Ketika Hidup Baru Dimulai Saat Kau Tahu Kematian Mendekat: The Blue Castle
Tulisan dari Chelsea Cew tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

The Blue Castle adalah novel karya L. M. Montgomery yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1926. Novel ini bergenre fiksi klasik, coming-of-age, dan romansa, dengan kisah yang berpusat pada Valancy Stirling, seorang perempuan berusia 29 tahun yang selama hidupnya selalu berada di bawah tekanan keluarga dan tuntutan lingkungan sekitarnya. Valancy hidup dalam keluarga yang kaku dan sangat memperhatikan pandangan orang lain. Karena belum menikah di usianya, ia dianggap sebagai seorang “old maid” dan sering menjadi sasaran kritik serta penilaian dari keluarganya. Kehidupannya yang monoton membuat Valancy menciptakan sebuah tempat dalam imajinasinya yang ia sebut sebagai Blue Castle, sebuah dunia ideal tempat ia dapat hidup bebas dari ketakutan dan penilaian orang lain.
Kehidupan Valancy mulai berubah ketika ia diam-diam memeriksakan rasa sakit yang selama ini ia rasakan di dadanya. Dari Dr. Trent, ia kemudian mengetahui bahwa dirinya menderita penyakit jantung parah dan diperkirakan hanya memiliki waktu hidup sekitar satu tahun. Anehnya, kabar tersebut justru menjadi titik balik bagi Valancy. Selama ini ia terlalu takut untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya sendiri karena selalu memikirkan apa yang akan dikatakan orang lain. Ketika merasa bahwa waktunya sudah tidak banyak lagi, ia akhirnya berhenti hidup hanya untuk memenuhi ekspektasi keluarganya. Ia kemudian bekerja untuk merawat Cissy Gay, seorang teman masa kecil yang sedang sakit keras, dan dalam perjalanan tersebut ia menemukan arti persahabatan, keberanian, kebebasan, serta cinta melalui hubungannya dengan Barney Snaith.
Hal yang paling membuat saya merasa dekat dengan novel ini adalah ketakutan Valancy. Ada ketakutan terhadap masa depan, terhadap penilaian orang lain, terhadap perubahan, bahkan terhadap kemungkinan membuat keputusan yang tidak sesuai dengan harapan orang-orang di sekitarnya. Ketika Valancy mengatakan,
“I always will be [afraid] I know it... I don't know what it would be like not to be afraid of something,”
Saya merasa kalimat tersebut sangat menggambarkan diri saya. Saya juga sering merasa takut ketika harus memulai sesuatu yang baru atau mengambil keputusan yang belum pernah saya ambil sebelumnya. Kadang-kadang, sesuatu yang bahkan belum terjadi sudah terasa menakutkan hanya karena saya membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.
Karena itu, melihat perubahan Valancy membuat saya ikut menyadari sesuatu tentang diri saya sendiri. Valancy pada akhirnya menyadari bahwa sebaik apa pun seseorang berusaha, selalu ada kemungkinan orang lain tetap memiliki penilaian yang salah terhadap dirinya. Kita dapat berusaha menjadi baik, menunjukkan sisi terbaik dari diri kita, menjaga perasaan orang lain, dan berusaha memenuhi ekspektasi mereka, tetapi hal tersebut tidak menjamin bahwa semua orang akan melihat kita sebagaimana adanya. Akan selalu ada ruang bagi kesalahpahaman dan penilaian yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dari Valancy, saya belajar bahwa daripada terus-menerus berusaha menjadi seseorang yang dapat diterima oleh semua orang, mungkin kita perlu belajar untuk terlebih dahulu menjadi seseorang yang dapat kita terima dan hargai sendiri. Bukan berarti kita harus mengabaikan orang lain, tetapi kita juga tidak seharusnya kehilangan diri sendiri hanya karena terlalu takut mengecewakan mereka.
Tema tentang respectability dalam novel ini juga terasa sangat relevan. Valancy menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan berusaha menjaga citra yang dianggap baik dan terhormat oleh keluarganya. Ia takut melakukan sesuatu yang akan membuat keluarganya malu atau membuat dirinya dipandang buruk. Menurut saya, keadaan tersebut menggambarkan bagaimana tekanan sosial dapat membuat seseorang hidup bukan berdasarkan apa yang benar-benar ia inginkan, melainkan berdasarkan apa yang dianggap pantas oleh orang lain. Keberanian Valancy untuk akhirnya berhenti berpura-pura menjadi salah satu perkembangan karakter yang paling menarik dalam novel ini. Perubahannya tidak terjadi karena ia tiba-tiba menjadi orang yang sama sekali berbeda, tetapi karena ia mulai menyadari bahwa hidupnya adalah miliknya sendiri.
Selain Valancy, karakter Barney Snaith juga memberikan warna yang menarik dalam cerita. Barney digambarkan sebagai seseorang yang memiliki jiwa petualang. Ketika menceritakan pengalamannya, ia berkata,
“Found no gold, came away poorer than when I went, but such a place to live... those silences... got me.”
