Konten dari Pengguna

Feminized Tourism Labor di Thailand: Perempuan dan Bayang Eksploitasi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bilqis Rifdah Hanifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Tempat Wisata di Thailand (Sumber: Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tempat Wisata di Thailand (Sumber: Unsplash)

Government officials market their women’s alleged beauty or their deferential service in order to earn needed tourism revenues. (Cynthia Enloe, 1989).

Narasi Cynthia Enloe dalam Bananas, Beaches, and Bases tersebut telah memberikan pondasi yang kuat untuk memahami bahwa pariwisata global sering kali bertumpu pada tenaga kerja perempuan. Namun, dominasi ini bukanlah kondisi alamiah, melainkan dibentuk oleh struktur ekonomi dan kebijakan yang menempatkan perempuan pada jenis pekerjaan tertentu. Thailand menjadi contoh yang sangat jelas dalam hal ini.

Posisi Perempuan dalam Pariwisata Thailand

Thailand merupakan negara yang memiliki daya tarik dalam sektor pariwisatanya. Menilik laporan dari World Bank tahun 2023, sektor pariwisata Thailand telah menyumbang sekitar 20% dari PDB negara. Pada konteks ini, negara tersebut berusaha membangun citra hospitality sebagai identitas nasional sekaligus mengandalkan perempuan sebagai tulang punggung sektor pariwisata. Menurut Studi Asian Insights menyatakan bahwa sektor pariwisata dan perhotelan di Thailand memiliki proporsi wanita dalam tenaga kerjanya yang lebih tinggi dibandingkan sektor lain. Kemudian, merujuk pada ASEAN Tourism Strategic Plan (2016–2025), 66% pekerja hotel & restoran di Thailand adalah perempuan.

Berkenaan dengan hal tersebut, tenaga kerja perempuan Thailand seringkali mengisi berbagai pekerjaan layanan seperti spa therapist, waitress, dan hotel staff. Posisi-posisi tersebut menuntut kerja yang emosional, yakni mengharuskan perempuan untuk dapat mengatur, mengekspresikan dan menahan emosi mereka demi menciptakan pengalaman yang berkesan bagi pelanggan. Tak hanya berhenti disitu, pekerjaan semacam tersebut membutuhkan kontak langsung dengan klien, serta jam kerja panjang. Deretan tuntutan sebelumnya kerap tidak sebanding dengan perlindungan sosial yang mereka terima. Bahkan, perempuan sering kali tidak mendapat kontrak yang jelas, tidak dilatih menghadapi risiko pelecehan, dan jarang memiliki akses ke bantuan hukum ketika terjadi pelanggaran. Pengawasan pemerintah juga lemah, sehingga agen perekrutan dan pemberi kerja dapat bertindak sewenang-wenang.

Laporan dari CSO tahun 2019 menunjukkan bahwa diskriminasi gender dan berbagai bentuk pelecehan masih terjadi di tempat kerja di Thailand. Temuan tersebut menegaskan bahwa perempuan, terutama yang bekerja di sektor pariwisata dan layanan, sering menghadapi kekerasan berbasis gender yang mempengaruhi keselamatan dan kondisi kerja mereka. Imbasnya, pekerja perempuan berada dalam posisi rentan: bekerja keras untuk menopang ekonomi keluarga, tetapi tanpa jaminan keamanan, upah yang layak, atau perlakuan yang adil. Dengan demikian, fenomena tersebut menggambarkan bagaimana pariwisata dan ekonomi di Thailand saling terkait dalam membentuk pola kerja yang menempatkan perempuan sebagai tenaga yang penting, tetapi tetap berada dalam kondisi kerja yang rentan dan memiliki posisi tawar yang terbatas.

Konsep Feminized Tourism Labor

Ilustrasi Pekerja Perempuan di Sektor Hospitality (Ilustrasi: Pexels)

Berdasarkan kasus tersebut, kemudian muncul fenomena feminized tourism labor yang memperlihatkan bahwa industri pariwisata Thailand tidak hanya membutuhkan tenaga kerja, tetapi tenaga kerja perempuan dengan karakter yang dianggap “sesuai” dengan standar hospitality. Sifat ramah, sabar, sopan, dan mampu mengelola emosi diperlakukan sebagai standar kualitas femininitas yang alami. Padahal, sebagaimana yang ditekankan Enloe, kualitas tersebut adalah hasil konstruksi sosial yang sekaligus menekan nilai ekonomi dari kerja emosional perempuan. Sektor layanan pariwisata lekat bergantung pada performa emosional ini, yang kerap tidak diakui secara formal sebagai pekerjaan bernilai tinggi.

Pariwisata dan Politik Feminisme menurut Cynthia Enloe

Melalui perspektif Cynthia Enloe, situasi ini dapat dilihat sebagai bagian dari “the politics of femininity”, yaitu arah kerja sistem ekonomi dan politik yang membentuk perempuan sebagai tenaga ideal, yakni murah, patuh, dan mudah diarahkan. Dalam industri pariwisata Thailand, citra “Thai hospitality” diperlakukan sebagai aset ekonomi. Keramahan, ketenangan, dan sikap lembut perempuan dijadikan bagian dari paket layanan yang dijual kepada turis. Spa therapist, waitress, hotel staff, dan pekerja layanan lain ditempatkan sebagai wajah utama sektor ini. Di sisi lain, negara lah yang mendapat manfaat paling besar dari pekerja.

Pada akhirnya, persoalan feminized tourism labor memperlihatkan bahwa pariwisata bukan sekadar urusan bisnis atau pendapatan negara, tetapi juga arena politik gender. Melalui cara pandang Enloe, terlihat bahwa perempuan bukan semata-mata pelengkap dalam industri ini, Sebaliknya, mereka adalah faktor penting dalam pariwisata yang menjadi daya tarik Thailand. Kendati demikian, para pekerja perempuan masih berada dalam struktur kerja yang menekan nilai dan posisi tawar mereka. Keberlanjutan pariwisata Thailand tidak dapat terwujud tanpa memperbaiki kondisi kerja perempuan yang menjadi tulang punggung dalam sektor tersebut. Perubahan mendasar, seperti kewajiban kontrak yang jelas, perlindungan hukum yang betul-betul berpihak pada pekerja, hingga jalur pelaporan yang aman ketika terjadi kekerasan atau pelanggaran, krusial untuk diwujudkan.