Konten dari Pengguna

Dinamika “Just Friend” dan Realita Karier Entry-Level: Efek Quarter-Life Crisis?

Menghadapi tekanan di tempat kerja sekaligus ketidakpastian relasi interpersonal, benarkah bekerja sekadarnya menjadi strategi untuk bertahan?

Ilustrasi: Quarter Life Crisis
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Quarter Life Crisis

Bayangkan sebuah Selasa pagi yang sunyi. Di atas meja makan, laptop menampilkan satu lagi email penolakan kerja. Kalimatnya terdengar familiar: ucapan terima kasih, pemberitahuan bahwa kandidat belum dapat melanjutkan ke tahap berikutnya, lalu harapan agar kita sukses di kesempatan lain. Bagi sebagian anak muda, momen seperti ini dapat menjadi bagian dari pengalaman Quarter-Life Crisis.

Belum sempat menghela napas panjang, layar ponsel menyala. Kali ini bukan dari perusahaan, melainkan dari seseorang yang selama ini diharapkan menjadi tempat bersandar: “Maaf, sepertinya kita lebih baik ‘just friend’ saja, ya.”

Dua hal yang berbeda, tetapi sama-sama menghadirkan ketidakpastian.

Bagi sebagian anak muda yang sedang memasuki usia 20-an, situasi semacam ini mungkin terasa tidak asing. Di satu sisi, ada tuntutan untuk segera mandiri secara finansial, mendapatkan pekerjaan yang layak, dan membangun karier. Di sisi lain, ada relasi interpersonal yang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ketika keduanya terjadi dalam periode yang sama, masa transisi menuju kedewasaan dapat terasa semakin berat.

Di sinilah istilah Quarter-Life Crisis (QLC) sering muncul dalam percakapan tentang kehidupan anak muda. QLC bukan sekadar persoalan “bingung mau jadi apa”, tetapi dapat berkaitan dengan berbagai pertanyaan tentang pekerjaan, hubungan, identitas, hingga arah kehidupan.

Namun, ada satu respons menarik yang kerap muncul ketika ketidakpastian tersebut menumpuk: menarik diri dan menurunkan ekspektasi.

Dalam konteks pekerjaan, seseorang yang sebelumnya sangat ambisius dapat mulai berpikir, “Yang penting pekerjaan selesai.” Bukan karena tidak memiliki kemampuan atau cita-cita, melainkan karena energi untuk mengejar lebih banyak terasa semakin terbatas. Bekerja sekadarnya kemudian bukan selalu berarti malas. Dalam kondisi tertentu, perilaku tersebut dapat menjadi cara seseorang menetapkan batas ketika tuntutan terasa terlalu besar.

Pertanyaannya, apakah bekerja sekadarnya benar-benar merupakan strategi yang sehat untuk menghadapi tekanan?

Dan ketika persoalan karier bertemu dengan ketidakpastian hubungan interpersonal, apakah kita sedang menghadapi sebuah fase pendewasaan yang wajar, atau justru sedang membangun mekanisme pertahanan diri yang perlahan menghambat perkembangan kita?

Pertanyaan inilah yang menarik untuk dibicarakan ketika membahas QLC dan kehidupan Generasi Z.

Mimpi Gaji Ideal dan Realitas Pekerja Muda

Transisi dari dunia akademik ke dunia kerja sering kali mempertemukan ekspektasi dengan realitas yang tidak selalu sesuai harapan. Bagi sebagian lulusan baru, pekerjaan pertama bukan hanya tentang mendapatkan pengalaman, tetapi juga tentang memperoleh penghasilan yang cukup untuk mulai hidup mandiri.

Dalam survei yang kamu gunakan, 65 persen anak muda menyebut gaji dan benefit sebagai salah satu pertimbangan utama dalam memilih pekerjaan. Angka tersebut menunjukkan bahwa kompensasi masih menjadi faktor penting bagi generasi muda ketika menentukan pilihan karier. Namun, kondisi di lapangan dapat terlihat berbeda ketika dilihat berdasarkan kelompok usia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan pekerja muda berada pada tingkat yang relatif rendah dibandingkan ekspektasi penghasilan yang mungkin dibayangkan sebelum memasuki dunia kerja. Pada kelompok usia 20–24 tahun, misalnya, pendapatan rata-rata berada di kisaran Rp2,3 juta per bulan.

