Perangkat Desa Dibiayai Teman untuk Kuliah di Usia Tak Lagi Muda,Ternyata Bukan Tantangan Mudah

Ibu Rumah Tangga, Perangkat Desa,Mahasiswa dan Pegiat Sosial
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Darwati Darwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh Darwati

Usia 46 tahun bukan alasan untuk berhenti belajar. Sebagai seorang ibu rumah tangga sekaligus perangkat Desa Lungge, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, saya menjalankan amanah sebagai Kepala Urusan (Kaur) Keuangan Desa. Kini, saya juga tercatat sebagai mahasiswa semester pertama Program Studi Akuntansi kelas daring di Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Ciputat.
Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ini datang dari seorang teman masa kecil yang menawarkan bantuan biaya kuliah agar saya dapat menambah ilmu dan meningkatkan kemampuan dalam menjalankan pekerjaan. Sejak SMP, kami tidak pernah lagi bersekolah di tempat yang sama. Teman saya melanjutkan pendidikan SMA hingga perguruan tinggi di Yogyakarta. Kami hanya sesekali bertemu atau berkomunikasi melalui media daring.
Bagi saya, kesempatan ini merupakan rezeki yang luar biasa. Saya memperoleh peluang untuk kembali belajar, menambah pengetahuan, sekaligus memperkuat kemampuan dalam menjalankan tugas. Tentu saja, jurusan yang paling relevan dengan pekerjaan saya adalah Akuntansi.
Namun, akuntansi bukanlah bidang yang mudah bagi saya. Ilmu ini menuntut ketelitian, kemampuan berhitung, dan kecermatan dalam menganalisis. Sementara itu, saya justru lebih menyukai sejarah, psikologi, dan dunia sastra. Meskipun demikian, saya percaya bahwa kesempatan adalah rezeki, sedangkan menerima kesempatan tersebut berarti bersedia menghadapi tantangan.
Bergelut dengan Angka dan Aplikasi Keuangan Desa
Sebagai Kaur Keuangan Desa, setiap hari saya berhadapan dengan angka dan berbagai aplikasi yang saling berkaitan dalam pengelolaan keuangan desa. Di antaranya adalah Siskeudes (Sistem Keuangan Desa), CMS (Cash Management System), dan Coretax untuk keperluan perpajakan. Selain itu, terdapat pula aplikasi pajak daerah yang dalam pekerjaan saya digunakan untuk keperluan pemotongan pajak atas transaksi tertentu, seperti makan dan minum.
Berhadapan dengan angka setiap hari terkadang membuat kepala terasa pening. Siskeudes memang memberikan banyak kemudahan dalam pengelolaan keuangan desa. Namun, kemudahan penggunaan aplikasi tidak serta-merta membuat saya menguasai ilmu akuntansi. Pengetahuan saya tentang akuntansi masih sangat terbatas.
Saya menyadari bahwa pekerjaan ini bukan sekadar memasukkan angka ke dalam aplikasi. Saya juga harus mampu membaca laporan keuangan, menelusuri alur transaksi ketika terjadi kesalahan, serta memahami perbedaan dan fungsi setiap rekening dalam istilah akuntansi.
Di sinilah saya mulai menyadari pentingnya belajar secara lebih mendalam. Pengalaman kerja memang memberikan banyak pelajaran, tetapi pemahaman teori tetap diperlukan agar setiap proses pengelolaan keuangan dapat dilakukan dengan lebih baik dan dapat dipertanggungjawabkan.
Membagi Waktu antara Pekerjaan, Keluarga, dan Kuliah
Ketika jam kerja berakhir, bukan berarti seluruh tanggung jawab saya selesai. Peran sebagai ibu rumah tangga kembali menanti. Saya harus menjemput anak dari sekolah, menemani mereka belajar, serta mengurus berbagai keperluan keluarga.
Di luar pekerjaan dan keluarga, saya juga aktif dalam kegiatan sosial. Saya menjadi relawan bagi para lanjut usia, koordinator wilayah dalam kegiatan koperasi, serta pengurus organisasi perempuan di Muhammadiyah. Berbagai kegiatan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan saya sebelum memutuskan untuk kuliah kembali.
