Konten dari Pengguna

Restu, Tradisi, dan Cinta: Mengapa Romeo & Juliet Masih Terjadi di Indonesia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Candra Setiya Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto koleksi pribadi saat jalan bersama kekasih tercinta
zoom-in-whitePerbesar
foto koleksi pribadi saat jalan bersama kekasih tercinta

Setiap kali membaca ulang Romeo & Juliet, saya justru merasa tragedinya bukan disebabkan oleh cinta yang berlebihan, melainkan oleh satu hal yang sangat manusiawi: tidak ada satu pun yang benar-benar mau mendengar. Semua tokoh sibuk berbicara atas nama kehormatan, aturan, dan masa depan—tanpa pernah benar-benar mendengarkan apa yang dirasakan.

Verona digambarkan sebagai kota yang gaduh. Pertengkaran terjadi di jalanan, keputusan diambil dengan emosi, dan suara yang paling keras selalu dianggap paling benar. Dalam kebisingan itu, suara dua anak muda nyaris tak punya tempat.

Romeo dan Juliet tidak kekurangan nasihat. Mereka justru kebanjiran aturan. Keluarga, masyarakat, bahkan institusi agama hadir sebagai otoritas yang memberi perintah, bukan ruang dialog. Juliet diputuskan masa depannya tanpa pernah ditanya. Romeo didorong untuk setia pada identitas keluarga tanpa diberi kesempatan mempertanyakan maknanya.

Yang jarang disadari, tragedi terbesar dalam kisah ini adalah kegagalan komunikasi. Informasi penting terlambat. Pesan tidak sampai. Keputusan diambil tanpa klarifikasi. Semua orang bereaksi, tetapi tak satu pun benar-benar berhenti untuk memahami.

Jika kisah ini terasa dekat dengan kehidupan hari ini, mungkin karena kita masih hidup dalam budaya yang sama: budaya yang cepat menghakimi, cepat memutuskan, tetapi lambat mendengar. Anak muda diminta patuh, bukan dipahami. Perasaan dianggap gangguan, bukan sinyal. Dialog sering kalah oleh otoritas.

Menariknya, Shakespeare seolah memberi sindiran halus. Perdamaian antara Montague dan Capulet baru tercapai ketika semua suara telah benar-benar sunyi. Ketika tidak ada lagi yang bisa bicara. Ketika dua nyawa telah hilang. Seolah-olah, hanya tragedi yang mampu memaksa mereka berhenti dan mendengar.

Pertanyaannya, apakah kita juga harus menunggu kehilangan sebelum belajar mendengarkan?

Romeo & Juliet bukan sekadar kisah cinta tragis. Ia adalah cermin tentang masyarakat yang gagal membangun ruang percakapan. Tentang generasi yang saling bicara, tapi tidak saling mendengar. Dan selama kita masih mengulang pola itu—di keluarga, sekolah, dan ruang sosial—kisah serupa akan terus menemukan bentuk barunya.

Barangkali tragedi terbesar bukanlah cinta yang dilarang, melainkan dunia yang tidak menyediakan ruang untuk didengarkan.