Tantang SpaceX, The Exploration Company Raih Pendanaan USD 450 Juta

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi rocket launch, rocket, space shuttle. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi rocket launch, rocket, space shuttle. Foto: Pixabay

Antrean pengiriman objek ke orbit bumi terus meningkat pesat, namun infrastruktur luar angkasa global dinilai belum mampu mengimbangi lonjakan permintaan tersebut. Di tengah kesadaran bahwa SpaceX besutan Elon Musk tidak bisa terus-menerus menjadi satu-satunya jawaban tunggal, sejumlah perusahaan dirgantara swasta mulai bergerak cepat menggalang dana besar. Salah satu gebrakan terbesar datang dari perusahaan rintisan asal Eropa, The Exploration Company (TEC), yang baru saja mengamankan pendanaan Seri C senilai USD 450 juta untuk menantang dominasi tersebut.

Langkah strategis ini tercatat sebagai putaran pendanaan Seri C terbesar yang pernah ada bagi perusahaan luar angkasa Eropa. Dengan dukungan finansial yang kuat ini, TEC berkomitmen untuk menghadirkan alternatif kendaraan luar angkasa yang dapat digunakan kembali (reusable spacecraft), guna mengikis ketergantungan global terhadap armada roket milik SpaceX yang kapasitas peluncurannya kian terbatas karena prioritas internal mereka.

Misi Memutus Monopoli Peluncuran Global

Kebutuhan akan peluncuran satelit dan kargo ke orbit rendah bumi (low-earth-orbit) kini berada di titik jenuh. Keadaan ini diperparah oleh kebijakan internal SpaceX yang dilaporkan semakin memprioritaskan roket Falcon milik mereka untuk meluncurkan konstelasi satelit Starlink milik mereka sendiri. Fenomena ini menciptakan celah pasar yang sangat besar bagi para kompetitor, mengingat para pelaku industri luar angkasa global kini kesulitan mendapatkan jadwal peluncuran yang fleksibel.

Di sinilah TEC melihat peluang emas untuk masuk dan mengganggu dominasi tersebut. Dipimpin oleh Hélène Huby, seorang warga negara Prancis yang telah menghabiskan dua dekade kariernya di Airbus dan ArianeGroup, perusahaan ini merancang fondasi bagi peluncuran roket berat Eropa yang lebih terjangkau. Langkah ini tidak hanya bermotif bisnis semata, melainkan juga didorong oleh isu kedaulatan strategis Uni Eropa yang enggan bergantung sepenuhnya pada infrastruktur milik Amerika Serikat.

Pengembangan Kapsul Reusable Nyx dan Mesin Storm

Fokus jangka pendek dari kucuran dana segar ini adalah pengembangan Nyx, sebuah kapsul luar angkasa yang dirancang dengan konsep dapat digunakan kembali (reusable capsule). Mirip dengan kapsul Dragon milik SpaceX, Nyx diproyeksikan untuk mengangkut kargo terlebih dahulu sebelum akhirnya dimodifikasi untuk membawa astronaut manusia. Target ambisius TEC adalah melakukan uji coba dok dengan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dan kembali ke bumi dengan selamat pada November 2028.

Selain kapsul, pendanaan baru ini juga akan menyokong pengembangan awal Storm, program mesin roket generasi baru yang menjadi basis teknologi peluncuran mandiri mereka. Untuk mencapai efisiensi maksimal, TEC mengadopsi siklus pembakaran bertahap aliran penuh (full-flow staged combustion). Teknologi mesin ini merupakan salah satu yang paling rumit di dunia, namun menawarkan efisiensi tertinggi yang saat ini juga digunakan oleh SpaceX dan kompetitor asal AS lainnya, Stoke Space. Mengenai inovasi ini, Huby menyatakan, “Ini adalah siklus mesin yang paling sulit, namun juga paling efisien di dunia. Ini adalah pertama kalinya di Eropa ada sebuah perusahaan yang mengembangkan mesin roket semacam itu.”

Dukungan Finansial Transatlantik dan Validasi Pasar

Meskipun target peluncuran komersial penuh masih memakan waktu beberapa tahun lagi, TEC telah mengantongi komitmen pasar yang sangat masif. Hingga saat ini, perusahaan mengklaim telah mengamankan kontrak dan komitmen bernilai lebih dari 2 miliar dolar AS untuk sekitar 10 misi peluncuran Nyx yang telah dipesan. Beberapa komitmen penting tersebut tidak hanya datang dari institusi regional seperti Badan Antariksa Eropa (ESA), melainkan juga dari badan antariksa Amerika Serikat, NASA.

Pendanaan Seri C yang dipimpin bersama oleh Atomico, Scaleup Europe Fund yang dikelola EQT, serta Bessemer Venture Partners ini menunjukkan kuatnya kepercayaan investor dari kedua sisi Samudra Atlantik. Huby menegaskan bahwa TEC dikelola secara pragmatis layaknya perusahaan swasta murni yang harus menghasilkan nilai ekonomi cepat. Ia sempat mengungkapkan ketertarikannya agar Eropa memasukkan misi penerbangan luar angkasa berawak manusia ke dalam peta jalannya, namun ia sadar tidak akan bisa meyakinkan para venture capital untuk menginvestasikan USD 4 miliar demi kapsul kru, “lalu menunggu selama 10 tahun.” Oleh karena itu, pendekatan pragmatis melalui peluncuran kargo komersial menjadi prioritas utama mereka saat ini.