Dari Cerita Pribadi Menjadi Suara Generasi: Cara Hindia Membangun Kedekatan dengan Pendengarnya

Mahasiswa Universitas Pamulang - S1 Ilmu Komunikasi Thaienthusiast, Kpopers, & Film Enthusiast. Pecinta horror, milo, kopi dan Story Alternative Universe.
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari Citra Kurnia Ningsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada kalanya seseorang mendengarkan lagu bukan karena melodinya saja, melainkan karena merasa ada bagian dari hidupnya yang sedang diceritakan. Tentang lelah menjalani rutinitas, bingung menentukan arah hidup, berusaha memenuhi harapan orang lain, hingga perasaan takut kalau semua usaha yang dilakukan ternyata belum cukup. Hal-hal seperti itu mungkin terdengar sederhana dan sangat personal. Namun, ketika dituangkan ke dalam musik, pengalaman tersebut bisa menjangkau banyak orang dengan latar belakang yang berbeda. Inilah salah satu hal yang membuat karya Hindia, nama panggung dari Baskara Putra, memiliki tempat tersendiri bagi pendengarnya.
Bagi sebagian orang, lagu Hindia bukan sekadar sesuatu yang diputar untuk menemani perjalanan atau mengisi waktu luang. Ada lagu yang terasa seperti teman ketika sedang lelah, ada yang membantu seseorang melihat kembali dirinya sendiri, dan ada pula yang membuat pendengarnya mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap penting dalam hidup.
Saya sendiri menemukan kedekatan itu melalui beberapa lagu Hindia, seperti “Evaluasi”, “Bayangkan Jika Kita Tidak Menyerah”, dan “Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya”. Ketiganya menghadirkan perasaan yang berbeda, tetapi sama-sama terasa dekat dengan pengalaman menjalani kehidupan, menghadapi ketidakpastian, dan mencoba bertahan di tengah berbagai tuntutan.
Dari situ, saya melihat bahwa kekuatan Hindia bukan hanya terletak pada kemampuannya menciptakan lagu yang mudah diingat. Ada sesuatu dalam cara ia menyampaikan cerita yang membuat pendengar merasa bahwa pengalaman pribadi mereka juga memiliki ruang untuk diceritakan.
Berangkat dari Pengalaman Pribadi
Pada 29 November 2019, Hindia merilis album debut solonya, Menari dengan Bayangan. Album tersebut menghadirkan berbagai refleksi mengenai kehidupan, hubungan antarmanusia, dan pergulatan personal. Proyek solo Hindia juga memberikan ruang bagi Baskara Putra untuk menampilkan sisi yang lebih personal melalui musiknya.
Pengalaman pribadi menjadi salah satu titik awal yang menarik dalam memahami karya Hindia. Ia tidak selalu harus mengangkat persoalan besar yang dialami masyarakat secara keseluruhan. Hal-hal yang mungkin terlihat sederhana, seperti merasa lelah, mempertanyakan pilihan hidup, atau berusaha menerima keadaan, justru dapat menjadi cerita yang dekat dengan banyak orang.
Hal ini terlihat dalam lagu “Evaluasi.” Lagu tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan untuk melihat kembali perjalanan hidup, termasuk ketika seseorang sedang menghadapi masalah dan merasa belum mencapai apa yang diharapkan.
Bagi saya, lagu ini terasa dekat karena kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada masa ketika seseorang sudah berusaha menjalankan tanggung jawabnya, menyelesaikan pekerjaan, memenuhi kewajiban, dan tetap melanjutkan aktivitas sehari-hari, tetapi di tengah semua itu masih muncul pertanyaan tentang apakah dirinya sudah melakukan cukup banyak.
Perasaan seperti ini sering kali sulit dijelaskan kepada orang lain. Dari luar, seseorang mungkin terlihat baik-baik saja karena tetap bekerja, kuliah, dan menjalankan rutinitasnya. Padahal, ada kelelahan yang tidak selalu terlihat dan pikiran yang terus berjalan bahkan ketika tubuh sudah membutuhkan istirahat.