Bagi seseorang yang baru memulai karier, angka tersebut perlu dilihat bersama dengan kebutuhan hidup yang terus meningkat. Ketika penghasilan pertama belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sekaligus membangun tabungan, ekspektasi mengenai kehidupan setelah lulus kuliah dapat berbenturan dengan kenyataan.

Persoalannya tidak berhenti pada mereka yang sudah bekerja. Kelompok usia muda juga masih menghadapi persoalan akses terhadap pekerjaan. Tingginya jumlah pengangguran pada kelompok usia produktif menunjukkan bahwa memperoleh pekerjaan pertama bukan perkara sederhana bagi semua lulusan baru.

Di saat yang sama, perkembangan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara perusahaan mengelola pekerjaan. Sejumlah pekerjaan yang sebelumnya menjadi ruang belajar bagi pekerja pemula berpotensi mengalami perubahan akibat otomatisasi. Fenomena yang dalam sejumlah diskusi ketenagakerjaan disebut sebagai apprenticeship foreclosure menggambarkan kekhawatiran ketika pekerjaan tingkat awal yang selama ini menjadi “tangga pertama” menuju karier semakin berkurang.

Jika kesempatan untuk memperoleh pengalaman pertama semakin terbatas, sementara tuntutan untuk segera mandiri semakin tinggi, tekanan yang dirasakan pekerja muda tentu dapat menjadi semakin kompleks. Bukan hanya pertanyaan “berapa gaji yang akan saya dapatkan?”, tetapi juga “apakah saya masih memiliki kesempatan untuk membangun karier dari bawah?”

Ketika Beban Kantor Bertemu Status “Just Friend”

Stres di tempat kerja modern tidak selalu berhenti ketika jam kerja selesai. Tekanan pekerjaan dapat terbawa ke kehidupan pribadi, terutama ketika seseorang belum memiliki cukup ruang atau kemampuan untuk memisahkan urusan profesional dari persoalan personal. Pada fase awal karier, situasi tersebut dapat terasa semakin berat karena individu masih beradaptasi dengan tuntutan pekerjaan, membangun kompetensi, sekaligus mencoba menentukan arah hidup yang ingin dijalani.

Quarter-Life Crisis (QLC) sendiri tidak hanya berkaitan dengan persoalan karier. Konsep ini sering digunakan untuk menggambarkan berbagai kegelisahan yang muncul ketika seseorang memasuki masa transisi menuju kehidupan dewasa, termasuk pertanyaan mengenai pekerjaan, identitas, hubungan interpersonal, dan masa depan. Artinya, tekanan pada fase ini dapat muncul dari beberapa sisi kehidupan secara bersamaan.

Dalam hubungan romantis, salah satu bentuk ketidakpastian yang cukup familiar adalah ketika hubungan yang diharapkan berkembang justru berakhir pada status “just friend”. Bagi orang yang tidak memiliki keterikatan emosional yang kuat, perubahan tersebut mungkin terasa sederhana. Namun, bagi mereka yang sudah menaruh harapan, situasi ini dapat menjadi pengalaman yang mengecewakan.

Kekecewaan tersebut bukan hanya berkaitan dengan hilangnya kemungkinan untuk memiliki hubungan romantis. Ada pula proses menerima kenyataan bahwa seseorang yang sebelumnya dianggap memiliki tempat khusus dalam hidup ternyata tidak memiliki perasaan yang sama. Dalam kondisi tertentu, pengalaman semacam ini dapat membuat seseorang mempertanyakan kembali ekspektasi, keputusan, bahkan cara dirinya memandang sebuah hubungan.

Padahal, hubungan interpersonal dapat menjadi salah satu sumber dukungan ketika seseorang menghadapi tekanan kehidupan. Teman, keluarga, maupun pasangan dapat menjadi ruang untuk berbagi cerita dan memulihkan energi setelah menghadapi hari yang melelahkan. Ketika salah satu sumber dukungan tersebut tidak tersedia seperti yang diharapkan, beban emosional yang dirasakan seseorang dapat menjadi lebih berat.