Kini, saya harus semakin cermat membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, organisasi, kegiatan sosial, dan perkuliahan. Tidak selalu mudah menjalani semuanya secara bersamaan. Namun, saya belajar bahwa setiap amanah membutuhkan komitmen dan pengelolaan waktu yang baik.
Menjelang malam, saya mulai membuka laptop untuk mengikuti perkuliahan melalui Zoom atau Google Meet. Ada kalanya sinyal internet tidak bersahabat, laptop bermasalah, atau mata sudah terasa berat dan ingin segera terpejam.
Namun, ketika materi perkuliahan terasa menarik atau ada pengetahuan baru yang ingin saya pahami, rasa kantuk itu seolah tersingkir. Bertambahnya ilmu membuat lelah terasa lebih ringan. Terlebih lagi, ketika mengingat bahwa biaya kuliah ini merupakan amanah kebaikan dari seorang teman, semangat saya kembali menyala.
Saya ingin memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Bukan hanya demi diri sendiri, melainkan juga agar ilmu yang saya peroleh dapat memberikan manfaat bagi pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.
Bukan Sekadar Gelar, Melainkan Tanggung Jawab
Bagi saya, kuliah bukan semata-mata tentang memperoleh ijazah. Lebih dari itu, kuliah merupakan bagian dari tanggung jawab untuk meningkatkan kemampuan diri dalam menjalankan amanah pekerjaan.
Uang desa adalah uang rakyat yang harus dikelola dengan cermat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, pengelolaannya membutuhkan pemahaman yang baik, termasuk pemahaman tentang prinsip-prinsip akuntansi.
Saya ingin menjadi bagian dari perangkat desa yang tidak hanya mampu mengoperasikan aplikasi keuangan, tetapi juga memahami proses dan alasan di balik setiap pencatatan transaksi. Saya ingin mampu membaca laporan dengan lebih baik, menelusuri kesalahan secara tepat, serta mengambil langkah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Tidak ada kata terlambat untuk menambah ilmu. Kita mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami materi tertentu. Kita juga harus membagi perhatian dengan pekerjaan, keluarga, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Namun, semua itu bukan alasan untuk menyerah sebelum mencoba.
Jika kita mampu mengatur uang belanja keluarga sebesar dua juta rupiah setiap bulan, bukankah kita juga bisa belajar memahami pengelolaan anggaran desa yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah? Tentu saja, pengelolaan keuangan desa memiliki aturan, prosedur, dan tanggung jawab yang berbeda. Namun, ketelitian, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus belajar merupakan bekal penting untuk memulainya.
Saya percaya bahwa usia bukanlah penghalang untuk berkembang. Selama masih ada kemauan, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri dan memberikan manfaat yang lebih besar.
Terima Kasih atas Kesempatan dan Kepercayaan
Saya mengucapkan terima kasih kepada teman masa kecil saya yang telah memberikan kesempatan istimewa ini. Semoga Allah Swt. membalas segala kebaikannya dengan kebaikan yang berlipat ganda.
Terima kasih juga kepada Desa Lungge, tempat saya mengemban amanah dan belajar banyak hal melalui pekerjaan serta pengabdian kepada masyarakat.
Semoga ilmu yang sedang saya pelajari dapat menjadi bekal untuk menjalankan tugas dengan lebih baik, memberikan manfaat bagi masyarakat, serta menjadi amal kebaikan di dunia dan akhirat.
Perjalanan ini mungkin tidak selalu mudah. Akan ada angka-angka yang membingungkan, materi kuliah yang perlu dipelajari berulang kali, dan waktu istirahat yang harus diatur dengan lebih bijaksana. Namun, saya ingin terus melangkah.
Sebab, bagi saya, belajar bukan hanya tentang menambah pengetahuan, melainkan juga tentang menjaga amanah, menumbuhkan keberanian, dan membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik.
Tentang Penulis
Darwati adalah mahasiswa semester pertama Program Studi Akuntansi kelas daring di Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Ciputat. Saat ini, ia bekerja sebagai perangkat Desa Lungge, Kecamatan Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, dengan mengemban amanah sebagai Kepala Urusan (Kaur) Keuangan Desa Lungge.
