Anemia pada Remaja Putri: Masalah Kecil yang Tak Boleh Diabaikan

Mahasiswa Teknologi Radiologi Pencitraan di Universitas Airlangga
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Bunga Oktavia Tusita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah merasa cepat lelah saat mengikuti perkuliahan, sulit berkonsentrasi ketika belajar, atau pusing saat menjalani aktivitas sehari-hari? Keluhan seperti ini sering dianggap akibat kurang tidur atau terlalu banyak kegiatan. Padahal, salah satu kemungkinan yang perlu diperhatikan adalah anemia. Masalah kesehatan ini dapat luput dari perhatian, terutama pada remaja putri yang sedang tumbuh dan memiliki aktivitas padat.

Anemia merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal. Hemoglobin adalah protein dalam sel darah merah yang membantu membawa oksigen ke seluruh tubuh. Jika kadarnya rendah, pengangkutan oksigen dapat terganggu sehingga seseorang bisa merasa lelah, lemas, pusing, atau sesak ketika beraktivitas. Menurut WHO, anemia memiliki beragam penyebab, antara lain kekurangan zat gizi, infeksi, penyakit kronis, dan kehilangan darah.
Penelitian di Jawa Barat Mengungkap Fakta Penting
Gambaran anemia pada remaja putri dapat dilihat melalui penelitian Sari dan rekan-rekannya yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients pada 2022. Penelitian ini melibatkan 286 siswi berusia 15–19 tahun dari 16 sekolah di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Para peneliti mengukur kadar hemoglobin, mengumpulkan informasi tentang asupan zat gizi dan menstruasi, serta menilai kualitas hidup peserta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 14,3% peserta mengalami anemia. Analisis peneliti juga menemukan keterkaitan antara status anemia dan aspek hubungan sosial dalam kualitas hidup. Temuan ini penting karena kesehatan remaja tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga keseharian dan pengalaman sosialnya.
Namun, angka 14,3% tersebut hanya menggambarkan kelompok siswi yang diteliti di Soreang. Angka itu tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh remaja putri di Indonesia. Karena penelitian ini bersifat observasional dan potong lintang, hasilnya juga tidak membuktikan bahwa anemia secara langsung menyebabkan perubahan kualitas hidup.
Mengapa Remaja Putri Perlu Lebih Memperhatikan Anemia?
Menstruasi merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan. Tubuh kehilangan darah saat menstruasi, dan perdarahan yang lama atau berlebihan dapat meningkatkan risiko kekurangan zat besi. Zat besi diperlukan untuk membentuk hemoglobin. Pola makan yang kurang beragam, melewatkan waktu makan, atau membatasi makanan secara berlebihan juga dapat membuat kebutuhan zat gizi tidak terpenuhi.
Sumber zat besi antara lain daging, ikan, dan kacang-kacangan. Mengkonsumsi makanan beragam serta sumber vitamin C dapat membantu mendukung pemenuhan zat gizi. Meski begitu, tidak semua anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi. Karena itu, rasa lemas atau pusing saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami anemia. Pemeriksaan hemoglobin dan evaluasi tenaga kesehatan dapat membantu menentukan kondisi serta penyebabnya.
Pencegahan Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari
Pencegahan dapat dimulai dengan membiasakan pola makan bergizi seimbang, tidak melewatkan waktu makan, dan mengikuti program kesehatan remaja. Kementerian Kesehatan RI mendorong pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) kepada remaja putri, umumnya satu tablet setiap minggu sepanjang tahun melalui program yang dijalankan di sekolah. TTD sebaiknya dikonsumsi sesuai petunjuk program atau tenaga kesehatan.
Jika keluhan menetap, menstruasi sangat banyak, atau ada dugaan anemia, konsultasikan dengan tenaga kesehatan. Penanganan yang tepat bergantung pada penyebabnya, sehingga mengkonsumsi suplemen tanpa pemeriksaan bukan pengganti evaluasi medis. Sekolah dan keluarga juga dapat berperan dengan menyediakan edukasi gizi dan mendukung kebiasaan sehat.
Jangan Menunggu Tubuh Kehilangan Tenaga
Anemia pada remaja putri bukan masalah yang sebaiknya diabaikan, tetapi juga tidak perlu ditanggapi dengan ketakutan berlebihan. Penelitian di Jawa Barat menunjukkan bahwa anemia ditemukan pada sebagian peserta, meski hasilnya belum mewakili semua remaja di Indonesia. Mengenali kebutuhan tubuh, menjaga pola makan, mengikuti program pencegahan, dan mencari pertolongan ketika diperlukan merupakan langkah yang masuk akal untuk menjaga kesehatan selama masa pertumbuhan.
