Konten dari Pengguna

Peringkat Kota yang Naik, Pekerjaan yang Belum Selesai

Chico Hakim

Chico Hakim

Stafsus Gubernur DKI Jakarta

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Chico Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kota Jakarta. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kota Jakarta. Foto: Shutterstock

Beberapa minggu terakhir Jakarta kembali muncul di sejumlah indeks kota global. Oxford Economics menempatkan kita di posisi 140 dari 1.000 kota, naik dari 159 tahun lalu dan sekitar 280-an pada 2024.

Resonance Consultancy menaruh Jakarta di peringkat 53 World’s Best Cities, dengan kekuatan di aspek lovability. Kearney di posisi 71 dari 156 kota. Sementara Time Out menempatkan transportasi publik Jakarta di peringkat 15 dunia, naik dari 17 tahun sebelumnya, dengan 79,2 persen responden memberi penilaian positif.

Angka-angka itu memberi sinyal yang menggembirakan. Jakarta terus bergerak. Kenaikan peringkat ini mencerminkan akumulasi langkah-langkah yang sudah berjalan dan terus diperkuat, termasuk di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung. Kota sebesar Jakarta memang tidak berubah dalam semalam, tapi arah yang sedang dijalankan mulai menunjukkan hasil yang bisa dibaca dari berbagai ukuran.

Yang paling sering disebut sebagai pendorong kenaikan, khususnya di Oxford Economics dan Time Out, adalah perbaikan integrasi transportasi publik. Konektivitas antarmoda kini sudah melampaui 93 persen. MRT, LRT, Transjakarta, Mikrotrans, dan layanan Transjabodetabek semakin terhubung satu sama lain. Penumpang yang beralih dari kendaraan pribadi meningkat rata-rata di atas 15 persen.

Rangkaian kereta LRT Jakarta Manggarai-Kelapa Gading melintas di kawasan Manggarai, Jakarta, Kamis (17/9/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

LRT Kelapa Gading–Manggarai tetap menarik antusiasme tinggi sejak diresmikan. Pembangunan MRT Fase 2 menuju Kota Tua juga terus berjalan, memperluas jangkauan ke kawasan yang sebelumnya lebih mengandalkan angkutan lain. Integrasi tiket dan perpindahan antarhalte yang lebih dekat membuat perjalanan harian semakin lancar.

Perubahan ini memberi pilihan yang lebih baik bagi warga. Pekerja yang bolak-balik dari Depok, Bekasi, atau Tangerang kini punya perjalanan yang lebih terencana. Mahasiswa dan pekerja kantoran di pusat kota bisa berpindah dari Mikrotrans ke Transjakarta lalu ke MRT dengan lebih nyaman.

Waktu yang sebelumnya habis di kemacetan mulai berkurang, biaya perjalanan lebih terprediksi, dan beban fisik lebih ringan. Seorang ibu yang mengantar anak sekolah lalu lanjut kerja, atau pekerja shift yang pulang malam, sudah punya alternatif yang lebih jelas. Ini perbaikan yang terus berjalan dan semakin terasa.

Di sisi lain, kekuatan Jakarta yang sudah lama ada juga terus menopang. Di Oxford Economics kita kuat di human capital (peringkat 23) dan ekonomi (peringkat 59). Basis tenaga kerja yang besar, keberadaan kantor pusat perusahaan, serta aktivitas ekonomi yang tetap menjadi gravitasi nasional—meski ibu kota politik berpindah ke Nusantara—menjadi modal penting.

Suasana Taman Fatahillah pada malam hari saat libur panjang, kawasan Kota Tua, Jakarta, Jumat (15/5/2026). Foto: Kevin Daniel/kumparan

Resonance mencatat daya tarik kota lewat revitalisasi Kota Tua, ruang-ruang rooftop di SCBD, dan kawasan tepi air di PIK. Kawasan-kawasan ini kini lebih hidup, lebih banyak dikunjungi warga dan pengunjung untuk kegiatan keluarga, pertemuan, maupun bersantai. Ruang publik yang lebih nyaman memberi kesempatan warga untuk berkumpul dan menikmati kota dengan lebih baik.

Tentu masih ada pekerjaan yang harus terus dilanjutkan. Kualitas hidup dan lingkungan masih menjadi perhatian, begitu pula perluasan integrasi transportasi ke wilayah penyangga agar manfaatnya semakin merata. Tapi yang penting, arahnya sudah jelas dan langkah-langkahnya terus berjalan. Perbaikan di jalur-jalur utama dan di kawasan-kawasan strategis menjadi fondasi untuk menjangkau lebih banyak warga.

Kenaikan peringkat ini menunjukkan bahwa upaya memperbaiki konektivitas, menjaga daya tarik kota, serta memperkuat basis ekonomi dan manusia sedang memberi hasil.

Yang lebih penting lagi adalah bagaimana warga merasakan perbedaannya dalam keseharian: perjalanan yang lebih mudah, ruang publik yang lebih layak dinikmati, dan kota yang semakin bisa dijalani dengan lebih baik. Itu yang terus menjadi fokus kita. Bukan sekadar mengejar angka, melainkan memastikan kemajuan ini dirasakan secara nyata dan berkelanjutan oleh lebih banyak orang yang tinggal dan bekerja di Jakarta.