Perempuan Boleh Berkarier, tetapi Mengapa Urusan Rumah Masih Jadi Beban Mereka?

Mahasiswi Universitas Pamulang Serang Jurusan Manajemen
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Wida Qonitatul Wiqoyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi hari bagi sebagian perempuan tidak selalu dimulai dengan secangkir kopi dan waktu untuk mempersiapkan diri. Ada yang harus menyiapkan sarapan, memastikan kebutuhan anak terpenuhi, membereskan rumah, lalu bergegas menuju tempat kerja.
Ketika pekerjaan di kantor selesai, pekerjaan lain justru menunggu di rumah.
Situasi tersebut menggambarkan kenyataan yang masih dihadapi banyak perempuan. Mereka didorong untuk mandiri secara finansial, memiliki karier, dan terus mengembangkan diri. Namun, pada saat bersamaan, tanggung jawab rumah tangga kerap tetap dilekatkan kepada mereka.
Pertanyaannya, mengapa ketika perempuan memiliki kesempatan yang semakin luas untuk bekerja, pembagian tanggung jawab dalam keluarga belum selalu berubah dengan kecepatan yang sama?
Ketika Perempuan Dituntut Bisa Melakukan Segalanya
Dalam beberapa tahun terakhir, pembicaraan mengenai pemberdayaan perempuan semakin sering terdengar. Perempuan didorong untuk memiliki pendidikan tinggi, membangun usaha, dan menduduki posisi kepemimpinan.
Perkembangan tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, kemajuan kesempatan perempuan di ruang publik seharusnya dibarengi dengan perubahan cara masyarakat memandang pekerjaan domestik.
Faktanya, tanggung jawab pengasuhan masih menjadi persoalan yang memengaruhi perjalanan karier perempuan Indonesia.
Survei Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) bersama Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), yang dipublikasikan pada 9 Maret 2026, menunjukkan bahwa tanggung jawab pengasuhan dan keluarga masih menjadi hambatan penting bagi kemajuan karier perempuan, khususnya pada sektor berorientasi ekspor yang diteliti.
Survei yang melibatkan 493 responden tersebut menemukan bahwa 42,1 persen responden pada tingkat manajemen puncak mengidentifikasi tanggung jawab pengasuhan sebagai hambatan utama kemajuan karier perempuan. Sementara itu, angka pada responden manajemen senior mencapai 47,1 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan perempuan dalam dunia kerja tidak hanya berkaitan dengan kemampuan profesional, tetapi juga kondisi yang mereka hadapi di luar tempat kerja.
Menurut saya, persoalan ini tidak seharusnya dipandang sebagai kesulitan pribadi yang harus diselesaikan perempuan seorang diri.
Jika masyarakat ingin perempuan memperoleh kesempatan yang setara, lingkungan keluarga dan dunia kerja juga harus memberikan dukungan yang seimbang.
Pekerjaan Rumah yang Sering Tidak Dianggap sebagai Pekerjaan
Ada satu hal menarik dari pekerjaan domestik: hasilnya dapat dirasakan setiap hari, tetapi prosesnya sering kali tidak mendapatkan perhatian.
Makanan tersedia, pakaian bersih, rumah tertata, dan kebutuhan anggota keluarga terpenuhi. Semua itu membutuhkan waktu, tenaga, serta kemampuan mengatur banyak hal sekaligus.
Belum lagi pekerjaan yang tidak terlihat, seperti mengingat jadwal pemeriksaan kesehatan anak, merencanakan kebutuhan bulanan, dan memastikan aktivitas keluarga berjalan lancar.
Tanggung jawab untuk terus memikirkan berbagai kebutuhan tersebut sering dikenal sebagai mental load atau beban mental.
Persoalannya, pekerjaan rumah tangga masih kerap dianggap sebagai kewajiban alami perempuan, bukan tanggung jawab bersama yang perlu dibagi secara adil.
Padahal, laporan UN Women berjudul Time Use and Social Inequality a Gendered Perspective, yang diterbitkan pada 2 Maret 2026, memperlihatkan bahwa pembagian waktu antara pekerjaan berbayar, pekerjaan domestik, dan aktivitas pengasuhan berkaitan erat dengan ketimpangan sosial dan ekonomi.
Melalui analisis data penggunaan waktu dari 10 negara, laporan tersebut juga mengangkat konsep time poverty, yaitu kondisi ketika seseorang memiliki keterbatasan waktu akibat berbagai kewajiban yang harus dijalankan.
Bagi saya, pembahasan mengenai waktu ini sangat penting.
Seseorang mungkin terlihat memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja atau mengembangkan diri. Namun, kesempatan tersebut tidak benar-benar setara apabila salah satu pihak harus menghabiskan jauh lebih banyak waktu untuk mengurus kebutuhan keluarga.
Indonesia Mulai Memberikan Perhatian Lebih Besar
Persoalan pembagian pekerjaan perawatan sebenarnya mulai mendapatkan perhatian dalam kebijakan nasional.
Pada 22 September 2026, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), dengan dukungan ILO, meluncurkan pemutakhiran Peta Jalan Ekonomi Perawatan 2026.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat layanan perawatan, mendukung pekerjaan layak, dan meningkatkan partisipasi perempuan dalam dunia kerja.
