Perilaku Konsumtif: Mengapa Diskon Bikin Boros?

Mahasiswi Prodi Akuntansi Universitas Kristen Krida Wacana
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Carissa Lovia Tio tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita membuka aplikasi belanja hanya untuk melihat-lihat, tetapi akhirnya membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan? Kebiasaan ini berkaitan dengan perilaku konsumtif, yaitu ketika seseorang membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan karena tergoda diskon, promo, atau keinginan sesaat. Tanpa disadari, diskon yang terlihat menguntungkan justru bisa membuat pengeluaran semakin besar.
Fenomena ini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat, terutama sejak belanja online menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Berbagai platform menawarkan potongan harga dan promosi yang membuat konsumen tertarik untuk segera bertransaksi. Bahkan, beberapa promo hanya tersedia dalam waktu terbatas sehingga pembeli merasa harus mengambil keputusan secepat mungkin. Tanpa disadari, kegiatan belanja yang awalnya bertujuan memenuhi kebutuhan dapat berubah menjadi kebiasaan membeli karena tergoda penawaran.
Survei Katadata Insight Center bersama program Bangga Buatan Indonesia mengenai pertimbangan belanja konsumen, menunjukkan bahwa promo atau diskon menjadi salah satu pertimbangan penting dalam belanja online. Dalam survei tersebut, 58,9 persen responden menyebut promo atau diskon sebagai salah satu pertimbangan ketika berbelanja secara online. Temuan ini memperlihatkan bahwa promosi bukan hanya pelengkap dalam kegiatan jual beli, tetapi juga dapat memengaruhi keputusan konsumen.
Ketika Harga Murah Terasa Menguntungkan
Dalam ekonomi mikro, konsumen dihadapkan pada pilihan untuk memenuhi berbagai kebutuhan dengan sumber daya yang terbatas. Uang yang dimiliki tidak selalu cukup untuk membeli semua barang yang diinginkan. Karena itu, konsumen perlu mempertimbangkan manfaat yang diperoleh dan biaya yang harus dikeluarkan sebelum mengambil keputusan.
Diskon pada dasarnya dapat memberikan keuntungan. Misalnya, seseorang memang membutuhkan sepatu untuk kuliah. Harga normalnya Rp300.000, tetapi saat promo harganya menjadi Rp200.000. Jika kualitas dan manfaatnya tetap sesuai harapan, konsumen dapat menghemat Rp100.000. Dalam situasi ini, diskon membantu konsumen memenuhi kebutuhan dengan pengeluaran yang lebih rendah.
Namun, situasinya berbeda ketika seseorang sebenarnya tidak membutuhkan sepatu baru, tetapi tetap membelinya karena harga sedang turun. Ia mungkin merasa telah menghemat Rp100.000. Padahal, jika sepatu tersebut tidak dibeli, ia tidak perlu mengeluarkan uang sama sekali. Artinya, potongan harga belum tentu membuat seseorang lebih hemat apabila pembelian tersebut tidak direncanakan sejak awal.
Di sinilah perbedaan antara harga murah dan pengeluaran yang hemat menjadi penting. Harga murah hanya menunjukkan bahwa suatu barang ditawarkan dengan harga lebih rendah dibandingkan harga tertentu. Sementara itu, penghematan berkaitan dengan kemampuan seseorang mengelola uang agar dapat memenuhi kebutuhannya secara efektif.
Persoalan ini juga berhubungan dengan biaya peluang atau opportunity cost, yaitu manfaat dari pilihan lain yang harus dilepaskan ketika seseorang mengambil suatu keputusan. Uang yang digunakan untuk membeli barang yang tidak diperlukan sebenarnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan kuliah, transportasi, makanan, atau tabungan. Ketika konsumen memilih membeli barang hanya karena diskon, ada kemungkinan kebutuhan yang lebih penting justru harus ditunda.
Mengapa Kita Mudah Tergoda Promo?
