Rasa Jawa yang Kian Berubah

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Elizabeth Christy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah derasnya arus globalisasi dan informasi, budaya lokal kian memudar. Budaya luar rasa-rasanya lebih mudah masuk ke kehidupan generasi muda dibandingkan budaya mereka sendiri. Lagu, gaya berpakaian, cara berbahasa asing terasa lebih akrab dibanding tradisi lokal. Fenomena ini mulai memunculkan kekhawatiran akan memudarnya identitas budaya, termasuk budaya Jawa di kalangan anak muda.
Dalam kajian ilmu komunikasi budaya, terutama dalam pemikiran Stuart Hall (1990), identitas dapat terbentuk melalui proses komunikasi yang berlangsung terus menerus, bukan sesuatu yang diwariskan begitu saja. Proses komunikasinya berupa interaksi sehari-hari, seperti bahasa yang digunakan, unsur budaya yang dikenakan, hingga pengalaman bersama yang dialami. Ketika proses komunikasi ini terhenti atau tergantikan budaya lain, identitas pun perlahan mengalami pergeseran.
Salah satu faktor yang paling memengaruhi kondisi ini adalah perubahan medium komunikasi yang pada saat ini menggunakan media digital. Media digital memberikan ruang yang luas, cepat, dan lintas budaya untuk berkomunikasi. Namun, dalam pandangan komunikasi, media tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membentuk makna. Budaya yang sering muncul dan ditayangkan secara menarik akan lebih mudah diingat dan diterima, sementara budaya lokal akan berisiko terpinggirkan dari pemikiran generasi muda.
Ilmu komunikasi menjelaskan bahwa budaya itu dapat hidup dengan adanya praktik, bukan sekadar pengetahuan. Hanya dengan mengetahui apa definisi dari budaya Jawa tidak akan membuat seseorang merasa memiliki budaya tersebut. Rasa itu akan muncul ketika seseorang terlibat secara langsung di dalamnya, seperti menggunakan bahasanya, pakaian adatnya, atau memiliki pengalaman bermakna dengan budaya tersebut. Maka hal inilah yang disebut dengan cultural experience, pengalaman budaya yang membentuk kedekatan emosional.
Konsep ini sejalan dengan teori experiential communication, yang menjelaskan bahwa sebuah pesan akan lebih mudah diterima dan diingat apabila seseorang mengalaminya secara langsung. Dalam konteks budaya, pengalaman bisa berupa berkunjung ke bangunan sejarah, berinteraksi dengan simbol budaya, atau menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari menjadi bentuk komunikasi nonverbal yang efektif. Maka dari situlah seseorang akan mendapat pesan budaya, karena telah mengalami dan merasakannya sendiri.
Selain itu, bahasa memiliki peran penting dalam membangun identitas budaya. Dalam perspektif komunikasi, bahasa bukan hanya alat menyampaikan pesan, tapi juga membentuk cara berpikir dan cara memandang dunia. Seperti contoh ketiks menggunakan bahasa Jawa, khususnya ragam krama, bahasa tersebut mengandung nilai kesopanan, hierarki sosial, dan sebagai bentuk penghormatan terhadap orang lain. Ketika bahasa ini jarang digunakan, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya pun berpotensi ikut memudar.
Apabila dilihat dari sudut pandang ilmu komunikasi, merawat rasa Jawa dapat diartikan sebagai usaha untuk menjaga agar proses komunikasi budaya tetap berlangsung. Usaha ini tidak harus berskala besar, tapi bisa dimulai dengan kebiasaan yang sederhana, seperti mengenakan batik, menggunakan bahasa Jawa dalam situasi tertentu, atau mengenalkan sejarah lokal dengan melakukan kunjungan ke bangunan bersejarah dapat menjadi bentuk komunikasi simbolik yang memperkuat identitas budaya.
Pada akhirnya, tantangan dari pelestarian budaya Jawa di kalangan generasi muda bukan hanya soal kurangnya minat, tetapi soal bagaimana budaya tersebut dikomunikasikan. Ketika budaya dihadirkan sebagai pengalaman yang berkesan, generasi muda tidak hanya akan mengenalnya sebagai pengetahuan, tetapi juga merasakannya sebagai bagian dari diri mereka. Dalam konteks inilah, merawat rasa Jawa menjadi proses komunikasi yang penting untuk menjaga keberlanjutan identitas budaya di tengah perubahan zaman.