Salah satu hal yang menarik adalah perhatian terhadap penguatan peran ayah dalam pengasuhan anak serta pentingnya pembagian pekerjaan perawatan yang lebih seimbang.
Langkah ini menunjukkan adanya pengakuan bahwa pekerjaan pengasuhan dan perawatan bukan sekadar persoalan pribadi di dalam rumah tangga, tetapi juga berkaitan dengan pembangunan sosial dan ekonomi.
Meski demikian, kebijakan tentu membutuhkan pelaksanaan yang nyata agar manfaatnya dapat dirasakan oleh keluarga.
Fasilitas pengasuhan anak yang terjangkau, perlindungan pekerja, serta kebijakan tempat kerja yang ramah keluarga merupakan beberapa bentuk dukungan yang dapat membantu mengurangi tekanan terhadap perempuan.
Namun, perubahan tidak cukup hanya dilakukan oleh pemerintah dan perusahaan.
Cara berpikir masyarakat juga perlu berkembang.
Membantu atau Berbagi Tanggung Jawab?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita masih sering mendengar ungkapan bahwa seorang suami sedang membantu istrinya mengurus rumah atau menjaga anak.
Kalimat tersebut terdengar positif. Namun, tanpa disadari, penggunaan kata "membantu" dapat memberikan kesan bahwa seluruh pekerjaan rumah sejak awal merupakan tanggung jawab perempuan.
Padahal, rumah dibangun dan ditempati bersama. Begitu pula dengan tanggung jawab merawat serta membesarkan anak.
Menurut saya, hubungan keluarga yang sehat seharusnya tidak menempatkan salah satu pihak sebagai penanggung jawab utama seluruh kebutuhan rumah tangga.
Pembagian pekerjaan juga tidak harus selalu dilakukan dengan porsi yang identik setiap hari.
Ada keluarga yang salah satu pasangannya bekerja lebih lama, ada pula keluarga yang memilih pembagian peran berbeda berdasarkan kondisi masing-masing.
Hal terpenting adalah adanya kesepakatan, penghargaan terhadap kontribusi satu sama lain, dan kesediaan untuk berbagi tanggung jawab tanpa menganggap pekerjaan domestik sebagai kewajiban berdasarkan jenis kelamin.
Dengan demikian, perempuan yang memilih berkarier tidak perlu terus-menerus dibebani rasa bersalah karena tidak dapat mengerjakan seluruh urusan rumah tangga seorang diri.
Begitu pula perempuan yang memilih fokus mengurus keluarga tetap layak mendapatkan penghargaan atas waktu, tenaga, dan kontribusinya.
Perempuan Tidak Harus Selalu Menjadi Sosok yang Kuat
Masyarakat sering memuji perempuan yang mampu melakukan banyak hal sekaligus. Mereka dianggap hebat karena dapat bekerja, mengasuh anak, mengurus rumah, dan tetap terlihat baik-baik saja.
Namun, kekaguman terhadap perempuan yang serba bisa jangan sampai membuat kelelahan mereka dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Perempuan juga memiliki keterbatasan. Mereka membutuhkan waktu untuk beristirahat, mengembangkan minat, dan menjalani kehidupan di luar tuntutan pekerjaan serta keluarga.
Menurut saya, pemberdayaan perempuan tidak hanya berarti membuka lebih banyak kesempatan untuk bekerja atau memperoleh penghasilan.
Pemberdayaan juga berarti memberikan ruang bagi perempuan untuk menentukan pilihan hidup tanpa dibebani tuntutan yang tidak seimbang.
Pada akhirnya, kemajuan perempuan bukan hanya dapat diukur dari jumlah perempuan yang berhasil memasuki dunia kerja atau menduduki posisi kepemimpinan.
Kemajuan juga perlu terlihat dari bagaimana keluarga, perusahaan, dan masyarakat menghargai waktu serta kontribusi perempuan.
Sebab, perempuan tidak membutuhkan tuntutan untuk selalu menjadi sosok yang kuat. Mereka membutuhkan kesempatan yang adil, dukungan yang nyata, dan tanggung jawab yang dibagi bersama.
Sumber Referensi
International Labour Organization (ILO). (9 Maret 2026). Beban Pengasuhan Masih Menghambat Kemajuan Karier Perempuan Indonesia.
https://www.ilo.org/id/resource/news/beban-pengasuhan-masih-menghambat-kemajuan-karier-perempuan-indonesia
UN Women. (2 Maret 2026). Time Use and Social Inequality – a Gendered Perspective.
https://data.unwomen.org/publications/time-use-and-social-inequality-gendered-perspective
International Labour Organization (ILO). (22 September 2026). Indonesia Perbarui Peta Jalan Ekonomi Perawatan untuk Dukung Partisipasi Perempuan dan Pekerjaan Layak.
https://www.ilo.org/id/resource/news/indonesia-perbarui-peta-jalan-ekonomi-perawatan-untuk-dukung-partisipasi
Sumber Foto
Sumber: Ilustrasi AI dibuat menggunakan ChatGPT (OpenAI), 20 Oktober 2026.
Gambar merupakan ilustrasi digital yang dihasilkan menggunakan kecerdasan buatan untuk menggambarkan aktivitas keluarga dan pembagian tanggung jawab rumah tangga. Gambar bukan dokumentasi peristiwa nyata.
