Hoaks di Media Sosial Makin Pintar, Saatnya Anak Muda Jadi Lebih Cerdas

Mahasiswa Unpam
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Chaudry Ahmad Rizaldy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hoaks di media sosial kini makin pintar. Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat 16.999 hoaks sejak Agustus 2018 hingga 29 Juli 2026, dengan 917 di antaranya muncul pada tahun ini. Kompas.id melaporkan video deepfake yang mencatut pejabat dan artis masih beredar di Facebook dan TikTok. Sebagai contoh, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dan artis Raffi menjadi sasaran konten rekayasa AI.
Hoaks di Media Sosial Kini Dibuat dengan AI
Menurut data Komdigi, penipuan menjadi isu hoaks terbanyak dengan 3.904 kasus, disusul pemerintahan sebanyak 2.997 dan kesehatan sebanyak 2.610. Artinya hoaks bisa menguras tabungan, menyesatkan keputusan berobat, dan merusak kepercayaan antarsesama.
Salah satu video deepfake yang diperiksa Mafindo bersama alat deteksi Hive Moderation terbukti buatan AI dengan probabilitas 99,8 persen. Hingga 14 Oktober, video itu sudah mendapat 5.352 suka, 756 komentar, dan dibagikan ulang 137 kali. Fact Checker Senior Mafindo, Bentang Febrylian, menyebut pencatutan figur publik seperti ini memang sering ditemukan di Facebook dan TikTok.
Angkanya terus naik. Dari 10.212 artikel Turnbackhoax.id sepanjang 2022 hingga Agustus 2026, Mafindo menemukan 665 hasil pemeriksaan hoaks yang diduga dibuat dengan AI, 172 di antaranya pada Januari hingga Agustus tahun ini. Setahun sebelumnya, 202 dari 1.593 hoaks yang diverifikasi, atau 12,7 persen, sudah memakai AI.
Jurus Anak Muda Melawan Hoaks
Kabar baiknya, perlawanan ikut tumbuh dari Jakarta. Jalahoaks, platform cek fakta Diskominfotik DKI Jakarta yang diluncurkan pada 2020 untuk membendung banjir kabar bohong, juara kategori Ethical Dimensions of Information Society di WSIS Prizes 2026. Penghargaan dari badan PBB bidang telekomunikasi, ITU, itu diserahkan di Jenewa, Swiss, pada 9–10 Juli. Dari 1.595 usulan dunia, hanya 360 yang masuk tahap nominasi. Penghargaan diterima Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, mewakili Jalahoaks. Kepala Diskominfotik DKI, Marulina Dewi, menegaskan melawan hoaks butuh kerja sama pemerintah, media, akademisi, dan masyarakat.
Semangat yang sama hidup di Program Duta Antihoaks Jakarta 2026. Seleksi dan pembinaan berjalan sejak Juli, diikuti 356 pendaftar yang melewati seleksi administrasi, seleksi bertahap, In House Training, hingga pembekalan penyusunan kampanye. Sepuluh finalis menjalankan Proyek Kampanye Literasi Digital pada 28 Agustus sampai 25 September, lalu mempresentasikannya di depan juri pada 29 September. Dewan juri terdiri dari Marulina Dewi, Rizki Ameliah dari BPSDM Komdigi, motivator Merry Riana, aktor Dennis Adhiswara, dan Nong Darol Mahmada, Staf Khusus Gubernur DKI. Penilaian mencakup kreativitas, relevansi pada masalah nyata, kemampuan implementasi, kepemimpinan, dampak, dan keberlanjutan. Pengukuhan dijadwalkan Oktober, dan para duta akan bermitra dengan sekolah, kampus, serta komunitas.
Marulina menekankan bahwa di era AI, pertahanan terbaik bukan hanya teknologi, tetapi masyarakat yang terbiasa memeriksa sumber dan berpikir sebelum membagikan. Pemerintah pusat pun mengarahkan program literasi digital ke kecakapan AI dan pencegahan hoaks, seperti disampaikan Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria pada 25 Juni 2026.
Jurusnya bisa kita mulai hari ini. Perhatikan gerak mata, bibir, kedipan, dan suara yang tidak sinkron, seperti saran Mafindo Kupang. Lalu periksa sumber dan tanggal, dan cari di Turnbackhoax.id sebelum membagikan. Menahan jempol adalah wujud kemanusiaan dan keadilan paling sederhana, karena satu unggahan bisa melukai banyak orang.
