Konten dari Pengguna

Lebih dari Sekadar Masa Lalu: Mengenal Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Binty Shalbiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Generate by AI
zoom-in-whitePerbesar
Generate by AI

Pernahkah Anda mendengar keraguan calon mahasiswa saat hendak memilih jurusan perkuliahan di perguruan tinggi? Situasi sehari-hari menunjukkan banyak orang ragu memilih Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam karena khawatir hanya berkutat dengan hafalan tahun, nama tokoh mati, dan peristiwa lapuk. Padahal, terdapat fakta menarik bahwa sekitar sepertiga dari isi kitab suci Al-Qur'an memuat kisah kesejarahan yang ditujukan sebagai petunjuk serta pelajaran moral bagi manusia. Memilih jurusan Sejarah dan Peradaban Islam bukanlah ajang mempelajari nostalgia pasif, melainkan wadah ilmiah untuk memahami dinamika peradaban, pembentukan budaya, dan perkembangan masyarakat. Lantas, apa saja yang dipelajari di jurusan Sejarah dan Peradaban Islam serta ke mana arah karier dan kontribusinya bagi masa depan?

Topik pembahasan ini sangat penting dibaca sekarang oleh calon mahasiswa, pendidik, maupun masyarakat luas agar dapat membongkar persepsi keliru yang memandang sejarah sekadar kumpulan hafalan peristiwa mati, sekaligus memahami secara utuh potensi ilmiah serta nilai strategis yang ditawarkan oleh jurusan Sejarah dan Peradaban Islam. Secara sistematis dan mendalam, artikel ini akan menjawab tuntas hakikat dasar ilmu sejarah, proses metodologis rekonstruksi perjalanan peradaban Islam, serta ke mana arah kontribusi nyata para lulusannya dalam memperluas wawasan kebangsaan, menjaga warisan budaya, dan memetik pelajaran berharga ('ibrah) demi membimbing arah perkembangan masyarakat modern di masa depan.

Untuk memahami jurusan ini, kita perlu menelaah latar belakang dan konsep dasarnya dari literatur utama pengantar ilmu sejarah. Dalam karya A. Fatikhul Amin Abdullah berjudul Sejarah: Apa, Bagaimana, dan Kenapa? (Perspektif Masa Kini), dijelaskan bahwa secara etimologis kata sejarah berakar dari bahasa Arab syajaratun yang berarti pohon, melambangkan pertumbuhan peradaban manusia dari benih kecil menjadi pohon rindang. Istilah sejarah juga bersumber dari kata tarikh yang bermakna penulisan atau penyusunan kejadian masa lalu. Sementara itu, Kuntowijoyo dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah mendefinisikan sejarah secara sederhana sebagai ilmu tentang manusia dan waktu yang disusun berdasarkan bukti-bukti empiris. Dalam Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam, manusia dipelajari sebagai aktor sejarah yang mengemban amanah pendorong perubahan di muka bumi.

Proses rekonstruksi masa lalu dalam kerja akademik sejarawan bukanlah khayalan, melainkan jalannya proyek ilmiah yang mengikuti metodologi ketat mencakup pengumpulan sumber (heuristik), verifikasi atau kritik sumber, penafsiran (interpretasi), hingga penulisan historiografi. Hasil teknis dari metodologi ini adalah sebuah karya sejarah yang teruji dan berimbang. Mengenai hakikat rekonstruksi ini, Kuntowijoyo menyatakan:"Sejarah adalah rekonstruksi masa lalu. Jangan dibayangkan bahwa membangun kembali masa lalu itu untuk kepentingan masa lalu sendiri, itu antikuarianisme dan bukan sejarah." Makna dari kutipan tersebut adalah bahwa reka ulang peristiwa masa lampau dilakukan bukan sekadar demi memuaskan rasa kagum pada benda atau cerita kuno semata. Peneliti dan mahasiswa sejarah merekonstruksi peristiwa agar menghasilkan analisis kritis yang bermakna bagi kehidupan sosial masa kini serta memberi landasan pijak dalam melangkah ke masa depan.

