Hadir di IYS 2022, Zhafira Aqyla Bahas Pendidikan 3 Negara dan Literasi Seksual

PPI Dunia adalah wadah organisasi yang menaungi seluruh pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari PPI Dunia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Istanbul - Istanbul Youth Summit 2022 diselenggarakan di Baglarbasi Congress and Culture Center, Uskudar, Istanbul. Acara dibuka dengan Welcoming dinner and Performances pada Senin malam (14/2). Acara pembukaan berlangsung meriah, para pembicara juga turut hadir dalam agenda tersebut. Pada hari kedua, para panelis menyampaikan materi presentasinya. Para panelis sesi pertama membahas sub-tema Mental Health, Economy, dan Public Health. Pada sesi selanjutnya membahas sub-tema Education serta Public Policy.
Zhafira Aqyla sebagai salah satu panelis dengan sub-tema education memulai presentasinya dengan membagikan pengalaman yang ia rasakan di awal mula pandemi. “Waktu awal pandemi merasa agak senang karena kita belum pernah merasakan hal ini sebelumnya, bisa menghabiskan waktu banyak di rumah,” Ujar Zhafira. “Tapi lama kelamaan capek juga dengan segala ketidakpastian yang terjadi, belum lagi permasalahan dan berbagai tantangan pembelajaran daring,” Sambungnya.
Sebagai research student di Osaka University, ia merasa bersyukur memiliki privilege yang ia dapatkan untuk menunjang kegiatan akademiknya di Jepang. Namun, ia menyadari bahwa tidak semua siswa di belahan dunia lain dapat mendapatkan akses dan fasilitas yang sama. Terutama negara-negara di Asia Tenggara, mereka masih mengalami tantangan untuk belajar daring dikarenakan kurangnya akses internet.
Berangkat dari hal tersebut, ia membuat sebuah proyek untuk sekolah yang kesulitan mengikuti pembelajaran daring. Ia memilih SMPN 7 Budong-Budong, kota Mamuju, yang berlokasi di Sulawesi Selatan sebagai tujuan pelakasanaan proyeknya. Proyek tersebut dilaksanakan untuk membantu para siswa yang tidak bisa mendapatkan akses dan perangkat yang memungkinkan untuk melangsungkan pembelajaran daring.
Dalam menghadapi tantangan pembelajaran daring, pemerintah juga telah memberikan bantuan semaksimal mungkin. Ia menjelaskan contoh bantuan yang diberikan oleh pemerintah di Jepang, Indonesia, dan Turki selama pandemi. Di Jepang sendiri, setiap siswa difasilitasi 1 ipad untuk belajar dan membatasi fitur lain yang tidak berkaitan dengan proses pembelajaran. Hal ini juga bisa menjadi bentuk persiapan bagi generasi muda agar terbiasa dengan pembelajaran digital dan dapat mengikuti perkembangan zaman dan industri di dunia.
Di Indonesia, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) Kementerian Kebudayaan, Pendidikan, Riset, dan Teknologi telah menyiapkan Mobil Pembelajaran Jarak Jauh Kampus Merdeka. Program ini diseiapkan untuk memfasilitasi akses internet di daerah 3T (Teringgal, Terdepan, dan Terluar). Di Turki, pemerintah telah menyediakan EBA (Eğitim Bilişim Ağı) sistem. Platform tersebut dirancang untuk membantu pelajar menempuh pendidikannya dengan mudah dan tanpa dipungut biaya.
Namun, digitalisasi ini juga seperti pedang bermata dua. Jika kita tidak memanfaatkannya dengan bijak, digitalisasi juga akan membawa banyak dampak negatif bagi kehidupan. Selama masa pandemi COVID-19, 10 Juta lebih anak-anak perempuan terancam resiko pernikahan anak-anak. Dikarenakan orang tua mereka yang tidak bisa menafkahi anak-anak dan keluarga mereka, mereka memilih untuk menikahkan anaknya dengan laki-laki yang bisa menafkahinya. Kasus kekerasan seskual dan pornografi juga meningkat selama pandemi.
Segala kemudahan akses dapat menjerumuskan generasi muda pada konten-konten buruk yang mereka temukan di internet. Oleh karena itu, untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi digitalisasi yang akan semakin maju ke depannya, Zhafira mengungkapkan betapa pentingnya pendidikan seksual. “Kami berusaha menawarkan solusi untuk permasalahan ini dengan membuat platform literasi tentang pendidikan seskual yang seharusnya didapatkan sejak dini.” Ujar Zhafira. Zhafira dan tim membuat platform @taulebih.id menggunakan #nowyouknow #jaditau yang memberikan edukasi mengenai pendidikan seksual. Melalui ilustrasi komik yang dapat dipahami oleh berbagai kalangan, platform ini juga membahas pembahasan yang tabu terkait dengan pendidikan seksual.
“Apa yang dapat kita lakukan sebagai generasi Z? Aktivitas di sosial media dapat berguna, gunakan suara anda, bantu viralkan suatu kasus agar korban dapat mendapat keadilan,” ungkap Zhafira. Dengan berbagai kelebihan dan keberagaman latar belakang yang kita miliki, kita sebagai generasi muda dapat memanfaatkan suara kita dengan baik. “You gotta a voice, so make it heard", lanjutnya. Kita memiliki kekuatan untuk mengikuti algoritma sosial media, oleh karena itu manfaatkanlah dengan bijak untuk menebarkan kebaikan dan kebermanfaatan bagi sesama. (Ahsanah Nur Amalia Amar/Inayah Salsabil)
