Konten dari Pengguna

Waktu, Kehilangan, dan Penyesalan: "How to Make Millions Before Grandma Dies"

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chelsea Cew tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source: Unplash
zoom-in-whitePerbesar
Source: Unplash

How to Make Millions Before Grandma Dies merupakan film drama komedi Thailand yang disutradarai oleh Pat Boonnitipat dan dirilis pada tahun 2024. Film berdurasi 127 menit ini menceritakan M (Billkin Putthipong Assaratanakul), seorang pemuda yang memutuskan untuk merawat neneknya, Amah (Usha Seamkhum), setelah mengetahui bahwa sang nenek menderita kanker dan tidak memiliki waktu hidup yang panjang. Namun, keputusan M untuk merawat Amah pada awalnya tidak sepenuhnya didasari oleh ketulusan. Ia melihat kesempatan untuk mendapatkan perhatian Amah sekaligus mengincar warisan yang bernilai besar. Dari premis tersebut, mungkin film ini terlihat seperti cerita tentang seorang cucu yang ingin mendapatkan harta neneknya. Namun, semakin cerita berjalan, semakin jelas bahwa film ini sebenarnya lebih banyak berbicara tentang keluarga, kasih sayang, kehilangan, dan waktu yang tidak bisa diulang.

Salah satu hal yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana film ini membangun karakter M secara perlahan. Billkin mampu memperlihatkan M sebagai seorang cucu yang keras kepala dan memiliki kepentingan sendiri, tetapi di sisi lain masih menunjukkan kedekatannya dengan keluarga. Perubahan emosi M juga terasa cukup natural. Ia tidak tiba-tiba berubah menjadi sosok yang sepenuhnya tulus, tetapi perlahan mulai memahami Amah melalui berbagai kejadian kecil selama mereka menghabiskan waktu bersama. Menurut saya, perkembangan tersebut membuat karakter M terasa lebih manusiawi karena perubahan seseorang memang tidak selalu terjadi secara tiba-tiba.

Namun, karakter yang paling membekas bagi saya tentu saja adalah Amah. Usha Seamkhum berhasil membuat Amah terasa hidup melalui cara berbicara, ekspresi wajah, tatapan, dan gerak tubuhnya yang sederhana. Amah tidak perlu selalu mengatakan apa yang ia rasakan untuk membuat penonton memahami dirinya. Cara Amah berbicara dan menunjukkan kasih sayang kepada keluarganya terasa begitu familiar bagi saya hingga mengingatkan saya pada sosok A Pho, panggilan untuk nenek dalam bahasa Hakka. Hal tersebut membuat saya merasa lebih dekat dengan karakter Amah dan ikut merasakan hubungan emosional yang dibangun sepanjang film.

Chemistry antara M dan Amah juga menjadi salah satu alasan hubungan keduanya terasa begitu nyata. Kedekatan mereka tidak hanya dibangun melalui adegan-adegan emosional, tetapi juga melalui percakapan sehari-hari, candaan, saling mengejek, dan berbagai kegiatan sederhana. Justru hal-hal kecil tersebut yang membuat hubungan mereka terasa seperti hubungan cucu dan nenek yang benar-benar ada dalam kehidupan sehari-hari. Menurut saya, keputusan film untuk tidak terburu-buru membangun hubungan mereka menjadi penting karena ketika konflik mulai memasuki bagian yang lebih emosional, penonton sudah memiliki ikatan dengan kedua karakter tersebut.

Dari segi alur, cerita film ini sebenarnya cukup sederhana. Seorang cucu mendekati neneknya dengan tujuan mendapatkan warisan, kemudian hubungan mereka perlahan berubah. Meskipun premisnya berkaitan dengan harta, film tidak menjadikan warisan sebagai satu-satunya fokus. Naskah yang ditulis oleh Pat Boonnitipat dan Thodsapon Thiptinnakorn lebih banyak menggunakan bagian awal film untuk memperkenalkan karakter dan kehidupan keluarga mereka. Tempo ceritanya memang terasa cukup lambat, tetapi bagi saya, kelambatan tersebut justru menjadi bagian penting dalam membangun emosi. Film tidak langsung memaksa penonton untuk menangis, melainkan memberikan waktu untuk mengenal Amah dan M melalui kejadian-kejadian sederhana.

