Konten dari Pengguna

Konflik Thailand Selatan Tak Kunjung Usai: Mengapa ASEAN Sulit Bertindak

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cindy Inesia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konflik Thailand Selatan, peran ASEAN, dan prinsip non-interference menjadi tantangan dalam upaya mewujudkan perdamaian di Asia Tenggara.

Thai temple tower with flag flying high. Foto: unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Thai temple tower with flag flying high. Foto: unsplash.com

Konflik Thailand Selatan yang melibatkan pemerintah Thailand dan Barisan Revolusi Nasional (BRN) telah berlangsung lebih dari dua dekade tanpa penyelesaian yang pasti. Konflik di Pattani, Yala, dan Narathiwat ini bukan hanya menjadi persoalan keamanan domestik Thailand, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang peran ASEAN dalam menjaga stabilitas kawasan. Di tengah kebuntuan proses perdamaian, prinsip non-interference atau larangan mencampuri urusan dalam negeri negara anggota menjadi salah satu tantangan bagi ASEAN untuk terlibat lebih jauh.

Sebagai organisasi regional yang bertujuan menjaga stabilitas Asia Tenggara, ASEAN seharusnya memiliki kepentingan terhadap penyelesaian konflik di kawasan. Namun, ketika persoalan tersebut dianggap sebagai urusan domestik suatu negara, ruang geraknya menjadi terbatas oleh prinsip non-interference atau non-intervensi.

Dilema ini memperlihatkan tantangan ASEAN dalam menjaga keseimbangan antara menghormati kedaulatan negara anggota dan mendorong penyelesaian konflik yang berkepanjangan.

Konflik yang Bukan Sekadar Persoalan Keamanan

Untuk memahami konflik Thailand Selatan, persoalannya tidak cukup dilihat dari bentrokan antara pemerintah dan kelompok bersenjata. Ada persoalan identitas, sejarah, dan hubungan antara negara dengan masyarakat setempat yang turut membentuk konflik tersebut.

Pattani, Yala, dan Narathiwat merupakan wilayah yang mayoritas penduduknya adalah masyarakat Melayu Muslim. Sementara itu, pemerintah pusat Thailand selama ini dibentuk oleh identitas nasional yang didominasi etnis Thai dan budaya Buddha. Perbedaan ini menjadi semakin kompleks ketika kebijakan pemerintah mendorong integrasi nasional melalui konsep Thainess, yang menekankan identitas nasional Thailand.

Bagi sebagian masyarakat Melayu Muslim di Thailand Selatan, kebijakan tersebut berkaitan dengan kekhawatiran atas keberlangsungan bahasa, agama, dan identitas budaya mereka. Ketika identitas lokal dianggap tidak memperoleh ruang yang memadai, ketidakpuasan terhadap pemerintah dapat semakin menguat. Dalam kondisi seperti ini, pendekatan keamanan saja sulit menjawab persoalan yang lebih mendasar.

Karena itu, penyelesaian konflik tidak cukup hanya mengandalkan operasi militer atau upaya meredam serangan. Pemerintah Thailand juga perlu membangun hubungan yang lebih inklusif dengan masyarakat setempat, termasuk dengan membuka ruang bagi aspirasi politik, perlindungan identitas budaya, dan penyelesaian persoalan yang selama ini memicu ketegangan.

Dampaknya pun tidak selalu berhenti di dalam wilayah Thailand. Pada akhir Juni 2026, sebuah bom pinggir jalan di Tak Bai dilaporkan melukai dua warga Malaysia. Serangkaian serangan di Narathiwat, Pattani, dan Yala juga mendorong Thailand dan Malaysia untuk memperkuat kerja sama keamanan lintas batas.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa konflik domestik dapat memiliki konsekuensi regional. Ketika kekerasan berpotensi melintasi perbatasan dan memengaruhi keamanan negara tetangga, penyelesaiannya bukan lagi sekadar kepentingan pemerintah Thailand, melainkan juga bagian dari upaya menjaga stabilitas Asia Tenggara.

Mengapa Perundingan Damai Tidak Terselesaikan?

