Konten dari Pengguna

Olahraga dan Media Sosial: Sehat sebagai Performa Publik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Charisa Salma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi AI tentang fenomena olahraga dan media sosial di era digital
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi AI tentang fenomena olahraga dan media sosial di era digital

Di era olahraga dan media sosial, kamera depan yang selalu siap siaga adalah hal yang lumrah di zaman sekarang. Keringat sebagai bukti yang bisa diunggah. Napas terengah-engah dianggap tanda rajin, badan pegal bisa menjadi caption motivasi, dan olahraga baru dianggap sah kalau angkanya nongol di aplikasi.

Olahraga yang dulunya soal badan dan niat pribadi kini ikut masuk etalase publik. Ia tampil rapi di feed, kena filter, dikasih caption sok bijak, lalu nunggu reaksi. Hingga muncul pertanyaan yang kelihatan sepele tapi bikin nggak nyaman, sebenarnya kita olahraga untuk diri sendiri atau buat penonton yang bahkan nggak hafal nama kita?

Olahraga yang Mengejar Sorotan

Hari ini, olahraga jarang berdiri sendirian. Tripod, smartwatch, dan bunyi notifikasi bagaikan sahabat sejati yang tak bisa dipisahkan. Ada masa dimana olahraga cukup dilakukan bukan hanya untuk dipamerkan. Kini keringat sering kali bekerja dua kali, bukan untuk tubuh tapi juga untuk algoritma. Dari plank setengah menit sampai jogging lima menit, semuanya terasa lebih berarti setelah diunggah.

Flexing tidak lahir begitu saja, ia lahir berdasarkan kebutuhan manusia itu sendiri. Kebutuhan untuk dilihat dan diakui. Tubuh adalah subjek yang paling mudah dijadikan pajangan. Kelihatan, konkret, gampang dipamerin dengan sedikit polesan angel yang menarik. Sehingga tak heran jika flexing jadi budaya, sebab tubuh sehat dipamerkan bukan karena dirawat tetapi karena layak dipertontonkan.

Validasi Digital: Keringat yang Dianggap Sah Ketika Terunggah

Ketika pengakuan jadi tujuan utama, relasi kita terhadap olahraga akan ikut berubah. Gerakan tubuh tak lagi soal rasa, tapi soal respons. Keringat dinilai dari jumlah likes. Capek dianggap prestasi. Istirahat malah terasa seperti kemunduran.

Dalam relasi olahraga dan media sosial, tubuh bukan lagi sekedar alat bergerak, tapi etalase yang harus terlihat aktif, disiplin, dan produktif. Perlahan olahraga pun berubah makna, dari upaya menjaga kesehatan menjadi cara membuktikan bahwa kita masih ”on track” sebagai manusia yang layak dipuji.

Ironisnya, tubuh yang seharusnya menjadi subjek perlahan berubah menjadi objek pajangan publik. Hingga kita berhenti bertanya, ”Apakah aku baik-baik saja?” dan mulai sibuk memastikan , ”Apakah aku cukup mengesankan?”

Ini bukan salah olahraga dan bukan juga sepenuhnya salah media sosial. Namun, sebenarnya yang bermasalah adalah cara kita memaknainya. Ketika sehat lebih dipentingkan sebagai tampilan ketimbang kondisi, olahraga pun juga pelan-pelan berubah menjadi performa. Dari situ muncul dorongan untuk appearing healthy, bukan being healthy. Sehat sebagai citra, bukan sebagai kondisi yang benar-benar dirasakan.

Sehat Tak Lagi Personal, Tapi Performa Sosial

Olahraga di era ini bukan lagi soal gaya hidup tapi simbol status, identitas, bahkan komoditas. Tubuh jadi etalase pencapaian dan kesehatan menjadi bahasa baru dalam gaya hidup sehat untuk berkata, ”Aku berhasil.” Tapi seringkali di balik feed yang rapi, ada lelah yang disembunyikan, cedera yang tak pernah bisa disuarakan, dan motivasi yang rapuh karena tanpa penonton semangat ikut menguap.

Mungkin dapat dipertanyakan lagi, sebenarnya kita masih olahraga untuk tubuh kita atau hanya ngasih makan ego publik yang setelah liat selang lima detik kemudian lupa?

Kalau sehat baru terasa sah setelah diunggah, mungkin yang lelah bukan cuma otot tapi juga cara kita memaknai diri. Ditengah banjirnya konten hidup sehat, mungkin yang paling radikal justru olahraga yang tak diunggah, karena bisa jadi kesehatan yang paling jujur memang yang tak butuh penonton.