Gen Z dan Budaya Kerja: Mengapa Lembur Mulai Ditinggalkan?

Mahasiswa Universitas Pamulang.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari cahya caesa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perubahan cara pandang Gen Z terhadap lembur, produktivitas, dan keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi.
Pukul lima sore, sebagian karyawan mulai merapikan meja dan bersiap pulang. Namun, ada juga yang masih duduk di depan komputer, menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Di antara mereka, mungkin ada seorang karyawan Gen Z yang memilih pulang tepat waktu karena tugasnya sudah diselesaikan. Pemandangan seperti ini terkadang menimbulkan anggapan berbeda. Ada yang menganggapnya sebagai hal biasa, tetapi ada pula yang menilai anak muda zaman sekarang kurang memiliki semangat kerja. Padahal, belum tentu mereka pulang lebih awal karena malas. Bisa jadi, mereka hanya memiliki pandangan berbeda tentang bagaimana seharusnya bekerja. Fenomena ini menarik untuk dibicarakan karena semakin banyak generasi muda yang mulai mempertanyakan kebiasaan lembur. Bagi sebagian Gen Z, bekerja bukan berarti harus selalu menghabiskan waktu lebih lama di kantor. Selama tanggung jawab sudah diselesaikan, pulang tepat waktu bukanlah sesuatu yang perlu dianggap negatif. Bekerja Bukan Berarti Harus Mengorbankan Waktu Pribadi Gen Z mulai memandang pekerjaan sebagai bagian dari kehidupan, bukan seluruh kehidupan mereka. Setelah menyelesaikan pekerjaan, mereka juga ingin memiliki waktu untuk keluarga, teman, beristirahat, atau melakukan kegiatan yang disukai. Hal ini berkaitan dengan konsep work-life balance, yaitu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Bagi generasi muda, menjaga keseimbangan tersebut penting agar pekerjaan tidak terus-menerus menguras tenaga dan pikiran. Perubahan cara pandang ini juga terlihat dari bagaimana mereka menilai produktivitas. Mereka cenderung lebih memperhatikan hasil pekerjaan dibandingkan lamanya waktu berada di kantor. Jika semua tugas dapat diselesaikan selama jam kerja, lembur bukan lagi sesuatu yang harus dilakukan hanya demi terlihat rajin. Namun, perbedaan pandangan ini terkadang sulit diterima oleh generasi sebelumnya. Sebagian orang yang sudah lama bekerja terbiasa menganggap kesediaan lembur sebagai bentuk loyalitas dan kesungguhan. Akibatnya, karyawan yang pulang tepat waktu bisa saja dianggap kurang berdedikasi. Padahal, bekerja keras dan bekerja terlalu lama merupakan dua hal yang berbeda. Seseorang tetap bisa memiliki etos kerja yang baik tanpa harus selalu pulang malam. Menolak Lembur Bukan Berarti Tidak Bertanggung Jawab Meski begitu, bukan berarti semua sikap Gen Z harus dibenarkan. Menurut saya, menjaga waktu pribadi memang penting, tetapi tanggung jawab terhadap pekerjaan tetap menjadi hal utama. Jangan sampai alasan ingin pulang tepat waktu justru digunakan untuk menghindari tugas yang belum diselesaikan. Ada kondisi tertentu ketika lembur memang diperlukan, misalnya saat menghadapi pekerjaan mendesak atau tenggat waktu yang tidak bisa ditunda. Dalam situasi seperti itu, kemampuan bekerja sama dan menyesuaikan diri tetap dibutuhkan. Di sisi lain, perusahaan juga perlu mengevaluasi kebiasaan lembur yang terjadi berulang kali. Jika karyawan terus-menerus harus bekerja di luar jam kerja karena beban tugas yang berlebihan, mungkin ada sesuatu dalam sistem kerja yang perlu diperbaiki. Menurut saya, persoalannya bukan tentang siapa yang paling lama berada di kantor, melainkan bagaimana setiap orang menjalankan tanggung jawabnya. Gen Z perlu belajar disiplin, sementara perusahaan dan generasi yang lebih senior juga perlu memahami bahwa cara kerja dapat berubah mengikuti perkembangan zaman. Pada akhirnya, lembur seharusnya tidak menjadi satu-satunya ukuran loyalitas dan produktivitas. Karyawan yang mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, menjaga komitmen, dan menghargai waktu juga menunjukkan sikap profesional. Mungkin sudah saatnya kita berhenti menganggap pulang tepat waktu sebagai tanda kemalasan. Sebab, seseorang bekerja untuk membangun kehidupan yang lebih baik, bukan justru kehilangan waktu untuk menikmati kehidupan tersebut.