“Evaluasi” terasa seperti pengingat bahwa perjalanan hidup tidak hanya tentang pencapaian yang bisa dilihat orang lain. Ada proses panjang yang hanya diketahui oleh diri sendiri, termasuk hal-hal yang harus dilewati tanpa banyak orang menyadarinya.
Di titik inilah pengalaman personal seorang musisi mulai menemukan hubungannya dengan pengalaman pendengar. Cerita yang awalnya berasal dari satu individu dapat menjadi ruang refleksi bagi orang lain yang sedang menghadapi keadaan serupa.
“Bayangkan Jika Kita Tidak Menyerah”: Tentang Harapan untuk Tetap Melanjutkan Hidup
Jika “Evaluasi” mengajak pendengarnya melihat kembali perjalanan yang sudah dilalui, “Bayangkan Jika Kita Tidak Menyerah” menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Lagu ini terasa seperti ajakan untuk membayangkan kemungkinan lain ketika seseorang memilih tetap bertahan di tengah berbagai tantangan.
Dalam kehidupan, menyerah tidak selalu muncul karena seseorang tidak lagi memiliki keinginan untuk berjuang. Ada kalanya rasa lelah membuat seseorang mulai meragukan kemampuannya sendiri. Ketika masalah datang berulang kali, masa depan bisa terasa semakin jauh dan tujuan yang sebelumnya ingin dicapai perlahan kehilangan kejelasannya.
Lagu ini menarik karena menghadirkan harapan tanpa harus membuat perjuangan terdengar mudah. Bertahan bukan berarti seseorang tidak boleh merasa lelah atau kecewa. Justru, ada kalanya seseorang perlu mengakui bahwa keadaan sedang sulit sebelum akhirnya menemukan alasan untuk melanjutkan langkahnya.
Secara personal, lagu ini terasa dekat karena menjalani kehidupan bukan hanya tentang menyelesaikan apa yang ada di depan mata, tetapi juga tentang mempertahankan keyakinan bahwa usaha yang dilakukan masih memiliki arti.
Tidak semua hal bisa langsung terlihat hasilnya. Ada proses yang membutuhkan waktu, ada tujuan yang harus diperjuangkan perlahan, dan ada masa ketika seseorang hanya bisa menjalani hari demi hari tanpa mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi berikutnya.
Dalam keadaan seperti itu, membayangkan kemungkinan bahwa semuanya masih bisa diperjuangkan menjadi sesuatu yang berarti. Bukan jaminan bahwa semua hal akan berakhir sesuai harapan, melainkan pengingat bahwa keadaan hari ini tidak harus menjadi satu-satunya gambaran tentang masa depan.
Kedekatan lagu ini dengan pendengarnya juga memperlihatkan bahwa musik tidak selalu harus memberikan jawaban. Terkadang, musik cukup membuka ruang bagi seseorang untuk kembali mempertimbangkan harapan yang hampir ditinggalkannya.
“Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya”: Ketika Hidup Bukan Hanya tentang Bekerja
Ada satu hal yang sering kali luput ketika seseorang terlalu sibuk mengejar tujuan hidup: proses menjalani kehidupan itu sendiri.
Pekerjaan, pendidikan, penghasilan, dan pencapaian memang penting. Semuanya dapat menjadi bagian dari usaha membangun masa depan yang lebih baik. Namun, ketika seluruh waktu dan energi hanya digunakan untuk memenuhi tuntutan tersebut, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk menikmati hal-hal sederhana yang sebenarnya juga memiliki arti.
Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa “Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya” terasa begitu dekat dengan saya.
Lagu tersebut tidak harus dimaknai sebagai ajakan untuk meninggalkan pekerjaan atau berhenti mengejar cita-cita. Sebaliknya, lagu ini dapat dilihat sebagai pengingat bahwa karier bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang.
