#SEAblings: Solidaritas Digital di Asia Tenggara

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta - MA in International Development and Cooperation, Nagoya University, Japan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Bilqis Oktaviani Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada Agustus 2025, ketika demonstrasi besar berlangsung di Indonesia, dukungan terhadap masyarakat Indonesia tidak hanya datang dari dalam negeri. Sejumlah warganet di Thailand, Malaysia, Filipina, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya turut menyuarakan solidaritas. Mereka menggunakan tagar #SEAblings, singkatan dari Southeast Asian siblings, untuk menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat di satu negara di Asia Tenggara juga dapat menjadi perhatian masyarakat di negara Asia Tenggara lainnya.
Solidaritas tersebut tidak berhenti pada unggahan dukungan. Dalam salah satu aksi yang menarik perhatian, warganet dari negara lain menginisiasi pengiriman makanan dan bantuan melalui layanan pesan antar kepada pengemudi ojek daring dan demonstran di Indonesia. Internet yang biasanya dipenuhi perdebatan tentang perbedaan nasionalitas justru menjadi sarana untuk mengulurkan tangan melintasi batas negara.
Beberapa bulan kemudian, #SEAblings kembali mencuat dalam konteks yang berbeda. Kali ini, percakapan bermula dari polemik konser grup musik Korea Selatan DAY6 di Kuala Lumpur pada 31 Januari 2026. Perselisihan mengenai penggunaan kamera profesional yang diduga melanggar aturan konser berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas. Sebagian warganet Korea Selatan dan Asia Tenggara saling berbalas komentar, hingga muncul unggahan bernada rasis yang menyerang penampilan fisik, warna kulit, dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat Asia Tenggara.
Di tengah situasi tersebut, #SEAblings kembali digunakan untuk membangun solidaritas regional. Warganet dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan negara-negara lainnya saling mendukung, mengangkat budaya lokal, serta menolak anggapan bahwa masyarakat Asia Tenggara berada pada posisi yang lebih rendah.
Dua peristiwa ini memperlihatkan sesuatu yang menarik: solidaritas Asia Tenggara dapat tumbuh secara spontan melalui pengalaman bersama, bahkan ketika masyarakatnya tidak selalu memiliki kesamaan pandangan politik, budaya, atau kepentingan nasional.
Persaudaraan yang Tumbuh dari Internet
Istilah #SEAblings bukan sekadar permainan kata. Ia menyampaikan gagasan bahwa masyarakat Asia Tenggara dapat memandang satu sama lain sebagai saudara regional, tanpa harus menghilangkan identitas kebangsaan masing-masing.
Berbeda dengan kerja sama formal ASEAN yang berlangsung melalui pertemuan pemerintah, perjanjian, dan agenda diplomatik, solidaritas #SEAblings tumbuh dari interaksi masyarakat biasa. Pengguna media sosial dapat berpartisipasi hanya dengan mengunggah pesan, membuat meme, menyebarkan informasi, atau mendukung kampanye yang dianggap relevan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hubungan antarnegara tidak hanya dibentuk oleh pemerintah. Masyarakat juga memiliki kemampuan untuk menciptakan hubungan lintas batas melalui pengalaman dan emosi yang mereka bagikan.
Dalam konteks ini, #SEAblings dapat dipahami sebagai bentuk digital solidarity, yaitu solidaritas yang dibangun melalui jaringan komunikasi digital dan diwujudkan dalam tindakan kolektif. Solidaritas tersebut tidak harus memiliki organisasi resmi, pemimpin tunggal, atau struktur keanggotaan yang tetap.Justru sifatnya yang terbuka memungkinkan siapa pun untuk ikut serta ketika suatu peristiwa dianggap menyentuh kepentingan bersama.
Apakah #SEAblings Menandai Kebangkitan Identitas Asia Tenggara?
Selama ini, Asia Tenggara sering dibicarakan sebagai kawasan yang memiliki kedekatan geografis dan kepentingan ekonomi, tetapi menghadapi tantangan untuk membangun identitas regional yang kuat di tingkat masyarakat.
ASEAN telah berupaya memperkuat identitas tersebut melalui berbagai program pertukaran, pendidikan, dan kerja sama sosial-budaya. Namun, pengalaman #SEAblings memperlihatkan bahwa identitas regional juga dapat terbentuk melalui jalur yang lebih informal.
Ketika masyarakat Indonesia menerima dukungan dari warganet Thailand atau Filipina, misalnya, hubungan regional tidak lagi sekadar konsep yang diperkenalkan dalam buku pelajaran atau forum resmi. Ia menjadi pengalaman nyata: ada orang di negara lain yang memperhatikan apa yang sedang terjadi dan bersedia memberikan dukungan.
Begitu pula ketika masyarakat Asia Tenggara saling mendukung dalam menghadapi rasisme. Solidaritas muncul bukan karena mereka telah menyepakati seluruh persoalan politik atau sejarah masing-masing, melainkan karena mereka menemukan pengalaman yang dianggap layak diperjuangkan bersama.
Dalam pengertian ini, #SEAblings dapat dilihat sebagai salah satu bentuk awal identitas regional yang tumbuh dari bawah atau bottom-up. Identitas tersebut dibentuk oleh masyarakat melalui interaksi sehari-hari, bukan semata-mata melalui keputusan pemerintah.
Meski demikian, perlu berhati-hati untuk tidak menganggap #SEAblings sebagai representasi seluruh masyarakat Asia Tenggara. Aktivitas media sosial cenderung didominasi oleh kelompok yang memiliki akses internet, kemampuan berkomunikasi lintas bahasa, dan ketertarikan terhadap isu tertentu.
Solidaritas yang terlihat di platform digital belum tentu mencerminkan pandangan seluruh penduduk kawasan. Karena itu, #SEAblings lebih tepat dipahami sebagai fenomena yang memperlihatkan kemungkinan tumbuhnya kesadaran regional, bukan bukti bahwa identitas Asia Tenggara telah terbentuk secara menyeluruh.