Persoalannya menjadi semakin kompleks ketika kekecewaan personal terjadi bersamaan dengan tekanan pekerjaan.

Bagi pekerja entry-level, masa awal karier merupakan periode adaptasi. Individu masih mempelajari sistem kerja, budaya organisasi, pola komunikasi, serta ekspektasi atasannya. Pada saat yang sama, tanggung jawab dapat terus bertambah. Instruksi yang kurang jelas, tuntutan pekerjaan yang tinggi, atau minimnya dukungan dari lingkungan kerja dapat membuat proses adaptasi menjadi lebih melelahkan.

Ketika tekanan tersebut bertemu dengan persoalan personal, batas antara kehidupan profesional dan pribadi menjadi semakin sulit dijaga. Kekecewaan dalam hubungan dapat menguras energi emosional, sementara tekanan pekerjaan mengurangi kesempatan untuk memulihkan diri. Keduanya kemudian dapat menciptakan siklus yang melelahkan: bekerja sepanjang hari, pulang dengan tubuh yang lelah, tetapi pikiran tetap dipenuhi persoalan yang belum selesai.

Pada titik tersebut, seseorang mungkin mulai mempertanyakan banyak hal.

Apakah pekerjaan yang sedang dijalani benar-benar sesuai dengan tujuan hidup? Apakah karier ini memiliki masa depan? Apakah hubungan yang diharapkan memang layak diperjuangkan? Mengapa kehidupan orang lain terlihat lebih terarah, sementara diri sendiri masih sibuk mencari jawaban?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari proses pencarian arah hidup yang dapat muncul pada masa dewasa muda. Seseorang tidak hanya sedang mencari pekerjaan atau pasangan, tetapi juga sedang membangun pemahaman mengenai siapa dirinya, apa yang dianggap penting, dan kehidupan seperti apa yang ingin dijalani.

Di sinilah “beban kantor bertemu status just friend” menjadi lebih dari sekadar cerita tentang pekerjaan yang melelahkan atau hubungan yang tidak berhasil. Keduanya dapat menjadi gambaran tentang bagaimana berbagai bentuk ketidakpastian hadir secara bersamaan dalam kehidupan dewasa muda.

Namun, penting untuk tidak menyederhanakan pengalaman tersebut. Tidak semua pekerja muda yang mengalami penolakan dalam hubungan akan mengalami QLC. Begitu pula tekanan pekerjaan tidak otomatis menyebabkan seseorang mengalami krisis. Dampaknya sangat bergantung pada kondisi individu, lingkungan sosial, kemampuan menghadapi tekanan, serta sumber dukungan yang dimiliki.

Yang menarik justru adalah bagaimana seseorang merespons ketidakpastian tersebut.

Sebagian mungkin memilih untuk mengejar karier lebih keras. Sebagian lainnya mulai menurunkan ekspektasi dan bekerja sekadarnya. Ada pula yang menarik diri dari hubungan interpersonal karena merasa tidak ingin kembali kecewa. Strategi-strategi tersebut dapat memberikan rasa aman dalam jangka pendek, tetapi belum tentu menyelesaikan persoalan yang mendasarinya.

Pada akhirnya, QLC bukan semata-mata tentang gagal mendapatkan pekerjaan ideal atau tidak berhasil memiliki hubungan yang diharapkan. Ia dapat menjadi periode ketika seseorang dipaksa berhadapan dengan kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Status “just friend” mungkin terasa seperti penolakan. Pekerjaan yang melelahkan mungkin terasa seperti jalan buntu. Masa depan mungkin tampak semakin kabur. Namun, ketidakpastian tersebut juga dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kembali apa yang benar-benar penting.

Tidak semua pertanyaan harus memiliki jawaban hari ini. Belum mengetahui arah yang tepat bukan berarti seseorang tertinggal. Dalam banyak kasus, proses menjadi dewasa memang tidak berlangsung dalam garis lurus. Ada keputusan yang perlu dievaluasi, ekspektasi yang perlu diturunkan, dan rencana yang harus dibangun kembali.

