajaran digital, mentoring, coaching, proyek kerja, rotasi pekerjaan, maupun pembelajaran mandiri.

4. Mempersiapkan perubahan pekerjaan

Teknologi dapat mengubah tugas dan tanggung jawab suatu posisi. Karena itu, perusahaan perlu memikirkan bagaimana pekerjaan akan berkembang ketika teknologi semakin banyak digunakan.

5. Melakukan evaluasi secara berkala

Perencanaan SDM bukan pekerjaan yang selesai dalam satu kali perencanaan tahunan.

Kebutuhan organisasi dapat berubah mengikuti perkembangan bisnis dan teknologi. Karena itu, pemetaan kebutuhan SDM juga perlu dievaluasi secara berkala.

Indonesia Juga Mulai Menyiapkan Kompetensi AI

Perubahan kebutuhan keterampilan bukan hanya menjadi perhatian perusahaan global. Di Indonesia, pemerintah juga mulai memperkuat standar kompetensi di bidang AI.

Kementerian Ketenagakerjaan menetapkan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 103 Tahun 2026 tentang Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk bidang keahlian Artificial Intelligence subbidang Knowledge Based System. Aturan tersebut mencakup pemetaan kompetensi, unit kompetensi, fungsi, elemen, kriteria unjuk kerja, hingga panduan penilaian untuk pekerjaan yang berkaitan dengan sistem berbasis AI. JDIH Kementerian Ketenagakerjaan

Langkah tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi juga membutuhkan kesiapan kompetensi manusia.

Teknologi boleh berkembang cepat, tetapi tetap membutuhkan manusia yang mampu memahami, mengoperasikan, mengembangkan, dan menggunakannya secara tepat.

Teknologi dan Manusia Bukan Dua Hal yang Harus Dipertentangkan

Pembahasan mengenai AI sering kali berujung pada pertanyaan: apakah teknologi akan menggantikan manusia?

Namun, dalam konteks perencanaan SDM, pertanyaan yang tidak kalah penting adalah:

Bagaimana manusia dapat bekerja lebih baik dengan bantuan teknologi?

Perusahaan dapat menggunakan teknologi untuk mengotomatisasi pekerjaan tertentu, mengolah data, mempercepat proses administrasi, atau membantu pengambilan keputusan. Sementara itu, manusia tetap memiliki peran dalam aspek yang membutuhkan pertimbangan, komunikasi, kreativitas, kepemimpinan, dan pemahaman terhadap konteks pekerjaan.

Karena itu, transformasi digital seharusnya tidak hanya dipandang sebagai proyek pengadaan teknologi.

Transformasi digital juga merupakan proses mempersiapkan manusia agar mampu beradaptasi dengan perubahan.

Perencanaan SDM Harus Melihat ke Depan

Dunia kerja tidak berhenti berubah hanya karena perusahaan sudah memiliki sistem digital.

Teknologi baru akan terus muncul. Jenis pekerjaan dapat berubah. Keterampilan yang dibutuhkan perusahaan juga dapat berkembang.

Karena itu, perencanaan SDM perlu bergerak dari pola pikir “berapa banyak karyawan yang dibutuhkan?” menjadi pertanyaan yang lebih luas:

“Keterampilan apa yang dibutuhkan perusahaan, siapa yang sudah memilikinya, dan bagaimana mempersiapkan orang-orang yang belum memilikinya?”

Pada akhirnya, teknologi memang dapat menjadi penggerak perubahan. Namun, manusia tetap menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana perubahan tersebut dijalankan.

Perusahaan yang mampu menggabungkan teknologi, keterampilan, dan kesiapan manusia akan memiliki fondasi yang lebih jelas dalam menghadapi perubahan dunia kerja.

Sebab, merencanakan SDM di era digital bukan hanya tentang mempersiapkan perusahaan untuk hari ini, tetapi juga mempersiapkan manusia yang mampu bekerja untuk masa depan.