Bagi saya, bagian tersebut menggambarkan bahwa pengalaman hidup tidak selalu dapat diukur dari apa yang berhasil kita bawa pulang. Seseorang mungkin tidak mendapatkan kekayaan atau keberhasilan dalam bentuk materi, tetapi pengalaman yang diperoleh selama perjalanan tetap dapat memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga. Hal ini membuat saya berpikir bahwa masa muda seharusnya tidak hanya digunakan untuk mengejar pencapaian, tetapi juga untuk mencoba, menjelajahi hal-hal baru, dan menemukan siapa diri kita sebenarnya.
Saya juga menyukai bagaimana hubungan Valancy dan Barney berkembang sepanjang cerita. Novel ini tidak hanya berisi perjalanan Valancy dalam mencari jati diri atau memberontak terhadap keluarganya. Momen-momen ketika Valancy dan Barney menghabiskan waktu bersama membuat cerita terasa lebih hidup dan tidak monoton. Interaksi mereka memberikan ruang bagi pembaca untuk melihat sisi lain dari Valancy. Kebersamaan mereka juga membuat proses perubahan Valancy terasa lebih manusiawi, karena pencarian jati diri tidak selalu harus dilakukan sendirian. Ada orang-orang yang hadir, menemani, dan secara tidak langsung membantu kita melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Salah satu bagian yang paling emosional bagi saya justru datang dari hubungan keluarga Barney. Ketika ayah Barney, Dr. Abel Redfern, datang mencari anaknya dan mengatakan,
“What I really want is my boy... do you think he'll come back soon?,”
Saya langsung teringat kepada Papa saya yang juga merindukan abang saya karena harus merantau ke kota lain untuk berkuliah. Kalimat sederhana dari seorang ayah yang hanya ingin anaknya kembali terasa sangat personal bagi saya. Saya dapat membayangkan bagaimana rasanya memiliki seorang anak yang pergi jauh dari rumah untuk menjalani kehidupannya sendiri. Meskipun kepergian tersebut merupakan bagian dari proses tumbuh dan mencari masa depan, bagi orang tua, rumah mungkin tetap terasa sedikit berbeda ketika salah satu anaknya tidak ada. Karena pengalaman tersebut, adegan itu terasa jauh lebih emosional bagi saya.
Selain memiliki cerita yang menyentuh, The Blue Castle juga memiliki beberapa kelebihan dalam penyajiannya. Perkembangan karakter dari perempuan yang sangat takut terhadap penilaian orang lain menjadi seseorang yang lebih berani, jujur, dan mampu menikmati hidup terasa cukup kuat. Selain itu, hubungan Valancy dan Barney membuat cerita terasa lebih seimbang karena pembaca tidak hanya diajak mengikuti perjalanan pribadi Valancy, tetapi juga menikmati kebersamaan, percakapan, dan pengalaman yang mereka lalui bersama. Pesan mengenai keberanian, kejujuran terhadap diri sendiri, persahabatan, keluarga, dan pengalaman hidup juga disampaikan dengan cukup hangat tanpa terasa terlalu menggurui.
Meskipun demikian, ada beberapa bagian yang menurut saya dapat terasa kurang menarik bagi pembaca modern. Alur ceritanya terkadang cukup mudah ditebak karena menggunakan unsur yang menyerupai dongeng, terutama dalam perkembangan romansa dan penyelesaian konfliknya. Selain itu, penyelesaian cerita yang cukup erat kaitannya dengan pernikahan mungkin terasa kurang memuaskan bagi sebagian pembaca yang mengharapkan bentuk kemandirian tokoh perempuan yang tidak berpusat pada hubungan romantis. Namun, menurut saya, hal tersebut juga perlu dilihat dalam konteks novel yang ditulis pada tahun 1926. Karena itu, saya tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang sepenuhnya mengurangi nilai cerita.
Pada akhirnya, The Blue Castle bagi saya bukan hanya cerita tentang seorang perempuan yang tiba-tiba memutuskan untuk memberontak terhadap kehidupan lamanya. Novel ini lebih terasa seperti cerita tentang seseorang yang perlahan-lahan belajar untuk hidup tanpa terus dikendalikan oleh rasa takut. Valancy membuat saya menyadari bahwa ketakutan mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang. Namun, kita tetap dapat memilih apakah kita akan membiarkan ketakutan tersebut menentukan hidup kita atau mencoba berjalan bersamanya. Dari perjalanan Valancy, saya juga belajar bahwa menjadi baik dan berusaha menunjukkan sisi terbaik kepada orang lain tidak selalu membuat kita dipahami dengan benar. Karena itu, penting untuk tidak terus-menerus hidup hanya demi memenuhi ekspektasi orang lain. Kita boleh peduli terhadap penilaian orang lain, tetapi kita juga perlu belajar mendengarkan diri sendiri.

