Konten dari Pengguna

“Reverse Urbanization Economy”: Arus Balik Ekonomi ke Desa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bonar Sianturi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lebaran sebagai Stimulus Ekonomi Desa

“Reverse Urbanization Economy”: Arus Balik Ekonomi ke Desa
zoom-in-whitePerbesar

Setiap tahun menjelang Idul Fitri, Indonesia menyaksikan sebuah pemandangan yang hampir selalu sama: jalan tol dipenuhi kendaraan pribadi, terminal bus sesak, stasiun kereta padat, dan bandara dipenuhi penumpang yang hendak pulang kampung. Fenomena mudik ini biasanya dilihat dari sudut pandang transportasi—kemacetan panjang, antrean tiket, atau kesiapan infrastruktur. Namun di balik arus manusia yang bergerak dari kota ke desa itu, sesungguhnya sedang terjadi sesuatu yang jauh lebih besar: arus balik ekonomi nasional.

Selama sebagian besar waktu dalam setahun, aktivitas ekonomi Indonesia cenderung terkonsentrasi di kota-kota besar. Jakarta, Surabaya, Bandung, dan kawasan industri di sekitarnya menjadi magnet bagi tenaga kerja dari berbagai daerah. Uang berputar di pusat-pusat pertumbuhan ini melalui gaji, transaksi bisnis, dan investasi. Desa dan kota kecil sering kali hanya menjadi “daerah asal” yang perlahan kehilangan energi ekonominya karena urbanisasi.

Namun menjelang Lebaran, pola itu berubah secara dramatis. Jutaan pekerja yang selama setahun mencari nafkah di kota kembali ke kampung halaman mereka, membawa serta sebagian hasil kerja yang dikumpulkan selama berbulan-bulan. Dalam beberapa hari saja, uang yang biasanya beredar di kota besar tiba-tiba mengalir ke desa-desa.

Kementerian Perhubungan memperkirakan bahwa pergerakan masyarakat selama mudik Lebaran 2024 mencapai sekitar 193,6 juta orang, atau sekitar 71 persen dari total penduduk Indonesia (Survei Badan Kebijakan Transportasi Kemenhub, 2024). Angka ini bukan sekadar statistik mobilitas manusia. Ia juga menggambarkan mobilitas daya beli yang luar biasa besar.

Bank Indonesia mencatat bahwa pada periode Ramadan dan Idul Fitri, kebutuhan uang kartal meningkat tajam. Pada tahun 2024, Bank Indonesia menyiapkan sekitar Rp197,6 triliun uang tunai untuk memenuhi lonjakan transaksi masyarakat selama Ramadan dan Lebaran (Bank Indonesia, 2024). Uang ini sebagian besar beredar melalui konsumsi rumah tangga, pemberian tunjangan hari raya (THR), dan berbagai transaksi sosial.

Di titik inilah muncul fenomena yang jarang dibahas secara eksplisit oleh para ekonom: reverse urbanization economy—sebuah arus balik ekonomi dari kota ke desa yang terjadi secara musiman, tetapi dampaknya nyata.

Ketika para perantau pulang kampung, mereka tidak hanya membawa koper berisi pakaian. Mereka membawa daya beli. Mereka membeli makanan khas daerah, pakaian baru untuk keluarga, oleh-oleh, hingga melakukan renovasi rumah yang mungkin telah lama tertunda. Pasar tradisional di desa yang biasanya relatif sepi tiba-tiba hidup. Warung kecil ramai pembeli. Pedagang pakaian musiman bermunculan di tepi jalan. Tukang ojek desa kebanjiran penumpang.

Bagi banyak desa di Indonesia, periode Lebaran sebenarnya merupakan musim ekonomi paling sibuk dalam setahun.

Fenomena ini mirip dengan apa yang dalam literatur ekonomi regional disebut sebagai seasonal economic stimulus, tetapi unik karena tidak didorong oleh kebijakan fiskal pemerintah. Tidak ada paket stimulus APBN, tidak ada program bantuan langsung berskala besar. Yang terjadi justru adalah stimulus ekonomi yang lahir dari dinamika sosial dan budaya masyarakat sendiri.

Arus balik ekonomi ini juga diperkuat oleh mekanisme distribusi kekayaan yang khas selama Ramadan dan Lebaran. Selain THR yang diwajibkan oleh pemerintah bagi pekerja formal—yang nilainya bisa mencapai satu bulan gaji—masyarakat juga menyalurkan zakat fitrah, sedekah Ramadan, dan berbagai bentuk pemberian kepada keluarga serta tetangga. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memperkirakan potensi zakat nasional mencapai sekitar Rp327 triliun per tahun, meskipun yang terhimpun secara resmi masih sekitar Rp30–40 triliun (BAZNAS Outlook Zakat 2024).

Dalam konteks desa, dana-dana ini menjadi sumber likuiditas yang sangat penting. Ia memperkuat konsumsi rumah tangga, membantu keluarga yang kurang mampu, dan menggerakkan aktivitas ekonomi lokal.

Menariknya, fenomena ini juga memperlihatkan bahwa ekonomi Indonesia tidak sepenuhnya bergerak hanya oleh mekanisme pasar modern. Ada unsur modal sosial—hubungan keluarga, tradisi, dan kewajiban moral—yang turut menggerakkan sirkulasi ekonomi.

Silaturahmi, misalnya, bukan hanya pertemuan emosional antar anggota keluarga. Dalam banyak kasus, ia menjadi ruang pertukaran informasi ekonomi: peluang kerja, rencana usaha, atau bahkan investasi kecil di kampung halaman. Tidak jarang sebuah ide bisnis lahir justru dari percakapan santai di ruang tamu saat Lebaran.

Dalam perspektif pembangunan daerah, fenomena reverse urbanization economy ini menyimpan pelajaran penting. Ia menunjukkan bahwa desa sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang besar, hanya saja selama ini sering kekurangan likuiditas dan akses pasar. Ketika uang dan manusia kembali ke desa, aktivitas ekonomi langsung menggeliat.

Bayangkan jika dinamika ini tidak hanya terjadi sekali dalam setahun. Bayangkan jika konektivitas desa, akses pasar digital, dan dukungan usaha kecil mampu membuat desa mempertahankan sebagian energi ekonomi yang muncul saat Lebaran.

Lebaran mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun arus balik ekonomi yang menyertainya mengingatkan kita bahwa desa bukan sekadar tempat asal yang ditinggalkan oleh urbanisasi. Ia tetap menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi nasional—yang setiap tahun, setidaknya untuk sesaat, kembali menjadi pusat perputaran uang dan harapan.