Sebenarnya, konflik Thailand Selatan bukan berarti tidak pernah diupayakan penyelesaiannya melalui dialog. Sejak 2013, Malaysia telah memfasilitasi perundingan antara pemerintah Thailand dan BRN. Kedua pihak juga menyepakati Joint Comprehensive Plan Towards Peace (JCPP) pada 2023 sebagai peta jalan perdamaian untuk periode 2023–2024.

Namun, keberadaan kesepakatan tidak otomatis membuat proses perdamaian berjalan lancar. Perundingan menghadapi persoalan kepercayaan, perbedaan kepentingan, dan komitmen para pihak untuk melanjutkan dialog. Penarikan diri BRN dari proses perundingan menjadi salah satu hambatan, sementara rancangan perdamaian juga menghadapi persoalan mengenai sejauh mana kelompok yang terlibat dalam konflik dan masyarakat terdampak dilibatkan.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perdamaian tidak cukup dibangun melalui kesepakatan di meja perundingan. Prosesnya juga membutuhkan dukungan dari pihak-pihak yang memiliki pengaruh terhadap konflik, serta penerimaan masyarakat yang selama ini merasakan dampak kekerasan.

Dinamika politik di Bangkok turut memengaruhi keberlanjutan dialog. Perundingan sebelumnya sempat terhenti setelah tiga pertemuan pleno, antara lain karena persiapan yang kurang matang dan situasi politik Thailand yang tidak stabil. Pergantian pemerintahan dan perubahan kebijakan dapat memengaruhi konsistensi pendekatan terhadap BRN. Di sisi lain, BRN juga perlu menunjukkan komitmen yang jelas agar dialog tidak terus terhenti sebelum menghasilkan kemajuan berarti.

BRN menginginkan proses perdamaian yang dirancang bersama, melibatkan pihak ketiga yang netral, dan dipantau oleh pengamat internasional. Namun, pemerintah Thailand masih berhati-hati terhadap mediasi internasional dan pembahasan desentralisasi karena khawatir hal tersebut dapat berkembang menjadi tuntutan pemisahan diri.

Pada Juli 2026, BRN menyatakan bahwa meningkatnya kekerasan mencerminkan kebuntuan perundingan, bukan penolakan terhadap dialog. Pernyataan ini menunjukkan bahwa peluang perdamaian belum sepenuhnya tertutup. Meski demikian, dialog hanya dapat menghasilkan kemajuan apabila kedua pihak bersedia membangun kembali kepercayaan dan menyepakati mekanisme yang dapat dijalankan secara konsisten.

Ketika dialog membutuhkan dukungan pihak ketiga yang netral, pemerintah Thailand justru masih membatasi ruang keterlibatan internasional. Akibatnya, upaya perdamaian bergantung pada mekanisme yang dapat diterima oleh Bangkok, sementara pilihan untuk memperluas fasilitasi menjadi terbatas.

Non-Interference: Menghormati Kedaulatan atau Membatasi Perdamaian?

Salah satu tantangan utama dalam konflik Thailand Selatan adalah prinsip non-interference yang menjadi bagian penting dari hubungan antarnegara ASEAN. Prinsip ini menekankan penghormatan terhadap kedaulatan dan tidak mencampuri urusan dalam negeri negara anggota.

Bagi Thailand, konflik dengan BRN berkaitan langsung dengan keamanan nasional dan keutuhan wilayah. Karena itu, keterlibatan pihak luar dalam proses penyelesaian konflik dapat dipandang sensitif, terutama apabila menyentuh persoalan politik domestik, identitas, atau tuntutan otonomi.

Dari sudut pandang negara, sikap tersebut dapat dipahami sebagai upaya menjaga kedaulatan. Namun, persoalannya muncul ketika penghormatan terhadap kedaulatan membuat dukungan regional terhadap penyelesaian konflik menjadi terbatas. Konflik yang berlangsung selama puluhan tahun membutuhkan upaya yang lebih luas, sementara organisasi regional yang diharapkan ikut menjaga stabilitas justru tidak memiliki ruang yang leluasa untuk bertindak.

Meski demikian, non-interference tidak berarti ASEAN sama sekali tidak dapat berperan. Prinsip ini tidak harus dimaknai sebagai larangan terhadap setiap bentuk kerja sama atau dukungan. Selama dilakukan berdasarkan persetujuan negara terkait, ASEAN masih dapat membantu melalui dialog, pertukaran pengalaman, kerja sama keamanan, dan dukungan terhadap proses perdamaian.