Mungkin pada akhirnya, persoalannya bukan bagaimana menghindari fase yang berantakan tersebut, melainkan bagaimana menggunakannya untuk memahami diri sendiri dengan lebih jujur.

Quiet Quitting: Strategi Bertahan atau Jalan Buntu?

Ketika energi untuk menghadapi pekerjaan mulai terbatas, seseorang dapat memilih untuk berhenti memberikan usaha di luar tanggung jawab utamanya. Perilaku yang belakangan populer disebut quiet quitting ini sebenarnya bukan berarti seseorang benar-benar berhenti bekerja atau sengaja mengabaikan pekerjaannya. Istilah tersebut lebih sering digunakan untuk menggambarkan kecenderungan karyawan membatasi pekerjaannya pada tanggung jawab formal tanpa terus-menerus memberikan usaha tambahan.

Dalam praktiknya, keputusan untuk “bekerja sesuai porsi” dapat menjadi cara seseorang menetapkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Ketika tuntutan pekerjaan semakin besar sementara waktu dan energi terbatas, individu mungkin merasa bahwa memberikan kontribusi ekstra tidak lagi menjadi prioritas.

Fenomena ini dapat dilihat melalui perspektif Conservation of Resources (COR) Theory yang dikembangkan oleh Stevan E. Hobfoll. Teori tersebut menjelaskan bahwa individu berusaha mempertahankan, melindungi, dan memperoleh sumber daya yang dianggap bernilai. Sumber daya tersebut tidak hanya berupa uang atau waktu, tetapi juga dapat mencakup energi, perhatian, kemampuan, dan berbagai kondisi yang membantu seseorang menghadapi tuntutan kehidupan.

Ketika sumber daya tersebut terus terkuras oleh beban kerja, burnout, atau ketidakpastian pekerjaan (job insecurity), individu dapat berusaha mengurangi pengeluaran sumber daya yang dianggap tidak mendesak. Dalam konteks pekerjaan, salah satu bentuknya adalah mengurangi keterlibatan dalam aktivitas extra-role, yaitu aktivitas yang berada di luar tanggung jawab formal pekerjaan.

Dari perspektif ini, quiet quitting tidak selalu tepat dipahami sebagai kemalasan. Dalam kondisi tertentu, perilaku tersebut dapat menjadi bentuk penetapan batas atau upaya mempertahankan sumber daya pribadi. Seseorang tetap menyelesaikan pekerjaan utama, memenuhi tenggat waktu, dan menjaga standar yang diperlukan, tetapi tidak lagi merasa perlu untuk selalu menjadi orang pertama yang mengambil pekerjaan tambahan atau menawarkan bantuan di luar tanggung jawabnya.

Dalam jangka pendek, pola tersebut bahkan belum tentu langsung mengganggu kinerja utama. Dari luar, pekerjaan masih berjalan seperti biasa. Namun, perubahan dapat terjadi pada hubungan psikologis seseorang dengan pekerjaannya. Karyawan mungkin masih menjalankan kewajibannya, tetapi keterlibatan, antusiasme, dan keinginan untuk berkembang di dalam organisasi mulai berkurang.

Di sinilah persoalan quiet quitting menjadi lebih kompleks. Membatasi pekerjaan dapat membantu seseorang menghemat energi, tetapi tidak otomatis menyelesaikan penyebab yang membuat energi tersebut terkuras. Jika akar persoalannya adalah beban kerja yang tidak sehat, instruksi yang tidak jelas, kurangnya dukungan atasan, lingkungan kerja yang tidak kondusif, atau persoalan personal yang terbawa ke tempat kerja, maka mengurangi kontribusi ekstra hanya menyelesaikan sebagian masalah.

Hal tersebut relevan ketika dikaitkan dengan Quarter-Life Crisis (QLC) pada lulusan baru dan pekerja muda. Memasuki dunia kerja sering kali membawa sejumlah ekspektasi: memperoleh pengalaman, membangun karier, meningkatkan kondisi ekonomi, sekaligus menemukan lingkungan kerja yang sesuai dengan nilai pribadi. Ketika realitas pekerjaan tidak sesuai dengan harapan, kesenjangan tersebut dapat membuat seseorang mengevaluasi kembali pilihan kariernya.

