Transformasi Kings Cross dari Kawasan Prostitusi Menjadi Pusat AI Dunia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi driver, car, street. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi driver, car, street. Foto: Pixabay

Kawasan King's Cross di London kini tengah mengalami lonjakan popularitas yang luar biasa di industri teknologi global. Distrik yang dahulu dikenal sebagai area kumuh dan pusat transaksi narkotika serta prostitusi, kini bertransformasi menjadi salah satu pusat artificial intelligence (AI) terkemuka di dunia, bersanding dengan San Francisco dan Beijing. Kehadiran raksasa teknologi dan perusahaan rintisan (startup) AI papan atas telah mengubah lanskap wilayah ini secara drastis.

Fenomena ini dipicu sejak kepindahan DeepMind ke kawasan tersebut pada tahun 2016 setelah diakuisisi oleh Google. Gelombang besar talenta global dan modal ventura (venture capital) segera menyusul, memicu persaingan ketat dalam perebutan ruang kantor dan talenta terbaik, sekaligus memperkuat posisi London sebagai poros kekuatan teknologi baru di Eropa.

Magnet Baru bagi Raksasa Teknologi Dunia

Popularitas King's Cross melahirkan julukan baru bagi kawasan ini, yakni Knowledge Quarter. Berbagai nama besar di industri kecerdasan buatan kini membuka kantor di sana, mulai dari OpenAI, Meta, Isomorphic Labs, Cusp AI, Wayve, hingga Anthropic dan Synthesia. Bahkan, perusahaan AI milik Jeff Bezos yang bernama Prometheus dikabarkan tengah bernegosiasi untuk menyewa ruang kantor di gedung Jellicoe guna mendekati pusat ekosistem tersebut.

Permintaan ruang kantor konvensional yang melonjak tajam membuat tingkat kekosongan (vacancy rate) di King's Cross kini menyusut hingga tersisa 0,9 persen saja. Menurut data dari firma real estat Knight Frank, harga sewa utama di kawasan ini melonjak hingga 18 persen selama tiga tahun terakhir untuk transaksi skala besar di atas 10.000 kaki persegi. Chris Dunn, asosiasi riset komersial di firma tersebut, mengungkapkan bahwa, “Permintaan telah jauh melampaui pasokan.” Hal ini memaksa para investor modal ventura melakukan berbagai cara kreatif untuk memenangkan kesepakatan dengan pendiri startup, termasuk menjanjikan penyediaan ruang kantor di lokasi strategis tersebut.

Masa Lalu Kelam dan Kebangkitan Ekonomi Digital

Kondisi King's Cross saat ini sangat kontras dengan realitas wilayah tersebut beberapa dekade silam. Pada era 1980-an, kawasan ini dipenuhi oleh epidemi narkoba jenis heroin dan kokain, serta dikuasai oleh jaringan prostitusi jalanan. Investor dari Hoxton Ventures, Hussein Kanji, mengenang bagaimana jarum suntik bekas berserakan di batang pohon dan geng kriminal berpatroli bebas di jalanan sekitar King's Cross. Namun, proyek pengembangan real estat besar-besaran pada awal tahun 2000-an berhasil mengubah total wajah kawasan kumuh tersebut.

Kini, wilayah tersebut telah menjadi pusat inovasi teknologi medis dan kecerdasan buatan terdepan di Inggris. Perusahaan bioteknologi BioCorteX, misalnya, memindahkan kantor mereka ke gedung Jellicoe untuk mendekati pusat aktivitas industri. Pendiri BioCorteX, Nik Sharma, mengonfirmasi dinamika positif tersebut dengan menyatakan, “Banyak hal yang terjadi di London saat ini. Banyak perusahaan penyedia layanan komputasi awan skala besar (hyperscalers) yang mulai masuk ke sini.”

Isu Kedaulatan Teknologi dan Perang Talenta Global

Di balik gemerlapnya pertumbuhan King's Cross, para pelaku industri juga mulai menyoroti isu krusial mengenai kedaulatan teknologi (sovereignty). Keputusan sepihak Anthropic untuk menghentikan akses ke model AI Mythos dan Fable pada musim panas lalu menjadi peringatan keras bagi ekosistem Eropa. Robin Klein, salah satu pendiri modal ventura Phoenix Court, menegaskan bahwa Eropa tidak bisa terus-menerus bergantung pada infrastruktur luar. Ia menyatakan, “Eropa tidak bisa hanya menyewa kemampuan dan kapasitas AI miliknya; kawasan ini harus membangun dan memiliki infrastrukturnya sendiri.”

Di sisi lain, lonjakan industri ini memicu talent war yang sangat ketat di London. Berdasarkan data dari PwC, lowongan pekerjaan di bidang AI meroket tajam dalam beberapa tahun terakhir. Ketika Anthropic membuka kantor barunya, mereka menawarkan gaji berkisar antara £260.000 hingga £630.000 untuk posisi insinyur riset pembelajaran mesin (machine learning research engineer). Angka fantastis tersebut jauh melampaui rata-rata gaji untuk peran serupa di London yang biasanya berkisar di angka £102.000, memaksa para pendiri startup lokal untuk menggalang dana investasi dalam jumlah yang jauh lebih besar agar tetap kompetitif.