Berbicara yang Membekas, Membuat Audiens Benar-Benar Mengingat Pesanmu!

Saya mahasiswa akhir yang sedang mencoba untuk menulis banyak hal.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Daffa Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah Gak Sih? Sudah Bicara Panjang Lebar tapi Audiens Malah Hilang Fokus? Berbicara yang Membekas, Membuat Audiens Benar-Benar Mengingat Pesanmu! “Mereka tadi benar-benar paham nggak, ya?”
Hal seperti ini cukup sering terjadi. Kita mungkin sudah mempersiapkan materi dengan baik, tetapi ketika menyampaikannya, perhatian audiens justru mulai berkurang. Ada yang melihat ke arah lain, memainkan ponsel, atau bahkan terlihat tidak lagi mengikuti pembicaraan.
Di sinilah kemampuan public speaking menjadi sangat penting. Berbicara di depan orang lain bukan hanya tentang berani tampil atau mampu berbicara tanpa berhenti, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana membuat pesan yang disampaikan dapat dipahami, menarik perhatian, dan bahkan diingat oleh audiens.
Bukan Sekadar Banyak Bicara, salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika berbicara adalah menganggap bahwa semakin banyak informasi yang disampaikan, semakin baik pula pembicaraannya. Padahal, terlalu banyak informasi justru dapat membuat audiens kesulitan menangkap inti pembicaraan.
1. Pesan Utama
Sebelum mulai berbicara, tentukan terlebih dahulu pesan utama yang ingin disampaikan. Jika audiens hanya mengingat satu atau dua hal setelah pembicaraan selesai, pastikan hal tersebut memang merupakan pesan yang paling penting. Dengan begitu, pembicaraan akan menjadi lebih terarah dan audiens tidak merasa sedang menerima terlalu banyak informasi sekaligus.
2. Cara Berbicara
Pesan yang bagus, bisa kehilangan daya tarik jika disampaikan dengan cara yang monoton. Karena itu, penggunaan intonasi, volume suara, dan kecepatan berbicara perlu diperhatikan. Cobalah memberikan penekanan pada bagian tertentu yang dianggap penting. Sesekali memperlambat pembicaraan juga dapat membuat audiens lebih fokus terhadap kalimat yang sedang disampaikan.
Sebaliknya, berbicara terlalu cepat dapat membuat informasi sulit dipahami. Jadi, tidak perlu terburu-buru hanya karena ingin segera menyelesaikan pembicaraan. Berikan jeda. Dalam public speaking, diam selama beberapa detik bukan berarti kehilangan kata-kata. Justru, jeda yang tepat dapat membuat pesan terasa lebih kuat.
3. Bahasa Tubuh Jangan Dilupakan
Ketika seseorang berbicara, audiens tidak hanya memperhatikan kata-katanya. Mereka juga melihat ekspresi wajah, gerakan tangan, posisi tubuh, bahkan kontak mata. Bahasa tubuh yang tepat dapat membuat pembicara terlihat lebih percaya diri dan membantu memperkuat pesan yang di berikan. Misalnya, ketika menyampaikan sesuatu yang penting, kontak mata dengan audiens dapat membuat komunikasi terasa lebih personal. Namun, bahasa tubuh juga tidak perlu dibuat berlebihan. Gerakan yang terlalu banyak justru dapat mengalihkan perhatian audiens dari pesan utama. Gunakan gerakan secara alami dan sesuai dengan apa yang sedang dibicarakan.
4. Grogi Itu Wajar
Berbicara di depan banyak orang sering kali membuat seseorang merasa gugup. Tangan berkeringat, suara sedikit bergetar, lupa kalimat, atau tiba-tiba merasa sulit menemukan kata-kata adalah hal yang bisa saja terjadi. Namun, rasa gugup bukan alasan untuk menghindari public speaking. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan persiapan dan latihan. Tidak perlu menghafalkan seluruh materi kata demi kata. Cukup pahami alur dan poin-poin penting yang ingin disampaikan. Dengan begitu, ketika lupa satu kalimat, pembicaraan tetap bisa dilanjutkan menggunakan bahasa sendiri.
Latihan juga dapat dilakukan dengan cara sederhana. Cobalah berbicara di depan cermin, merekam suara sendiri, atau melakukan simulasi presentasi. Dari latihan tersebut, kita bisa mengetahui apakah cara berbicara terlalu cepat, terlalu pelan, atau masih terdengar monoton.
5. Kenali Siapa yang Mendengarkan
Pembicaraan yang baik juga harus disesuaikan dengan audiens. Cara berbicara kepada teman sebaya tentu berbeda dengan cara berbicara dalam forum resmi. Memahami audiens membantu kita menentukan pilihan kata, contoh, hingga gaya penyampaian yang tepat. Semakin dekat materi dengan pengalaman audiens, semakin besar kemungkinan mereka tertarik untuk mendengarkan. Misalnya, ketika membahas suatu topik kepada mahasiswa, menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan perkuliahan biasanya akan lebih mudah diterima dibandingkan menggunakan contoh yang terlalu jauh dari kehidupan mereka.
6. Buat Mereka Mengingat, Bukan Hanya Mendengar
Pada akhirnya, public speaking bukan tentang siapa yang paling banyak berbicara atau siapa yang paling percaya diri di atas panggung. Tujuan utamanya adalah bagaimana sebuah pesan tersampaikan kepada audiens. Pembicara yang baik mampu membuat audiens memahami apa yang disampaikan. Pembicara yang lebih efektif mampu membuat audiens mengingatnya bahkan setelah pembicaraan selesai.
Karena itu, sebelum berbicara, jangan hanya bertanya, “Apa yang ingin saya katakan?” Cobalah bertanya lebih jauh, “Apa yang ingin saya buat audiens ingat setelah saya selesai berbicara?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah cara kita mempersiapkan sebuah pembicaraan. Sebab, berbicara yang baik bukan sekadar membuat orang mendengar. Berbicara yang baik adalah ketika pesan yang kita sampaikan meninggalkan sesuatu untuk diingat.
Pada akhirnya, kemampuan public speaking bukan hanya tentang bagaimana kita berbicara, tetapi juga bagaimana orang lain memahami dan mengingat pesan yang kita sampaikan. Dengan persiapan, latihan, dan cara penyampaian yang tepat, siapa pun bisa belajar menjadi pembicara yang lebih baik.
Jadi, jangan hanya berusaha agar orang lain mau mendengarkan kita. Berusahalah agar apa yang kita sampaikan benar-benar berarti bagi mereka. Karena pembicaraan yang baik bukanlah yang paling panjang, melainkan yang mampu meninggalkan pesan dan kesan meskipun pembicaraan telah berakhir.