Sejumlah penelitian mengenai QLC dan turnover intention pada pekerja muda juga menunjukkan adanya hubungan antara krisis pada fase transisi menuju dewasa dengan keinginan untuk meninggalkan pekerjaan. Namun, temuan penelitian semacam ini perlu dibaca secara hati-hati. Hubungan antara QLC dan keinginan untuk resign tidak berarti bahwa QLC merupakan satu-satunya penyebab seseorang meninggalkan pekerjaannya. Faktor seperti kepuasan kerja, kompensasi, lingkungan organisasi, hubungan dengan atasan, peluang pengembangan karier, serta kondisi personal juga dapat memengaruhi keputusan tersebut.

Dengan demikian, quiet quitting dapat menjadi strategi bertahan, tetapi juga berpotensi berubah menjadi jalan buntu jika hanya digunakan untuk mengurangi gejala tanpa menyentuh akar masalah. Mengurangi pekerjaan ekstra mungkin memberikan ruang untuk bernapas. Namun, jika rasa tidak puas, kecemasan mengenai masa depan, dan ketidakjelasan arah karier tetap ada, persoalan tersebut hanya berpindah tempat.

Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukan sekadar apakah quiet quitting merupakan perilaku yang baik atau buruk, melainkan mengapa seseorang sampai merasa perlu melakukannya.

Karyawan yang mulai bekerja sesuai batas tanggung jawabnya belum tentu malas. Bisa jadi ia sedang berusaha mempertahankan sumber daya yang tersisa. Sebaliknya, organisasi juga tidak cukup hanya meminta karyawan kembali “lebih bersemangat” tanpa mengevaluasi kondisi yang membuat keterlibatan mereka menurun.

Bagi pekerja muda yang sedang membangun karier sekaligus mencari arah hidup, dukungan atasan, kejelasan pekerjaan, beban kerja yang wajar, kesempatan berkembang, dan lingkungan kerja yang sehat bukan sekadar fasilitas tambahan. Faktor-faktor tersebut dapat menentukan apakah seseorang mampu kembali terlibat dalam pekerjaannya, memilih bertahan dan berkembang, atau pada akhirnya memutuskan untuk mencari tempat lain.

Keluar dari Krisis: Belajar Menerima Diri dan Menjaga Harapan

Ketika Karier dan Relasi Belum Sesuai Harapan, Self-Acceptance dan Hope Dapat Menjadi Bekal untuk Menentukan Langkah Berikutnya

Bagan visual kontribusi faktor psikologis QLC

Untuk melihat faktor psikologis yang berkaitan dengan kemampuan anak muda menghadapi ketidakpastian karier, sejumlah penelitian di Indonesia memberikan gambaran yang menarik. Beberapa di antaranya menunjukkan bahwa harapan (hope), keyakinan terhadap kemampuan diri (self-efficacy), dan penerimaan diri (self-acceptance) memiliki hubungan negatif dengan kecemasan maupun berbagai bentuk krisis pada masa transisi menuju dewasa.

Dalam salah satu penelitian, kombinasi antara hope dan self-efficacy dilaporkan memiliki kontribusi efektif sebesar 62,1% terhadap pengambilan keputusan karier Gen Z. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan untuk melihat kemungkinan masa depan sekaligus keyakinan bahwa diri sendiri mampu mengambil tindakan dapat menjadi modal psikologis penting ketika seseorang menghadapi ketidakpastian karier.

Jika dilihat secara terpisah, hope menunjukkan hubungan negatif yang kuat dengan kecemasan, dengan nilai korelasi sebesar r = -0,738. Penelitian yang sama atau penelitian terkait juga melaporkan kontribusi sebesar 54,4%, tergantung pada model analisis yang digunakan. Artinya, semakin tinggi tingkat harapan yang dimiliki individu dalam konteks penelitian tersebut, semakin rendah kecemasan yang dilaporkan.

Hal serupa terlihat pada self-efficacy. Nilai korelasi r = -0,731 menunjukkan hubungan negatif yang kuat, sementara kontribusi yang dilaporkan mencapai 53,4%. Secara sederhana, keyakinan bahwa seseorang mampu menghadapi tuntutan dan menyelesaikan persoalan dapat berkaitan dengan tingkat kecemasan yang lebih rendah ketika menghadapi ketidakpastian.