Bagi orang yang menjalani pekerjaan sekaligus pendidikan, misalnya, waktu sering kali menjadi sesuatu yang harus dibagi dengan sangat hati-hati. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan, tenaga yang harus dikeluarkan, dan kebutuhan pribadi yang terkadang harus menunggu sampai semua urusan dianggap selesai.
Dalam keadaan seperti itu, menikmati hidup bisa terasa seperti sesuatu yang harus ditunda. Seseorang mungkin berpikir bahwa dirinya baru boleh beristirahat setelah mencapai target tertentu, baru boleh bersenang-senang setelah memiliki penghasilan lebih besar, atau baru boleh merasa puas ketika kehidupannya sudah terlihat mapan.
Padahal, tidak ada jaminan bahwa seluruh tuntutan akan selesai pada satu titik. Ketika satu target tercapai, target berikutnya sering kali sudah menunggu.
Di sinilah pesan lagu tersebut terasa relevan. Mengejar masa depan tetap penting, tetapi jangan sampai keinginan untuk membangun kehidupan yang lebih baik justru membuat kita lupa menjalani kehidupan yang sedang berlangsung.
Bagi saya, lagu ini seperti mengingatkan bahwa manusia bukan mesin yang hanya perlu bekerja, menyelesaikan kewajiban, lalu mengulang semuanya keesokan hari. Ada kebutuhan untuk beristirahat, menikmati waktu bersama orang-orang terdekat, dan melakukan sesuatu yang membuat kita merasa hidup.
Kita boleh memiliki ambisi dan ingin mencapai banyak hal. Namun, kita juga berhak menikmati prosesnya tanpa harus terus-menerus merasa tertinggal dari pencapaian orang lain.
Pesan tersebut terasa semakin penting ketika media sosial sering memperlihatkan keberhasilan orang lain dalam bentuk yang begitu mudah dibandingkan dengan kehidupan sendiri. Melihat orang lain mencapai target karier, membeli sesuatu yang diinginkan, atau menjalani kehidupan yang terlihat menyenangkan terkadang membuat seseorang mempertanyakan perjalanan yang sedang ditempuhnya.
Padahal, setiap orang memiliki keadaan, tanggung jawab, dan waktu yang berbeda. Tidak semua perjalanan harus menghasilkan pencapaian yang sama pada usia yang sama.
Melalui lagu ini, Hindia menghadirkan ruang untuk mempertanyakan kembali hubungan antara pekerjaan, ambisi, dan kebahagiaan. Sebab, keberhasilan seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk menikmati hidup yang sedang diperjuangkannya.
Mengapa Lagu yang Personal Bisa Terasa Mewakili Banyak Orang?
Ketiga lagu tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman yang berbeda dapat bertemu dalam satu hal yang sama: perasaan manusia ketika menghadapi kehidupan.
“Evaluasi” memberikan ruang untuk melihat kembali diri sendiri. “Bayangkan Jika Kita Tidak Menyerah” menghadirkan harapan untuk terus melangkah. Sementara itu, “Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya” mengingatkan bahwa kehidupan tidak seharusnya hanya diisi oleh tuntutan untuk terus mencapai sesuatu.
Makna tersebut tentu tidak selalu sama bagi setiap pendengar. Seseorang mungkin mendengarkan “Evaluasi” ketika menghadapi masalah keluarga, sedangkan orang lain menghubungkannya dengan tekanan pekerjaan atau pendidikan. Lagu tentang bertahan juga bisa memiliki arti yang berbeda bagi seseorang yang sedang memperjuangkan hubungan, cita-cita, atau masa depannya sendiri.
Perbedaan penafsiran ini justru menunjukkan bagaimana sebuah karya dapat memiliki kehidupan yang lebih luas daripada pengalaman penciptanya.