ASEAN dalam menangani konflik Kamboja pada akhir 1970-an hingga awal 1990-an juga memperlihatkan bahwa prinsip non-intervensi tidak selalu menutup seluruh ruang keterlibatan regional. Peran diplomatik negara-negara anggota dapat berkembang ketika terdapat kepentingan bersama dan dukungan politik yang memadai. Namun, pengalaman tersebut tidak bisa diterapkan begitu saja pada Thailand Selatan karena konteks konflik dan sikap pemerintahnya berbeda.

Dalam kasus ini, Malaysia menjadi contoh bahwa keterlibatan pihak luar tetap dimungkinkan selama diterima oleh pemerintah Thailand. Malaysia telah menjalankan peran sebagai fasilitator dialog antara pemerintah Thailand dan BRN. Artinya, persoalannya bukan semata-mata apakah pihak luar boleh terlibat, melainkan bentuk keterlibatan seperti apa yang dapat diterima oleh negara yang sedang menghadapi konflik.

Namun, peran tersebut masih dijalankan Malaysia secara langsung, bukan melalui mekanisme ASEAN sebagai organisasi regional. Hal ini memperlihatkan keterbatasan ASEAN dalam membangun pendekatan bersama terhadap konflik internal negara anggotanya.

Dengan demikian, tantangan ASEAN bukan memilih antara menghormati kedaulatan atau mendukung perdamaian. Tantangannya adalah mencari cara agar keduanya dapat berjalan beriringan. ASEAN perlu menghormati keputusan Thailand, tetapi pada saat yang sama tidak kehilangan kesempatan untuk membantu menciptakan kondisi yang mendukung penyelesaian konflik.

Apa yang Bisa Dilakukan ASEAN?

Keterbatasan ASEAN dalam konflik Thailand Selatan tidak hanya berkaitan dengan prinsip non-interference, tetapi juga dengan cara organisasi ini mengambil keputusan. ASEAN mengandalkan konsensus negara anggota. Artinya, langkah yang dianggap terlalu jauh memasuki persoalan domestik suatu negara akan sulit dijalankan apabila tidak memperoleh dukungan bersama.

Selain itu, ASEAN belum memiliki mekanisme yang kuat untuk mengambil peran langsung dalam penyelesaian konflik internal negara anggota tanpa persetujuan negara yang bersangkutan. Karena itu, mendorong ASEAN menjadi mediator utama dalam konflik Thailand Selatan bukanlah pilihan yang paling realistis untuk saat ini.

Namun, keterbatasan tersebut bukan alasan bagi ASEAN untuk sepenuhnya pasif. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan tanpa harus mengambil alih peran pemerintah Thailand atau Malaysia.

ASEAN dapat memperkuat dukungan terhadap proses dialog yang telah difasilitasi Malaysia. Dukungan ini tidak harus berbentuk intervensi langsung, tetapi dapat berupa pertukaran pengalaman penyelesaian konflik, penguatan kapasitas dialog, dan dorongan agar proses perundingan berjalan secara konsisten. Dengan pendekatan tersebut, ASEAN dapat membantu menjaga perhatian regional terhadap proses perdamaian tanpa memaksakan mekanisme yang belum tentu diterima Thailand.

Kerja sama keamanan lintas batas perlu terus diperkuat. Dampak konflik terhadap negara tetangga menunjukkan pentingnya koordinasi antara Thailand dan Malaysia, terutama untuk mencegah kekerasan meluas serta melindungi masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan. Kerja sama semacam ini memang tidak langsung menyelesaikan akar konflik, tetapi dapat membantu mengurangi dampaknya terhadap keamanan kawasan.

Penyelesaian konflik perlu memberi ruang lebih besar kepada masyarakat setempat. Selama ini, perhatian sering terpusat pada pemerintah dan BRN sebagai pihak yang berunding. Padahal, masyarakat sipil, tokoh agama, perempuan, dan kelompok pemuda juga memiliki pengalaman serta kepentingan yang perlu dipertimbangkan.