Sementara itu, self-acceptance juga menunjukkan hubungan negatif yang cukup kuat dengan kecemasan, dengan nilai r = -0,685 dan kontribusi yang dilaporkan sebesar 46,9%. Penerimaan diri dapat membantu seseorang melihat kegagalan secara lebih proporsional. Penolakan dalam proses rekrutmen, kegagalan dalam hubungan, atau keputusan karier yang ternyata tidak sesuai harapan tidak harus selalu diterjemahkan sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik.

Faktor lainnya juga memiliki hubungan yang perlu diperhatikan. Kecerdasan emosional dilaporkan memiliki korelasi negatif sebesar r = -0,447 dengan kontribusi sebesar 20,0%, sedangkan ekspektasi terhadap keberhasilan karier menunjukkan korelasi r = -0,346 dengan kontribusi sebesar 11,9%. Meskipun hubungan keduanya lebih rendah dibandingkan beberapa faktor sebelumnya, temuan tersebut tetap menunjukkan bahwa kemampuan mengelola emosi dan memiliki pandangan terhadap masa depan dapat menjadi bagian dari proses menghadapi ketidakpastian.

Namun, angka-angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Nilai korelasi menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa suatu faktor secara langsung menyebabkan penurunan kecemasan atau keberhasilan seseorang dalam mengambil keputusan karier. Selain itu, angka dari penelitian yang berbeda tidak selalu dapat dibandingkan secara langsung karena karakteristik responden, instrumen pengukuran, variabel yang digunakan, dan metode analisisnya dapat berbeda.

Meski demikian, terdapat satu pesan yang cukup konsisten: kemampuan internal dapat menjadi salah satu modal penting ketika seseorang menghadapi fase kehidupan yang penuh ketidakpastian.

Harapan membantu seseorang membayangkan kemungkinan masa depan. Self-efficacy membuatnya percaya bahwa ia memiliki kemampuan untuk mengambil langkah menuju masa depan tersebut. Sementara itu, self-acceptance membantu seseorang menerima bahwa kegagalan dan ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan merupakan bagian dari proses kehidupan.

Dengan demikian, menghadapi Quarter-Life Crisis bukan berarti harus memiliki semua jawaban sejak awal. Yang lebih penting adalah memiliki cukup ruang untuk menerima kondisi saat ini, tetap percaya bahwa diri sendiri mampu mengambil langkah berikutnya, dan mempertahankan harapan meskipun arah perjalanan belum sepenuhnya jelas.

Bagi Gen Z yang sedang menghadapi penolakan kerja, ketidakpastian karier, atau hubungan yang tidak berjalan sesuai harapan, membangun kapasitas psikologis tersebut mungkin tidak langsung mengubah keadaan di luar diri. Namun, kemampuan tersebut dapat membantu seseorang menentukan bagaimana ia akan merespons keadaan yang tidak dapat dikendalikannya.

Menavigasi Ketidakpastian: Bukan Berarti Kita Gagal

Pada akhirnya, Quarter-Life Crisis (QLC) pada lulusan baru dan pekerja entry-level Generasi Z tidak serta-merta menunjukkan bahwa seseorang gagal menjalani hidup. Rasa bingung, cemas, kecewa, atau mempertanyakan kembali pilihan yang telah dibuat dapat muncul ketika seseorang berada dalam masa transisi menuju kehidupan dewasa.

Persoalannya, fase tersebut sering kali berlangsung bersamaan dengan tekanan yang nyata. Tuntutan untuk mandiri secara finansial, persaingan mendapatkan pekerjaan, perubahan dunia kerja akibat teknologi dan kecerdasan buatan, serta ketidakpastian dalam hubungan interpersonal dapat hadir dalam waktu yang berdekatan. Ketika berbagai tekanan tersebut bertemu, tidak mengherankan jika sebagian pekerja muda merasa kehabisan energi dan mulai mempertanyakan apakah usaha yang mereka lakukan masih sepadan.