Ketika sebuah lagu dirilis, musisi memang memiliki pengalaman dan sudut pandang yang melatarbelakangi pembuatannya. Namun, setelah didengarkan oleh orang lain, lagu tersebut juga menjadi bagian dari pengalaman pendengarnya.
Mereka menghubungkan cerita dalam lagu dengan hal-hal yang pernah dialami, perasaan yang sedang dirasakan, atau harapan yang ingin diwujudkan. Akhirnya, satu lagu dapat memiliki banyak cerita tanpa harus kehilangan makna awalnya.
Dalam konteks komunikasi, proses ini memperlihatkan bahwa pesan tidak hanya berhenti ketika disampaikan oleh komunikator. Penerima pesan juga memiliki peran dalam menafsirkan makna berdasarkan pengalaman dan lingkungan sosialnya.
Musik menjadi salah satu medium yang memungkinkan proses tersebut berlangsung secara emosional. Pendengar mungkin tidak mengenal Hindia secara pribadi, tetapi mereka dapat merasa dekat dengan cerita yang disampaikan melalui lagu-lagunya.
Kedekatan itu bukan berarti musisi mengetahui setiap persoalan yang dialami pendengarnya. Justru, lagu yang berangkat dari pengalaman pribadi dapat terasa relevan karena menghadirkan emosi yang juga dikenal oleh orang lain.
Dari Cerita Pribadi Menjadi Suara Generasi
Karya Hindia memperlihatkan bahwa sebuah cerita tidak harus berangkat dari pengalaman yang dialami semua orang untuk bisa dipahami oleh banyak orang. Terkadang, kejujuran dalam menceritakan pengalaman sendiri justru membuka ruang bagi orang lain untuk menemukan pengalaman yang serupa.
Bagi saya, kedekatan dengan lagu-lagu Hindia bukan semata-mata karena lagu tersebut membicarakan persoalan hidup yang mudah dipahami. Lebih dari itu, ada perasaan bahwa pengalaman yang sering kali sulit dijelaskan ternyata dapat disampaikan melalui musik.
Ada kalanya kita hanya membutuhkan ruang untuk mengakui bahwa kita sedang lelah. Ada kalanya kita perlu diingatkan bahwa perjuangan yang sedang dijalani masih memiliki arti. Dan ada kalanya kita perlu berhenti sejenak untuk menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang bekerja keras demi masa depan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani hari ini.
Musik memang tidak bisa menyelesaikan semua persoalan. Mendengarkan lagu tidak serta-merta menghilangkan tekanan pekerjaan, menyelesaikan masalah keluarga, atau memberikan kepastian tentang masa depan. Namun, musik dapat membantu seseorang mengenali perasaannya dan melihat pengalamannya dari sudut pandang yang berbeda.
Di tengah kehidupan yang sering menuntut manusia untuk terus bergerak, menghasilkan sesuatu, dan membuktikan keberhasilannya, karya yang memberikan ruang bagi keraguan dan kelelahan memiliki arti tersendiri.
Pada akhirnya, kedekatan Hindia dengan pendengarnya tidak hanya dibangun melalui melodi yang mudah diingat atau lirik yang terasa dekat. Kedekatan itu tumbuh ketika pendengar menemukan bagian dari kehidupan mereka sendiri dalam cerita yang disampaikan.
Mungkin itulah yang membuat sebuah lagu bisa terus didengarkan pada waktu dan keadaan yang berbeda. Bukan karena maknanya selalu sama, melainkan karena kehidupan pendengarnya terus berubah.
Cerita yang awalnya sangat personal dapat berkembang menjadi sesuatu yang dirasakan bersama. Dari pengalaman seorang musisi, menjadi ruang refleksi bagi banyak orang. Dari satu suara, menjadi kumpulan pengalaman yang saling terhubung.
Dan pada akhirnya, di situlah musik menemukan kekuatannya: bukan dengan mewakili seluruh pengalaman manusia, melainkan dengan membuat seseorang merasa bahwa pengalaman hidupnya sendiri juga layak untuk didengarkan.
