Karhutla Kalimantan Ditekan Lewat Gotong Royong Warga dan Negara

Mahasiswa Unpam
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Chaudry Ahmad Rizaldy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memasuki pertengahan Oktober 2026, karhutla Kalimantan masih menjadi perhatian bersama. Data Kementerian Kehutanan mencatat luas kebakaran nasional pada Januari hingga Juli mencapai 202 ribu hektare, naik 69 persen dari periode yang sama tahun lalu. Kabar yang melegakan datang dari pemantauan terbaru. Hingga 13 Oktober pukul 21.00 WIB, titik panas berkepercayaan tinggi atau high confidence hotspot secara nasional turun drastis menjadi 244 titik, dengan Kalimantan Tengah sebagai yang tertinggi di angka 65 titik.
Warga Jadi Garda Terdepan Atasi Karhutla Kalimantan
Di Kalimantan Tengah, pemerintah provinsi menurunkan sekitar 2.200 anggota Masyarakat Peduli Api untuk berpatroli dan menangani titik api sejak dini. Mereka warga biasa yang peduli pada kampungnya. Secara nasional, lebih dari 60 ribu personel gabungan bergerak di lapangan dengan tingkat keberhasilan pemadaman di atas 80 persen dari lahan yang baru terbakar setiap hari. Di Kalimantan Selatan, hotspot pada 12 Oktober tercatat terendah di Kalimantan. Inilah persatuan yang bekerja nyata.
Hasilnya mulai terlihat. Hingga 13 Oktober pukul 21.00 WIB, titik panas berkepercayaan tinggi secara nasional turun drastis menjadi 244 titik, dengan Kalimantan Tengah sebagai yang tertinggi di angka 65 titik. Namun angkanya masih naik-turun dari hari ke hari, dan hujan alami baru diperkirakan turun awal November, sehingga operasi modifikasi cuaca dan pemadaman terus diperkuat. Keadilan pun ditegakkan: kepolisian menetapkan 12 tersangka kasus karhutla di Kalimantan Tengah.
Pekerjaan Rumah: Dari Gotong Royong Krisis ke Pencegahan
Catatan pentingnya, penanganan karhutla Kalimantan masih kuat saat darurat, tetapi belum kuat sebagai sistem pencegahan. Relawan yang bertaruh di garis depan berhak atas pelatihan, perlengkapan keselamatan, dan perlindungan yang layak. Menghargai mereka adalah wujud kemanusiaan itu sendiri.
Kita pun bisa ikut berperan: tidak membakar lahan atau sampah, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan segera melapor jika melihat titik api. Hutan yang terjaga adalah warisan terbaik bagi generasi berikutnya.