Dalam kondisi tertentu, quiet quitting dapat menjadi salah satu cara untuk menetapkan batas. Bekerja sesuai tanggung jawab formal tanpa terus-menerus mengambil pekerjaan tambahan tidak selalu berarti seseorang telah menyerah terhadap kariernya. Bisa jadi, ia sedang berusaha menghemat sumber daya yang tersisa.

Namun, bertahan tidak sama dengan berhenti bergerak.

Jika penarikan diri berlangsung terlalu lama tanpa memahami penyebabnya, persoalan yang mendasari justru dapat semakin sulit diselesaikan. Karena itu, tantangannya bukan sekadar bagaimana mengurangi tekanan, tetapi juga bagaimana membangun kembali pijakan agar seseorang dapat mengambil keputusan dengan lebih sadar.

Salah satu pijakan tersebut adalah self-acceptance. Tidak semua orang harus memiliki karier mapan pada usia tertentu. Tidak semua hubungan harus berakhir menjadi hubungan romantis. Tidak semua keputusan yang pernah dibuat juga harus menghasilkan sesuatu yang sempurna.

Kita mungkin salah memilih pekerjaan, terlalu berharap kepada seseorang, gagal dalam proses rekrutmen, atau merasa tertinggal ketika melihat pencapaian orang lain. Mengakui kenyataan tersebut bukan berarti merendahkan diri sendiri. Sebaliknya, penerimaan diri dapat menjadi langkah awal untuk melihat kegagalan sebagai pengalaman, bukan sebagai identitas.

Selain menerima kondisi diri, hope juga penting untuk dipertahankan. Harapan bukan berarti memaksa diri untuk selalu berpikir positif atau meyakini bahwa segala sesuatu pasti berjalan sesuai rencana. Harapan berarti masih melihat adanya kemungkinan untuk memperbaiki keadaan dan menemukan jalan lain ketika rencana pertama tidak berhasil.

Di sisi lain, self-efficacy membantu seseorang mempertahankan keyakinan bahwa dirinya mampu mengambil tindakan dan menghadapi persoalan yang ada. Ketiganya (self-acceptance, hope, dan self-efficacy) tidak menghilangkan masalah eksternal. Namun, ketiganya dapat memengaruhi cara seseorang merespons keadaan yang belum dapat dikendalikannya.

Kita tidak dapat menentukan seberapa cepat dunia kerja berubah, seberapa ketat persaingan mendapatkan pekerjaan, atau apakah seseorang yang kita harapkan akan memilih untuk tetap bersama kita. Yang masih berada dalam kendali adalah bagaimana kita menyikapi keadaan tersebut.

Kita boleh lelah. Kita boleh kecewa. Kita bahkan boleh mengakui bahwa untuk sementara waktu kita belum tahu harus ke mana.

Yang perlu dihindari adalah mengubah keadaan sementara menjadi kesimpulan permanen tentang diri sendiri.

Pekerjaan yang gagal didapatkan bukan bukti bahwa kita tidak kompeten. Hubungan yang tidak berlanjut bukan bukti bahwa kita tidak layak dicintai. Karier yang berjalan lebih lambat dari orang lain bukan berarti kita tertinggal.

QLC, bagi sebagian orang, mungkin memang terasa seperti persimpangan. Ia memaksa kita berhenti sejenak untuk mengevaluasi pilihan, mengukur kembali kemampuan, dan menentukan arah yang ingin dituju. Jalan yang baru mungkin berbeda dari rencana awal, tetapi perubahan arah tidak selalu berarti kegagalan.

Pada akhirnya, menjadi dewasa bukan tentang memiliki semua jawaban pada usia tertentu. Mungkin kita memang tidak tahu pekerjaan apa yang akan dijalani lima tahun lagi, siapa yang akan menemani perjalanan tersebut, atau apakah rencana hari ini akan tetap relevan di masa depan.

Dan tidak apa-apa.

Sebab, barangkali kedewasaan bukan tentang seberapa cepat kita menemukan tujuan, melainkan tentang kemampuan untuk tetap mengenali diri sendiri ketika arah perjalanan berubah.

Kita tidak harus tahu seluruh jalan untuk mulai melangkah.