Konten dari Pengguna

Cantik Tidak Harus Sempurna: Pelajaran dari Dunia Makeup dan Kebaya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wida Qonitatul Wiqoyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

lustrasi dibuat menggunakan AI oleh OpenAI melalui ChatGPT (2026). Bukan foto dokumentasi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
lustrasi dibuat menggunakan AI oleh OpenAI melalui ChatGPT (2026). Bukan foto dokumentasi pribadi.

Di tengah perkembangan tren kecantikan dan media sosial, perempuan sering kali dihadapkan pada berbagai standar penampilan. Kulit harus terlihat mulus, wajah harus selalu menarik, dan penampilan seolah dituntut untuk mengikuti tren yang terus berubah.

Namun, apakah cantik harus selalu mengikuti standar yang sama?

Sebagai perempuan yang memiliki ketertarikan pada dunia kecantikan sekaligus menjalankan usaha Makeup Artist (MUA) dan penyewaan kebaya, saya memiliki pandangan bahwa kecantikan sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar penampilan fisik.

Bagi saya, kecantikan juga berkaitan dengan rasa percaya diri, kenyamanan, serta bagaimana seseorang dapat menghargai keunikan dirinya sendiri.

Makeup Bukan Tentang Mengubah Diri Menjadi Orang Lain

Saya merupakan mahasiswi Manajemen Universitas Pamulang Serang sekaligus pemilik Wida Makeup, usaha yang bergerak di bidang jasa Makeup Artist dan penyewaan kebaya di Kota Serang.

Melalui dunia kecantikan, saya semakin memahami bahwa setiap perempuan memiliki karakteristik dan preferensi penampilan yang berbeda.

Ada yang menyukai makeup natural, ada pula yang lebih percaya diri dengan riasan glamor. Keduanya tentu tidak menjadi masalah selama pilihan tersebut membuat seseorang merasa nyaman.

Menurut saya, makeup seharusnya menjadi sarana untuk mengekspresikan diri, bukan alat untuk menutupi kekurangan yang sebenarnya tidak perlu dianggap sebagai kekurangan.

Kita tidak harus memiliki bentuk wajah, warna kulit, atau gaya penampilan yang sama untuk terlihat menarik.

Justru keberagaman tersebut menjadi salah satu hal yang membuat dunia kecantikan begitu menarik.

Kebaya dan Makna Cantik yang Lebih Luas

Selain makeup, saya juga memiliki ketertarikan pada kebaya sebagai salah satu busana yang memiliki nilai budaya dan keindahan tersendiri.

Melalui usaha penyewaan kebaya, saya melihat bagaimana busana tradisional tetap dapat menjadi pilihan menarik bagi perempuan modern.

Kebaya tidak hanya digunakan untuk menghadiri acara formal, tetapi juga menjadi bagian dari momen penting seperti wisuda, lamaran, dan pernikahan.

Menurut saya, mengenakan kebaya bukan hanya persoalan memilih pakaian yang indah. Ada unsur identitas, budaya, dan kebanggaan yang ikut melekat di dalamnya.

Menariknya, perkembangan fashion memungkinkan kebaya dipadukan dengan berbagai gaya modern tanpa harus kehilangan karakter tradisionalnya.

Hal ini menunjukkan bahwa mengikuti perkembangan zaman tidak selalu berarti meninggalkan nilai budaya.

Media Sosial dan Tekanan untuk Selalu Terlihat Sempurna

Tidak dapat dimungkiri bahwa media sosial memiliki pengaruh terhadap cara kita memandang kecantikan.

Setiap hari, kita dapat menemukan berbagai konten makeup, skincare, fashion, hingga transformasi penampilan yang terlihat begitu menarik.

Di satu sisi, konten tersebut dapat memberikan inspirasi. Namun, di sisi lain, kebiasaan membandingkan diri dengan penampilan orang lain berpotensi menimbulkan rasa tidak percaya diri.

Apalagi, tidak semua hal yang terlihat di media sosial menggambarkan kondisi sebenarnya.

Pencahayaan, sudut pengambilan gambar, teknik makeup, hingga penggunaan filter dapat memengaruhi hasil foto atau video yang ditampilkan.

Karena itu, saya percaya bahwa perempuan perlu memiliki kesadaran untuk tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya ukuran kecantikan.

Kita boleh terinspirasi oleh orang lain, tetapi tidak harus kehilangan kepercayaan diri hanya karena merasa berbeda.

Belajar Memahami Perempuan Melalui Bisnis Kecantikan

Sebagai mahasiswi Manajemen yang juga menjalankan usaha, saya belajar bahwa bisnis kecantikan tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis dan kemampuan pemasaran.

Ada aspek lain yang tidak kalah penting, yaitu memahami kebutuhan pelanggan.

Setiap pelanggan memiliki harapan yang berbeda terhadap penampilannya. Karena itu, komunikasi menjadi bagian penting dalam memberikan pelayanan yang baik.

Pengalaman menjalankan usaha juga membuat saya semakin memahami bahwa bisnis tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan.

Kepercayaan pelanggan, kenyamanan pelayanan, serta kemampuan menghargai pilihan setiap individu merupakan hal yang perlu diperhatikan.

Bagi saya, keberhasilan dalam dunia kecantikan tidak cukup diukur dari seberapa bagus hasil makeup yang terlihat dalam foto. Kepuasan dan kenyamanan orang yang menggunakan layanan tersebut juga memiliki arti penting.

Perempuan Berhak Menentukan Definisi Cantiknya Sendiri

Saya percaya bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk menentukan bagaimana dirinya ingin tampil.

Ada perempuan yang merasa percaya diri ketika menggunakan makeup lengkap. Ada pula yang lebih nyaman tampil sederhana tanpa banyak kosmetik.

Begitu juga dalam berpakaian. Tidak semua perempuan harus mengikuti tren yang sama untuk dianggap menarik.

Kecantikan seharusnya memberikan ruang kebebasan, bukan menciptakan tekanan baru.

Melalui pengalaman saya di dunia makeup dan penyewaan kebaya, saya semakin menyadari bahwa hal terpenting bukanlah membuat semua perempuan terlihat sama, melainkan membantu mereka merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.

Pada akhirnya, kecantikan bukan tentang siapa yang paling sempurna di mata orang lain.

Cantik adalah ketika perempuan dapat menghargai dirinya sendiri, percaya diri dengan pilihannya, dan tidak merasa harus menjadi orang lain untuk mendapatkan pengakuan.

Karena setiap perempuan memiliki keindahannya sendiri, dan tidak semuanya harus diukur dengan standar yang sama.

Kredit foto: Ilustrasi dibuat menggunakan AI oleh OpenAI melalui ChatGPT (2026). Bukan foto dokumentasi pribadi.