Konten dari Pengguna

Perkara Lima Menit yang Bikin Pikir Dua Kali: Maraknya Juru Parkir di Solo

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Danendra Farras Asmoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Foto diambil Penulis di Lokasi) Suasana Alun-Alun Kidul, Solo Pada Malam Hari
zoom-in-whitePerbesar
(Foto diambil Penulis di Lokasi) Suasana Alun-Alun Kidul, Solo Pada Malam Hari

Di beberapa sudut Kota Solo, pemandangan pengendara yang baru saja berhenti lalu didatangi juru parkir bukanlah hal yang asing. Mulai dari kawasan pertokoan, tempat makan, hingga lokasi yang ramai dikunjungi masyarakat, keberadaan juru parkir kerap menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Bagi sebagian orang, kehadiran mereka membantu mengatur kendaraan. Namun, bagi pengendara lain, situasi tersebut justru menimbulkan keluhan, terutama ketika berhenti sebentar untuk membeli makanan atau sekadar mampir tetap diikuti permintaan uang parkir. Hal sederhana yang seharusnya tidak memakan banyak waktu itu pun bisa menjadi pertimbangan sebelum seseorang memutuskan untuk mengunjungi suatu tempat.

Dhanya, mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) yang gemar berkendara motor dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya di berbagai tempat di Solo, mengaku keberadaan juru parkir terkadang membuatnya berpikir dua kali sebelum bepergian. Sebagai mahasiswa, biaya parkir yang harus dibayarkan berulang kali menjadi pengeluaran tambahan yang perlu dipertimbangkan. “Aku tuh suka motoran sama teman-teman, biasanya buat hang out atau sekadar cari makan di Solo. Tapi kadang kalau mau ke suatu tempat jadi mikir dua kali, apalagi kalau tiba-tiba ada juru parkir. Bahkan cuma beli makanan buat dibawa pulang atau berhenti sebentar pun kadang tetap dimintai uang parkir. Kalau sering begitu, lumayan juga pengeluarannya sebagai mahasiswa,” ungkap Dhanya dalam wawancara simulasi. Baginya, persoalan tersebut bukan hanya tentang nominal uang, tetapi juga pengalaman ketika harus membayar meskipun tidak berlama-lama berada di suatu tempat.

Keluhan Dhanya semakin terasa ketika ia mendapati juru parkir yang menurut pengalamannya tidak banyak membantu dalam mengatur kendaraan. Ia menilai bahwa tugas juru parkir seharusnya tidak berhenti pada meminta uang, tetapi juga memberikan pelayanan yang membuat pengendara merasa terbantu. “Yang bikin agak kesal itu kadang juru parkirnya cuma datang pas kita mau pergi, terus langsung minta uang. Padahal dari awal nggak bantu ngarahin parkir atau pas kita mau keluar. Aku paham mungkin itu pekerjaan mereka, tapi kalau memang meminta uang parkir, setidaknya ada bantuan yang diberikan juga,” tambahnya. Pengalaman seperti itu membuat Dhanya lebih selektif dalam memilih tempat untuk dikunjungi. Ia terkadang mempertimbangkan lokasi lain atau mengurungkan niatnya apabila memperkirakan akan menghadapi biaya parkir tambahan untuk kunjungan singkat.

Di sisi lain, pekerjaan sebagai juru parkir memiliki arti tersendiri bagi orang yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas tersebut. Pak Mardi, seorang juru parkir di sekitar Alun-Alun Kidul Solo, memandang pekerjaan ini sebagai salah satu kesempatan untuk memperoleh pemasukan sehari-hari. Menurutnya, pekerjaan parkir relatif mudah dimasuki dibandingkan pekerjaan yang mensyaratkan pendidikan atau keterampilan khusus, meskipun tetap membutuhkan tanggung jawab dalam pelaksanaannya. “Pekerjaan parkir ini bisa jadi kesempatan buat orang yang sedang mencari penghasilan. Kita nggak harus punya pendidikan tinggi untuk mulai bekerja, tetapi tetap harus tahu cara mengatur kendaraan dan menghadapi orang. Apalagi kalau tempatnya ramai, ada peluang mendapatkan penghasilan dari kendaraan yang datang,” ujar Pak Mardi dalam wawancara simulasi. Bagi dirinya, parkir bukan sekadar aktivitas meminta bayaran, melainkan pekerjaan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup.

Menanggapi keluhan pengendara seperti Dhanya, Pak Mardi dalam simulasi wawancara tersebut mengakui bahwa juru parkir seharusnya memberikan manfaat melalui tugas yang dijalankan. Ia memahami bahwa pengendara dapat merasa keberatan apabila diminta membayar tanpa memperoleh bantuan yang sesuai. “Kalau ada pengendara yang merasa cuma dimintai uang tanpa dibantu, saya bisa memahami kenapa mereka keberatan. Seharusnya juru parkir juga membantu mengatur posisi kendaraan dan mengarahkan saat kendaraan masuk atau keluar kalau memang diperlukan. Jadi bukan cuma datang waktu mau menerima uang,” tuturnya. Ia juga menilai bahwa pengaturan lokasi dan pembagian tugas yang jelas diperlukan agar keberadaan juru parkir tidak menimbulkan kebingungan. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan parkir tidak hanya berkaitan dengan biaya yang dirasakan pengendara, tetapi juga dengan tanggung jawab dalam bekerja dan pengelolaan parkir yang tertib.

Pada akhirnya, keberadaan juru parkir di Solo memperlihatkan dua sisi yang perlu dipahami secara seimbang. Di satu sisi, pekerjaan ini dapat menjadi sumber penghasilan bagi orang yang membutuhkan kesempatan kerja. Di sisi lain, pengendara berhak mengharapkan kejelasan biaya dan pelayanan yang sesuai, terutama ketika uang parkir diminta untuk kunjungan yang sangat singkat. Persoalannya bukan semata-mata tentang ada atau tidaknya juru parkir, melainkan bagaimana pekerjaan tersebut dijalankan dan diatur agar tidak merugikan pihak lain. Kota yang nyaman bukan hanya kota yang memiliki banyak tempat untuk dikunjungi, tetapi juga kota yang membuat masyarakat merasa tenang ketika datang dan beraktivitas. Dengan penataan yang jelas serta tanggung jawab dari semua pihak, parkir seharusnya menjadi bagian kecil dari perjalanan yang memudahkan, bukan alasan bagi seseorang untuk mengurungkan niatnya berkunjung.