Konten dari Pengguna

Samandiman: Antara Sejarah, Legenda, dan Ingatan Masyarakat Kediri

Chevy N Suyudi

Chevy N Suyudi

ASN Kota Kediri

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chevy N Suyudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penampilan kesenian Pecut Samandiman di Kemasan, Kediri. Foto: dok. pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Penampilan kesenian Pecut Samandiman di Kemasan, Kediri. Foto: dok. pribadi.

Konon, seorang raja dari Kerajaan Bantarangin pernah melakukan perjalanan menuju Kediri untuk meminang seorang putri bernama Dewi Sanggalangit. Raja itu bernama Prabu Klana Sewandana. Ia membawa rombongan prajurit dan seorang patih yang dikenal sebagai Bujang Ganong. Namun, perjalanan mereka tidak mudah. Singa Barong, sosok sakti yang menguasai wilayah yang harus dilalui, menghadang rombongan tersebut. Pertempuran pun terjadi hingga sang raja menggunakan sebuah pusaka berbentuk cambuk untuk menaklukkan lawannya.

Pusaka itulah yang dikenal dengan nama Samandiman.

Cerita tersebut merupakan salah satu versi legenda yang mengiringi kesenian Reyog Ponorogo. Dalam pertunjukannya, Prabu Klana Sewandana tampil mengenakan topeng dan membawa pecut sebagai lambang kekuatan serta kewibawaan. Sosok Singa Barong diwujudkan melalui barongan berkepala harimau dengan hiasan burung merak yang mengembang di atasnya. Dari sebuah kisah tentang perjalanan, pertempuran, dan lamaran, lahirlah rangkaian tokoh yang terus dikenali masyarakat melalui seni pertunjukan.

Menariknya, Kediri bukan sekadar nama tempat yang kebetulan disebut dalam legenda tersebut. Dewi Sanggalangit dikisahkan sebagai putri Kerajaan Kediri, sedangkan perjalanan rombongan Bantarangin menuju kerajaannya menjadi bagian penting dalam cerita. Bahkan, dalam salah satu versi yang diteliti Heri Suwignyo dan Soedjijono, perjalanan itu dikaitkan dengan Gua Selomangleng di lereng Gunung Klotok. Rombongan digambarkan menempuh jalan bawah tanah yang dibuka dengan kekuatan Cemeti Samandiman hingga akhirnya mencapai Kediri.

Tentu saja, kisah tentang cambuk sakti yang mampu membuka jalan menembus bumi tidak dapat diperlakukan sebagai catatan peristiwa sejarah. Namun, penyebutan Gunung Klotok, Selomangleng, dan Kerajaan Kediri memperlihatkan bagaimana tempat-tempat yang dikenal masyarakat menjadi bagian dari dunia legenda. Sebuah cerita memperoleh kedekatan dengan pendengarnya karena berlangsung di ruang yang dapat mereka bayangkan, bahkan mungkin pernah mereka kunjungi.

Dalam artikel Kajian Arketipal Legenda Reyog Ponorogo yang dimuat jurnal Bahasa dan Seni pada 2006, Suwignyo dan Soedjijono menelusuri beberapa versi cerita tersebut. Salah satunya mengisahkan bahwa Pecut Samandiman diperoleh setelah Klana Sewandana dan Kelana Wijaya menjalani pertapaan di lereng Gunung Wilis. Mereka juga mengaitkan nama Samandiman dengan kata mandi, yang ditafsirkan sebagai sakti, ampuh, atau mujarab. Penjelasan ini menarik sebagai pembacaan terhadap makna nama, meskipun belum dapat dianggap sebagai etimologi yang sudah dipastikan kebenarannya.

Berbagai versi cerita itu menunjukkan bahwa Samandiman tidak memiliki satu riwayat yang sepenuhnya seragam. Ada kisah yang menekankan asal-usul pusaka, ada pula yang menempatkannya sebagai senjata penentu kemenangan. Sebagian cerita berpusat pada perjalanan menuju Kediri, sedangkan cerita lainnya lebih menonjolkan hubungan antara raja, patih, dan Singa Barong. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari perjalanan tradisi lisan yang diwariskan melalui penuturan dan pertunjukan.

