Konten dari Pengguna

Jombang dan Kebiasaan Menguburkan Diri Sendiri

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Boas Sababang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber : unplash
zoom-in-whitePerbesar
sumber : unplash

Ada penyakit yang tidak tercatat di buku kedokteran mana pun, yaitu penyakit merasa kecil. Orang jarang mati karenanya. Tetapi ia menggerogoti pelan-pelan, sampai seseorang tak lagi sanggup melihat apa yang dimilikinya sendiri.

Penyakit itu kini menjangkiti Jombang. Kabupaten ini terhimpit di tengah-tengah. Di timur laut ada Surabaya, kota dagang dan pemerintahan. Di selatan ada Malang dengan hawa sejuk dan wisatanya. Di barat ada Kediri dengan bandara barunya. Di timur ada Mojokerto, tempat bayang-bayang Majapahit masih diceritakan dari mulut ke mulut. Orang Jombang menengok ke empat arah itu dan menyimpulkan bahwa dirinya tidak punya apa-apa.

Kesimpulan itu keliru, dan lebih keliru lagi karena dibuat oleh pemiliknya sendiri.

Letak yang Tak Pernah Diminta

Sejarah mengajarkan satu hal yang berulang: tempat tidak menjadi penting karena ia ingin, tetapi karena orang-orang yang lewat di atasnya. Jombang terletak di jalur yang menghubungkan kota-kota besar Jawa Timur. Surabaya dan Malang dapat dicapai dalam kira-kira dua jam. Yogyakarta, Solo, bahkan Jakarta pun dapat dijangkau dari sana.

Letak seperti ini tidak lahir dari kebijakan hari ini. Jalan dan jalur kereta di tanah Jawa dahulu dibuat untuk mengangkut hasil bumi dan memindahkan orang menurut kepentingan penguasa. Rakyat tidak diminta pendapatnya. Tetapi yang ditinggalkan zaman itu sekarang menjadi milik mereka yang tinggal di atasnya. Orang Jombang tidak perlu merasa terpencil. Mereka berdiri di simpul perjalanan, bukan di ujung dunia.

Rel dan Jalan Tol

Ada orang yang mengukur kemajuan dengan gedung tinggi. Saya lebih percaya pada ukuran yang lebih sederhana: seberapa mudah seorang anak desa pergi mencari ilmu dan penghidupan di tempat lain?

Jombang punya stasiun yang melayani perjalanan ke Surabaya, Madiun, Solo, Yogyakarta, sampai Jakarta. Jombang punya jalan tol bagi mereka yang berkendara sendiri. Di negeri ini masih banyak daerah yang tak punya sebatang rel pun, apalagi jalan bebas hambatan. Di sana orang menempuh jalan rusak berhari-hari hanya untuk menjual hasil kebunnya.

Maka, ketika orang Jombang menganggap rel dan jalan tol itu biasa saja, saya teringat sebuah kebenaran lama: yang paling berharga sering kali yang paling tidak disadari. Orang baru mengerti harga air ketika sumur mengering.

Tanah yang Jarang Mengamuk

Di sini saya ingin bicara tentang hal yang paling sunyi dan paling mudah dilupakan. Jombang tidak punya gunung api aktif yang bisa memaksa warganya mengungsi. Letaknya jauh dari pantai, sehingga tsunami bukan bayangan yang menghantui tidur. Banjir, angin kencang, dan longsor memang tetap datang di beberapa tempat. Tak ada tanah yang sepenuhnya jinak. Tetapi saudara-saudara kita di tempat lain hidup dengan kewaspadaan yang tak pernah putus. Mereka menimbang-nimbang setiap malam apakah tanah di bawah tempat tidurnya akan bergetar.

Ketenangan semacam itu tidak dibagikan secara adil. Ia hadiah dari letak bumi, dan orang yang menerimanya tanpa sadar akan mudah mengira bahwa seluruh dunia hidup setenang dirinya. Itu salah satu bentuk kebutaan yang paling halus.

Mengapa Kita Merendahkan Diri

Sekarang kita sampai pada pertanyaan yang sebenarnya: mengapa orang Jombang tidak melihat semua ini?

Saya kira jawabannya bukan di Jombang, tetapi di cara kita mengukur diri. Kita telah lama dididik untuk percaya bahwa yang besar adalah yang benar, dan yang ramai adalah yang berharga. Pusat adalah ukuran, sedangkan pinggiran hanya pelengkap. Pandangan ini mewarisi cara berpikir lama, ketika para penguasa menilai sebuah daerah dari seberapa banyak ia menghasilkan untuk mereka, bukan dari seberapa baik ia dihuni orangnya.

Orang yang terbiasa dinilai dengan ukuran orang lain akhirnya memakai ukuran itu pada dirinya sendiri. Ia membandingkan diri dengan Surabaya, dengan Malang, dengan Kediri, lalu menyimpulkan bahwa dirinya kalah. Padahal sejak kapan kampung halaman harus bersaing dengan kota besar untuk dianggap pantas dicintai?

Seorang manusia, kata orang tua-tua, harus adil sejak dalam pikiran. Adil kepada orang lain, dan lebih dahulu adil kepada dirinya sendiri. Tidak adil menimbang sebuah tempat hanya dari apa yang tidak dimilikinya sambil melupakan apa yang sudah ada di tangan.

penutup

Jombang tidak kekurangan apa-apa untuk dibanggakan. Yang kurang hanyalah mata yang mau melihat. Letak yang menghubungkan, rel dan jalan yang membuka dunia, tanah yang relatif tenang: semuanya sudah ada, dan sebagian dari kita menginjaknya tiap hari tanpa pernah menunduk untuk memandang.

Tempat yang kita sebut biasa-biasa saja mungkin justru tempat yang paling layak kita jaga. Sebab keunggulan yang terkubur tidak selalu dikuburkan orang lain. Kadang kita sendiri yang menyekopnya, sedikit demi sedikit, dengan kalimat yang sama setiap hari: "Ah, di sini tidak ada apa-apa."

Dan kita tahu, bangsa yang tak mengenal miliknya sendiri akan selalu mudah diyakinkan bahwa kebahagiaan ada di tempat lain.