Salah satu penyebabnya adalah cara promosi ditampilkan kepada konsumen. Tulisan seperti “diskon besar”, “stok terbatas”, dan “promo berakhir dalam beberapa menit” dapat menciptakan perasaan bahwa kesempatan tersebut tidak boleh dilewatkan. Akibatnya, konsumen cenderung lebih fokus pada kesempatan mendapatkan harga murah daripada mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan.
Selain itu, kemudahan berbelanja melalui ponsel membuat proses pembelian terasa semakin sederhana. Konsumen tidak perlu datang ke toko, cukup memilih barang dan melakukan pembayaran melalui aplikasi. Kemudahan ini tentu bermanfaat, tetapi juga dapat membuat seseorang lebih mudah melakukan pembelian spontan.
Penelitian Aisyah Zulsa Fitri dan Megawati Simanjuntak pada 2025, yang membahas diskon dan live streaming shopping terhadap perilaku pembelian impulsif pengguna e-commerce, menunjukkan bahwa promosi digital merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam memahami perilaku konsumen. Penelitian tersebut melibatkan 329 responden pengguna e-commerce berusia 18–39 tahun. Temuannya dapat menjadi bahan untuk memahami hubungan antara pengalaman berbelanja digital, penawaran diskon, dan kecenderungan membeli secara spontan.
Meski demikian, bukan berarti setiap orang yang memanfaatkan diskon pasti berperilaku konsumtif. Ada konsumen yang memang merencanakan pembelian dan sengaja menunggu promo agar mendapatkan harga lebih terjangkau. Persoalannya bukan terletak pada diskon itu sendiri, melainkan pada bagaimana konsumen mengambil keputusan ketika dihadapkan pada berbagai penawaran.
Menjadi Konsumen yang Lebih Bijak
Menurut saya, konsumen tidak perlu menghindari semua diskon. Promosi tetap dapat dimanfaatkan untuk menghemat pengeluaran selama pembelian dilakukan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan keuangan. Hal yang perlu diubah adalah kebiasaan menganggap setiap penawaran murah sebagai kesempatan yang wajib diambil.
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membuat daftar belanja sebelum membuka aplikasi. Dengan begitu, konsumen memiliki tujuan yang jelas dan tidak mudah terdorong membeli barang di luar rencana. Kedua, tetapkan batas pengeluaran untuk belanja bulanan. Batas ini penting agar uang untuk kebutuhan utama tidak terpakai hanya karena tergoda promo.
Ketiga, berikan jeda sebelum menyelesaikan transaksi. Jika barang tersebut bukan kebutuhan mendesak, konsumen dapat menunggu beberapa waktu untuk mempertimbangkan kembali keputusannya. Cara sederhana ini membantu membedakan keinginan sesaat dengan kebutuhan yang benar-benar penting.
Konsumen juga perlu membandingkan harga dan memperhatikan kualitas barang. Potongan harga yang besar tidak selalu menjamin bahwa suatu produk merupakan pilihan terbaik. Harga akhir, biaya tambahan, kualitas, dan manfaat barang tetap perlu dipertimbangkan. Dengan demikian, keputusan pembelian tidak hanya didasarkan pada besarnya diskon, tetapi juga pada nilai yang benar-benar diperoleh.
Pada akhirnya, menjadi konsumen yang cerdas bukan berarti selalu mendapatkan harga paling murah. Konsumen yang cerdas adalah mereka yang mampu menentukan prioritas, mempertimbangkan manfaat, dan menggunakan uang sesuai kebutuhan. Diskon seharusnya membantu kita berhemat, bukan menjadi alasan untuk mengeluarkan uang lebih banyak.
Sebab, keberhasilan mengelola keuangan bukan diukur dari seberapa banyak barang yang berhasil dibeli saat promo, melainkan dari seberapa baik kita menggunakan uang yang dimiliki. Sebelum menekan tombol beli, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar membutuhkan barang tersebut, atau hanya tidak ingin melewatkan diskonnya?