Batas antara sejarah dan cerita pertunjukan juga menjadi perhatian Frengki Nur Fariya Pratama dalam artikelnya, Retakan Narasi Historis Reyog Ponorogo, yang terbit di jurnal Tambo pada 2024. Penelitiannya memperlihatkan bahwa kisah Bantarangin dan Klana Sewandana merupakan salah satu dari beberapa narasi tentang asal-usul Reyog. Ia menemukan adanya perubahan dan persilangan cerita, termasuk pengaruh kisah Panji, sehingga narasi yang dikenal sekarang tidak dapat begitu saja diperlakukan sebagai sejarah yang berlangsung persis sebagaimana dipentaskan.

Lalu, bagaimana Samandiman memperoleh tempat dalam kehidupan masyarakat Kota Kediri?

Jawabannya tidak hanya terdapat dalam legenda, tetapi juga dalam perjalanan para pelaku seni. Di Kelurahan Kemasan, Kota Kediri, kecintaan terhadap kesenian jaranan dan pecut berkembang menjadi kegiatan komunitas. Salah seorang tokoh yang berperan dalam perkembangan tersebut adalah Moh. Hanib, seniman jaranan yang berupaya menghidupkan kegiatan kesenian di lingkungannya sejak akhir 1990-an.

Penelitian Mendyeta Wahyu Prasetya dan Tjitjik Rahaju dari Universitas Negeri Surabaya, yang diterbitkan pada 2024, mencatat bahwa Hanib membentuk perkumpulan jaranan Wahyu Krida Budaya pada 2006. Kegiatan tersebut kemudian berkembang hingga lahir Paguyuban Pecut Samandiman Kota Kediri pada 2012. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada 2019, Kelurahan Kemasan memiliki Kampung Pecut sebagai identitas kawasan yang bertumpu pada keterampilan warga dan kegiatan kesenian.

Perjalanan tersebut memperlihatkan dua lapisan kisah Samandiman yang perlu dibedakan. Dalam legenda Reyog, Samandiman hadir sebagai pusaka seorang raja. Dalam kehidupan masyarakat Kediri masa kini, nama itu juga melekat pada kegiatan kesenian, keterampilan membuat pecut, dan komunitas yang mengembangkannya. Keduanya mempunyai hubungan dalam khazanah budaya Jawa Timur, tetapi bukan berarti seluruh bentuk pecut maupun riwayat perkembangannya harus dianggap sama.

Di tangan para pelaku seni, pecut tidak lagi hanya hadir sebagai benda sakti yang diceritakan. Ia menjadi benda yang dibuat, dilatih penggunaannya, dan ditampilkan di hadapan penonton. Nama Samandiman pun memperoleh kehidupan baru melalui kegiatan masyarakat yang dapat dilacak perkembangannya. Jika legenda menjelaskan bagaimana orang membayangkan pusaka tersebut pada masa lalu, kegiatan di Kemasan memperlihatkan bagaimana manusia pada masa sekarang memberinya tempat dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan Festival Kampung Pecut. Foto: kedirikota.go.id

Barangkali di situlah kekuatan ingatan budaya. Sebuah nama dapat bertahan meskipun cerita tentang asal-usulnya memiliki banyak versi. Orang tidak harus menyepakati seluruh peristiwa dalam legenda untuk tetap merawat kesenian yang terhubung dengannya. Namun, menghargai legenda juga tidak berarti membebaskannya dari pertanyaan sejarah. Keduanya memiliki pekerjaan berbeda: sejarah memeriksa bukti, sedangkan tradisi lisan menyimpan pengalaman, keyakinan, dan cara masyarakat memandang dunianya.

Samandiman telah menempuh perjalanan panjang dalam cerita masyarakat Jawa Timur, dari pusaka dalam legenda Reyog hingga menjadi nama yang dikenal dalam kesenian pecut Kota Kediri. Kisahnya menghubungkan kerajaan yang diceritakan, tempat-tempat yang masih dapat ditemukan, dan orang-orang yang terus menghidupkan tradisi. Mungkin tidak setiap bagian perjalanan itu dapat dibuktikan secara historis. Akan tetapi, melalui cerita yang diwariskan dan keterampilan yang terus dipraktikkan, kita dapat melihat bagaimana sebuah nama tetap hidup melampaui zaman yang melahirkannya.