Salah satu bagian yang paling berkesan bagi saya adalah ketika terungkap bahwa Amah telah menyiapkan tabungan untuk M sejak ia masih kecil karena merasa bangga terhadap prestasi akademiknya. Pada titik tersebut, M mulai melihat Amah bukan hanya sebagai seseorang yang memiliki harta untuk diwariskan, tetapi sebagai seorang nenek yang selama ini telah memberikan perhatian dan kasih sayang kepadanya. Perubahan tujuan M kemudian semakin terlihat ketika ia menggunakan uang tersebut untuk membeli tempat pemakaman bagi Amah. Bagi saya, bagian ini menjadi salah satu titik emosional terkuat karena sesuatu yang awalnya dimulai dari keinginan mendapatkan warisan akhirnya berubah menjadi bentuk kasih sayang dan penghormatan terakhir kepada Amah.

Selain alur dan akting, visual film juga menjadi salah satu hal yang saya sukai. Film ini menggunakan pendekatan yang sederhana dan realistis. Lingkungan rumah, sudut-sudut kota, suasana hujan, serta berbagai aktivitas keluarga membuat kehidupan para tokohnya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Film tidak membutuhkan visual yang spektakuler untuk membangun emosi karena ekspresi pemain dan suasana yang sederhana sudah cukup untuk membawa penonton masuk ke dalam ceritanya.

Unsur budaya Thai-Chinese yang ditampilkan dalam film juga membuatnya terasa semakin dekat bagi saya. Tradisi keluarga, perayaan Imlek, sembahyang kubur, hingga proses pemakaman ditampilkan sebagai bagian dari kehidupan para tokohnya. Kedekatan tersebut paling terasa ketika film mulai memperlihatkan persiapan dan proses pemakaman Amah. Adegan tersebut mengingatkan saya pada pengalaman ketika harus mengantarkan A Pho dan KungKung untuk terakhir kalinya. Proses dan tradisi Chinese yang ditampilkan terasa begitu familiar sehingga kenangan tersebut kembali muncul dengan sangat kuat. Pada bagian inilah film terasa sangat personal bagi saya, bahkan membuat saya menangis tersedu-sedu.

Musik dalam film juga membantu memperkuat suasana emosional tersebut. Penggunaan musik yang lembut bersama dengan ekspresi para pemain dan suasana visual yang tenang membuat adegan-adegan tertentu terasa semakin dalam. Film tidak terlalu bergantung pada efek visual atau musik yang berlebihan untuk membuat penonton sedih. Menurut saya, kesederhanaan tersebut justru menjadi kekuatannya karena emosi lebih banyak muncul dari hubungan antarkarakter dan situasi yang mereka alami.

Pada akhirnya, film ini membawa tema yang cukup dekat dengan kehidupan, yaitu hubungan antargenerasi, kasih sayang dalam keluarga, persoalan warisan, serta bagaimana kondisi sosial dan ekonomi dapat memengaruhi hubungan antaranggota keluarga. Film memperlihatkan bahwa harta dapat menjadi sumber konflik ketika kepentingan materi mulai memengaruhi hubungan keluarga. Namun, seiring berjalannya cerita, M justru belajar bahwa kasih sayang dan perhatian tidak dapat diukur melalui jumlah uang atau harta yang dimiliki seseorang. Terkadang seseorang baru benar-benar memahami betapa berharganya orang lain ketika waktu yang dimiliki bersama mulai terbatas.

Menurut saya, salah satu kelebihan terbesar film ini adalah kemampuannya membuat cerita yang sederhana terasa emosional tanpa terlalu memaksakan kesedihan. Akting para pemain terasa natural, terutama interaksi M dan Amah yang tidak dibuat terlalu dramatis. Unsur budaya Thai-Chinese juga membuat cerita terasa lebih nyata, sementara visual dan musik yang sederhana mampu mendukung suasana tanpa mengambil alih cerita.

Meski begitu, film ini bukan tanpa kekurangan. Tempo cerita pada bagian awal terasa cukup lambat, terutama bagi penonton yang terbiasa dengan film yang memiliki perkembangan konflik lebih cepat. Beberapa adegan juga menampilkan aktivitas M dan Amah yang cukup berulang. Walaupun bagian tersebut sebenarnya berfungsi untuk membangun kedekatan keduanya, bagi sebagian penonton hal tersebut mungkin terasa terlalu panjang dan dapat menimbulkan kebosanan.

Secara keseluruhan, How to Make Millions Before Grandma Dies bagi saya bukan hanya film tentang seorang cucu yang awalnya mengejar warisan dari neneknya. Film ini menjadi cerita tentang bagaimana seseorang belajar memahami kasih sayang, menghargai waktu, dan menyadari arti kehadiran orang yang dicintai. Pada akhirnya, film ini membuat saya berpikir bahwa terkadang kita baru benar-benar menyadari betapa berharganya seseorang ketika kesempatan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka sudah tidak ada. Warisan mungkin bisa diberikan, uang mungkin bisa dicari kembali, tetapi waktu bersama orang yang kita sayangi tidak bisa diulang.