Pelibatan mereka penting agar proses perdamaian tidak hanya menghasilkan kesepakatan politik, tetapi juga menjawab persoalan yang dirasakan masyarakat di Pattani, Yala, dan Narathiwat. Tanpa dukungan masyarakat, kesepakatan yang dicapai berisiko sulit diterapkan atau tidak mampu membangun kepercayaan dalam jangka panjang.

Kerja sama pembangunan ekonomi dapat menjadi bagian dari pendekatan yang lebih luas. Melalui kerja sama subregional seperti Indonesia–Malaysia–Thailand Growth Triangle (IMT-GT), negara-negara terkait dapat mendorong pembangunan dan memperluas kesempatan ekonomi bagi masyarakat di Thailand Selatan. Namun, manfaatnya harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat setempat, bukan hanya meningkatkan aktivitas ekonomi secara umum.

Pembangunan ekonomi tentu tidak otomatis mengakhiri konflik yang berakar pada identitas, sejarah, dan persoalan politik. Meski demikian, kesempatan ekonomi yang lebih baik dapat mendukung upaya mengurangi ketimpangan dan memperkuat hubungan antara masyarakat dengan pemerintah.

Indonesia juga memiliki pengalaman yang dapat dibagikan. Proses perdamaian Aceh melalui Perjanjian Helsinki pada 2005 menunjukkan pentingnya dialog, kompromi politik, dan keterlibatan pihak ketiga. Kondisi Aceh tentu berbeda dari Thailand Selatan sehingga pendekatannya tidak dapat disalin begitu saja. Namun, pengalaman Indonesia dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai proses negosiasi dan upaya menjaga keberlanjutan kesepakatan setelah konflik berlangsung lama.

Pertukaran pengalaman tersebut dapat dilakukan melalui kerja sama regional tanpa harus menjadikan Indonesia sebagai mediator. Dengan begitu, dukungan terhadap perdamaian tetap dapat diberikan tanpa mengabaikan persetujuan pemerintah Thailand dan pihak-pihak yang terlibat.

ASEAN Tidak Harus Menjadi Mediator untuk Berperan

Konflik Thailand Selatan memberikan pelajaran penting bagi ASEAN. Menghormati kedaulatan negara anggota memang diperlukan untuk menjaga hubungan regional. Namun, penghormatan terhadap kedaulatan tidak seharusnya membuat ASEAN kehilangan ruang untuk mendukung penyelesaian konflik yang berdampak pada stabilitas kawasan.

ASEAN tidak harus mengambil alih perundingan atau memaksakan mediasi internasional kepada Thailand. Peran yang lebih realistis adalah mendukung Malaysia sebagai fasilitator, memperkuat kerja sama keamanan lintas batas, mendorong pelibatan masyarakat setempat, dan menyediakan ruang pertukaran pengalaman penyelesaian konflik.

Pendekatan ini memang tidak menjamin perdamaian dapat segera tercapai. Keberhasilannya tetap bergantung pada kesediaan pemerintah Thailand dan BRN untuk melanjutkan dialog secara serius. Namun, dukungan regional dapat membantu menjaga proses perdamaian agar tidak sepenuhnya bergantung pada dinamika politik domestik dan hubungan antara kedua pihak.

Pada akhirnya, konflik Thailand Selatan bukan hanya tentang batas keterlibatan ASEAN, tetapi juga tentang bagaimana organisasi regional menghadapi persoalan yang berlangsung lama di tengah prinsip penghormatan terhadap kedaulatan negara.

Ketika perundingan terus menemui jalan buntu, masyarakat di Pattani, Yala, dan Narathiwat tetap menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar janji perdamaian. Mereka membutuhkan proses yang memberi ruang bagi identitas, aspirasi, dan keamanan mereka.

ASEAN mungkin tidak dapat menjadi aktor utama dalam penyelesaian konflik ini. Namun, selama masih ada ruang untuk mendukung dialog dan membangun kerja sama, ASEAN tidak harus diam. Sebab, menjaga stabilitas kawasan bukan hanya soal mencegah konflik meluas, tetapi juga membantu menciptakan kondisi agar perdamaian yang bertahan lama dapat terwujud.