Ketika Ruang Sederhana Mengajarkan Besarnya Kepedulian

mahasiswi universitas jember
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bunga Bulan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Senin, 17 November 2025, aku sedang makan siang di kantin Fakultas Keperawatan, Kantin selalu menjadi tempat paling hidup di kampus, tempat di mana mahasiswa dari berbagai jurusan berkumpul, berbagi cerita, dan beristirahat sejenak dari padatnya jadwal kuliah. Di tengah suara gelak tawa dan denting sendok, ada satu momen sederhana yang justru membuatku berhenti sejenak dan berpikir. Seorang mahasiswa duduk tak jauh dariku, membawa botol tumbler sendiri untuk minum. Hal kecil seperti inilah terkadang dianggap sepele, tetapi sebenarnya ia sedang ikut adil dalam tindakan yang berkaitan dengan isu global yaitu mengurangi sampah plastik sekali pakai.

Tak jauh dari mejaku, berdiri kokoh dan rapi tiga tempat sampah dengan kategorinya masing-masing, organik, anorganik, dan residu. Pemandangan ini mungkin terlihat biasa, tapi bagi kampus, inilah wujud pendidikan kewarganegaraan yang nyata bukan lagi tentang teori di kelas, tetapi kebiasaan yang dibangun dalam kehidupan sehari-hari.
Kita sering membayangkan “warga global” sebagai sesuatu yang sulit dan berat. Padahal, berkontribusi menjadi warga global bisa dimulai dari langkah-langkah sederhana yang kita lakukan di kampus seperti membawa tumbler, memilah sampah, menjaga kebersihan ruang bersama, hingga peduli pada lingkungan sekitar. Semua itu merupakan bagian dari tanggung jawab kita sebagai generasi muda yang akan hidup di dunia yang semakin terhubung dan menghadapi tantangan ekologis yang nyata.
Beberapa penelitian relevan menunjukkan bahwa tindakan sederhana mahasiswa, seperti membawa tumbler atau memilah sampah, memiliki peran penting dalam membentuk perilaku pro lingkungan. Nurhasanah & Yuniarti (2021) melalui jurnal Perilaku Pro Lingkungan Mahasiswa di Lingkungan Kampus menemukan bahwa kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat meningkatkan kesadaran ekologis di kalangan mahasiswa. Temuan ini sejalan dengan penelitian Dewi & Pratiwi (2022) dalam Implementasi Kampus Hijau, yang menjelaskan bahwa fasilitas kampus termasuk tempat sampah dapat berkontribusi membangun budaya peduli lingkungan. Studi tersebut menegaskan bahwa ruang-ruang sederhana seperti kantin kampus dapat menjadi arena pembelajaran kewarganegaraan global yang nyata. Melalui berbagai temuan tersebut, jelas bahwa kebiasaan sederhana yang terjadi di ruang-ruang kampus bukan hanya rutinitas, tetapi bagian dari proses menjadi warga global yang peduli lingkungan.
Dari kantin kecil ini, aku belajar bahwa kepedulian lingkungan tidak selalu dimulai dari gerakan besar. Ia bisa dimulai dari tempat yang sederhana dari keputusan membawa botol minum sendiri, dari memilih tempat sampah yang tepat, dari menghargai ruang bersama. Hal-hal kecil yang dilakukan banyak orang, pada akhirnya bisa memberikan dampak besar.Karena pada akhirnya, menjadi warga global bukan hanya tentang memahami isu dunia. Tetapi tentang bagaimana kita, dari kampus, mengambil bagian dalam merawat bumi mulai dari tindakan sederhana yang kita lakukan hari ini.
