Konten dari Pengguna

Kemendikdasmen Perkuat Pendidikan Pancasila dengan "Deep Learning"

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bintang An nuril tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

gambar di hasilkan oleh ai
zoom-in-whitePerbesar
gambar di hasilkan oleh ai

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat pendidikan Pancasila sebagai pilar pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik lewat pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) di kelas serta budaya sekolah. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam pernyataan tertulis di Jakarta Pusat pada Rabu mengatakan penguatan pendidikan Pancasila dilakukan tidak hanya melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, pembiasaan, serta pengalaman nyata peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, pendidikan Pancasila perlu dipahami secara utuh melalui tiga aspek, yaitu pengetahuan mengenai Pancasila, pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata, dan internalisasi Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia. Ia menilai pembelajaran Pancasila perlu terus dikembangkan agar tidak berhenti pada aspek pengetahuan.

Apakah Peran Guru, Keluarga, dan Masyarakat Sangat Berpengaruh bagi Program Ini?

Menurut pendapat saya, peran guru, keluarga, dan masyarakat sangat berpengaruh terhadap keberhasilan program penguatan pendidikan Pancasila melalui pendekatan deep learning. Ketiganya memiliki peran penting dalam membantu peserta didik memahami dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, pendidikan Pancasila tidak hanya dipelajari melalui teori di kelas, tetapi juga perlu diterapkan dalam kehidupan nyata. Pertama, peran guru. Guru bukan hanya bertugas mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga menjadi pembimbing dan contoh yang baik bagi peserta didik. Melalui pendekatan deep learning, guru dapat mengajak siswa untuk berpikir kritis, berdiskusi, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah. Dengan begitu, siswa tidak hanya menghafal kelima sila Pancasila, tetapi juga memahami maknanya dan mengetahui cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, peran keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk belajar tentang sikap dan perilaku yang baik. Contohnya, orang tua mengajarkan anak untuk jujur, disiplin, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan membantu sesama. Jika kebiasaan baik tersebut diterapkan sejak di rumah, anak akan lebih mudah mempraktikkan nilai-nilai Pancasila di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Ketiga, peran masyarakat. Masyarakat juga memiliki pengaruh yang besar karena menjadi tempat untuk menerapkan nilai-nilai Pancasila secara langsung. Contohnya, mengikuti kegiatan gotong royong, membantu tetangga yang membutuhkan, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan masalah melalui musyawarah. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik dapat belajar bahwa nilai-nilai Pancasila bukan hanya teori, tetapi juga harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Oleh karena itu, menurut pendapat saya, guru, keluarga, dan masyarakat harus saling bekerja sama agar program ini dapat berjalan dengan baik. Dengan adanya dukungan dari ketiga pihak tersebut, pendidikan Pancasila diharapkan dapat membentuk generasi muda yang memiliki karakter baik dan mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Peran Pancasila dalam Program Pendidikan Pancasila melalui Deep Learning

Menurut pendapat saya, Pancasila memiliki peran yang sangat penting dalam program ini karena Pancasila merupakan pedoman dalam bersikap dan bertindak. Melalui pendekatan deep learning, peserta didik tidak hanya dituntut untuk menghafal dan memahami materi, tetapi juga diajak untuk menghayati serta menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata. Ada beberapa contoh penerapan sila-sila Pancasila yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan sekolah.

Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Sila kedua mengajarkan kita untuk menghormati orang lain, bersikap adil, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Contoh penerapannya adalah membantu teman yang sedang mengalami kesulitan tanpa membeda-bedakan latar belakangnya. Selain itu, kita tidak boleh merendahkan atau melakukan diskriminasi terhadap teman. Menurut saya, tindakan sederhana seperti membantu dan menghargai orang lain merupakan salah satu bentuk penerapan nilai kemanusiaan.

Sila Ketiga: Persatuan Indonesia

Sila ketiga mengajarkan pentingnya menjaga persatuan dan kerukunan meskipun terdapat perbedaan. Contohnya, menjaga hubungan baik dengan teman, menghargai perbedaan pendapat, dan bekerja sama saat mengerjakan tugas kelompok. Kita juga perlu mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi. Dengan menerapkan sikap tersebut, lingkungan sekolah akan menjadi lebih harmonis dan rasa persatuan dapat terjaga.

Sila Keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

Sila keempat mengajarkan kita untuk menghargai pendapat orang lain dan menyelesaikan masalah melalui musyawarah. Contohnya, ketika berdiskusi atau memilih ketua kelas, setiap orang memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya. Kita tidak boleh memaksakan kehendak sendiri dan harus menghargai keputusan yang telah disepakati bersama. Dengan demikian, kita dapat belajar bersikap demokratis, adil, dan bertanggung jawab. Menurut saya, penerapan nilai-nilai Pancasila tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Kita tidak harus menunggu melakukan sesuatu yang besar untuk mengamalkan Pancasila. Membantu teman, menjaga kerukunan, menghargai pendapat orang lain, dan bekerja sama sudah menjadi contoh nyata penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan

Menurut pendapat saya, program penguatan pendidikan Pancasila melalui pendekatan deep learning merupakan langkah yang baik untuk membentuk generasi muda yang memiliki karakter dan moral yang baik. Program ini mengajarkan bahwa Pancasila bukan sekadar materi yang harus dihafalkan, tetapi juga harus dipahami, dihayati, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pembelajaran di sekolah, tetapi juga membutuhkan dukungan dari keluarga dan masyarakat. Guru berperan memberikan pemahaman dan teladan yang baik, keluarga membantu membentuk karakter sejak dini, sedangkan masyarakat menjadi lingkungan untuk mempraktikkan nilai-nilai Pancasila secara langsung. Oleh karena itu, saya mendukung upaya Kemendikdasmen dalam memperkuat pendidikan Pancasila melalui pendekatan deep learning. Dengan adanya program ini, diharapkan peserta didik tidak hanya memiliki pengetahuan yang baik, tetapi juga menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, menghargai perbedaan, menjaga persatuan, dan peduli terhadap sesama.