Untuk memperjelas bagaimana konsep sejarah bekerja dalam masyarakat, Kuntowijoyo memberikan contoh konkret berupa peristiwa Pemberontakan Petani Banten tahun 1888. Peristiwa di Banten ini membuktikan bahwa gerakan sosial masyarakat pedesaan tidak hanya digerakkan oleh faktor ekonomi semata, melainkan juga oleh peran kepemimpinan ulama dan para haji yang mengobarkan perlawanan terhadap penindasan kolonial. Rekaman koran dan laporan dokumen pemerintah Hindia Belanda pada zaman itu mencatat dengan detail bagaimana mobilisasi massa terbentuk di bawah panji keagamaan. Dalam perspektif jurusan Sejarah dan Peradaban Islam, analisis dokumen riset terhadap peristiwa lokal di Banten tersebut menjadi contoh nyata bagaimana kajian sejarah mampu membongkar struktur sosial, relasi kuasa, dan dinamika perjuangan umat Islam yang sangat konkret.

Memperdalam pemahaman tentang pentingnya menarik hikmah dari masa lalu, A. Fatikhul Amin Abdullah menegaskan sudut pandangnya: "seringkali orang belajar sejarah hanya sebatas mempelajari sejarah tanpa pernah belajar dari sejarah itu sendiri." Penjelasan atas kutipan tersebut memperlihatkan batas yang sangat tegas antara sekadar mengetahui susunan kronologis fakta masa lalu dengan kemampuan mengambil pelajaran moral atau hikmah ('ibrah). Belajar tentang sejarah hanya menghasilkan ingatan hafalan yang pasif, sedangkan belajar dari sejarah menjadikan pengalaman, keberhasilan, serta kegagalan masyarakat terdahulu sebagai bahan evaluasi kritis. Melalui sudut pandang ini, mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam dilatih agar mampu mengolah catatan peristiwa historis menjadi pedoman hidup yang bijak dalam menyelesaikan berbagai permasalahan sosial kontemporer.

Dalam praktiknya, sejarah tidak pernah berdiri sendiri, melainkan menjalin hubungan erat dengan disiplin ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, dan politik, serta membutuhkan ilmu bantu seperti filologi, arkeologi, dan epigrafi. Sementara ilmu sosial bersifat sinkronis karena menekankan struktur ruang, sejarah bersifat diakronis karena memanjang dalam alur waktu. Namun, integrasi multidisiplin ini membawa tantangan serius berupa ancaman bias subjektivitas, prasangka ideologis, hingga keterbatasan dokumen tertulis. Sebagaimana ditekankan oleh para pelaku dan penilai metodologi penelitian, seorang peneliti sejarah wajib menjalankan verifikasi atau kritik sumber yang sangat ketat. Tanpa landasan metodologi teruji dan penggunaan ilmu bantu yang memadai, tulisan sejarah berisiko menjadi narasi yang subjektif, dangkal, atau bahkan terjebak pada dogma tanpa bukti.

Sebagai penutup dan jawaban ringkas atas pertanyaan di awal, jurusan Sejarah dan Peradaban Islam bukan sekadar tempat menghafal masa lampau, melainkan sarana ilmiah untuk melatih analisis kritis, kepemimpinan, dan wawasan kebudayaan yang membuka peluang karier luas di bidang riset, akademisi, jurnalistik, museum, hingga analisis kebijakan publik. Pelajaran penting yang kita dapatkan adalah bahwa perjalanan peradaban masa lalu merupakan cermin utuh yang membentuk identitas serta menentukan arah kemajuan suatu bangsa. Mari kita renungkan bersama bahwa kita semua bukan hanya penikmat kisah masa lalu, melainkan aktor aktif yang turut menentukan corak sejarah hari ini. Pesan bagi generasi penerus: pelajarilah jejak peradaban dengan jujur dan kritis, jadilah pembawa perubahan yang membawa kebaikan, serta ukirlah sejarah baru demi agama, bangsa, dan kemanusiaan.