Konten dari Pengguna

Bisnis Terus Berubah, Sudahkah SDM Siap Beradaptasi di Abad ke-21?

Debi Nur Shifa

Debi Nur Shifa

mahasiswa management Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Debi Nur Shifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh Debi Nur Shifa

Dunia bisnis hari ini bergerak jauh lebih cepat dibanding dua dekade lalu. Teknologi berkembang nnyaris tanpa jeda, pasar makin terbuka, dan selera pelanggan berubah dalam hitungan bulan. Perusahaan yang lambat beradaptasi bisa tertinggal, sebaik apa pun produknya. Di titik inilah sumber daya manusia (SDM) menjadi penentu. Strategi bisnis secanggih apa pun tidak akan berjalan tanpa orang-orang yang siap menjalankannya.

Sumber : AI Generated
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : AI Generated

Wajah Lingkungan Bisnis Abad ke-21

Ada beberapa ciri utama lingkungan bisnis saat ini yang perlu dipahami para pelaku usaha dan praktisi SDM.

Pertama, perubahan yang cepat akibat globalisasi. Globalisasi membuat batas antarnegara semakin kabur. Informasi, teknologi, modal, dan investasi bergerak lintas negara dengan mudah, sehingga persaingan tidak lagi bersifat lokal (Dessler, 2015). Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat juga mengubah perilaku pelanggan dalam memilih produk.

Kedua, persaingan yang makin ketat. Masuknya investasi dan pelaku usaha asing memperluas pilihan konsumen sekaligus mempertajam kompetisi. Perusahaan pun membutuhkan SDM yang terampil dan kompetitif.

Ketiga, perdagangan bebas. Keterbukaan pasar membuat produk dan jasa dalam negeri bersaing langsung dengan produk luar negeri. Hal yang sama berlaku pada tenaga kerja, karena SDM lokal kini juga bersaing dengan tenaga kerja asing. Pelaku usaha perlu menetapkan kualifikasi SDM yang berstandar internasional dan terus meningkatkan kompetensi karyawannya.

Keempat, dinamika politik dan sosial. Dunia usaha sangat peka terhadap kondisi sosial-politik, baik nasional maupun global. Situasi yang tidak stabil mempersulit perusahaan memperkirakan dampaknya terhadap operasional dan pengembangan bisnis. Pernyataan pejabat publik, konflik elite, atau praktik korupsi dapat memengaruhi nilai tukar dan kepercayaan pasar.

Persiapan dari Sisi Organisasi

Menghadapi kondisi tersebut, organisasi perlu bersiap dengan beberapa langkah:

Merencanakan ke depan dan berani mengubah sudut pandang organisasi, tidak hanya bereaksi terhadap perubahan.

Beradaptasi dengan budaya yang berbeda, terutama saat berhadapan dengan mitra, pelanggan, dan pesaing lintas negara.

Memberdayakan SDM agar potensi karyawan benar-benar termanfaatkan.

Berfokus pada produk dan layanan yang memenuhi standar internasional.

SDM Seperti Apa yang Dibutuhkan?

Dari sisi individu, setidaknya ada dua kualitas yang perlu dimiliki SDM.

SDM yang kompetitif, yaitu mereka yang mampu menjaring, menganalisis, dan memanfaatkan informasi bisnis, merespons peluang dengan cepat, mengelola dan menghindari risiko, serta menekan biaya operasional.

SDM yang berkualitas, yang mencakup beberapa aspek:

Fisik: sehat dan mampu menggunakan kemampuan tubuhnya secara efektif untuk mencapai tujuan.

Sosial-psikologis: terus menambah wawasan dan keterampilan, berpikir kritis dan rasional, serta mampu menyesuaikan diri dengan norma sosial, norma bisnis, dan budaya perusahaan.

Moral dan spiritual: memiliki komitmen pada prinsip moral yang baik dalam kehidupan pribadi maupun perannya di masyarakat.

Artinya, perusahaan membutuhkan karyawan yang cakap secara teknis sekaligus berintegritas.

Peran Manajemen SDM dan Perencanaan Strategis

Manajemen SDM yang profesional berperan menggerakkan karyawan agar produktif, menjaga orientasi mutu yang berkelanjutan, dan mendorong keseimbangan kehidupan kerja (quality of work life). Manajemen SDM juga membantu membangun kerja sama tim, misalnya melalui kelompok pengendalian mutu dalam Total Quality Management (TQM).

Semua itu berpijak pada perencanaan SDM yang strategis. Menurut Jackson dan Schuler, perencanaan SDM adalah proses yang menentukan bagaimana organisasi bergerak dari kondisi SDM saat ini menuju kondisi yang diinginkan. Tujuannya agar perusahaan memperoleh tenaga kerja dengan jumlah dan kualitas yang tepat, di waktu dan tempat yang tepat.

Sayangnya, perencanaan SDM sering terputus dari strategi bisnis. Peramalan kebutuhan tenaga kerja kerap hanya dibahas dari sisi statistik, sementara penerimaan model tersebut oleh manajemen kurang diperhatikan. Akibatnya, rencana yang matang di atas kertas tidak selalu dijalankan.

Faktor Lingkungan yang Memengaruhi Strategi SDM

Fombrun (1982) menunjukkan bahwa faktor lingkungan seperti ketidakpastian, kemajuan teknologi, dan perubahan ekonomi memengaruhi strategi SDM, termasuk kebijakan kompensasi dan pelatihan. Perubahan demografi juga berpengaruh. Jumlah pekerja muda bisa berkurang, sementara keragaman tenaga kerja, termasuk dari sisi latar belakang etnis, justru meningkat. Karena itu, perusahaan perlu menyiapkan kebijakan SDM yang inklusif dan fleksibel.

Penutup

Perubahan lingkungan bisnis tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa dikelola. Perusahaan yang berinvestasi pada perencanaan SDM yang strategis, pengembangan kompetensi, dan budaya kerja yang adaptif akan lebih siap menghadapi persaingan. Pada akhirnya, SDM adalah aset yang menentukan apakah perusahaan sekadar bertahan atau justru berkembang.

Referensi

Dessler, G. (2015). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Salemba Empat.

Fombrun, C. J. (1982). Strategies for Network Research in Organizations. Academy of Management Review.

Pratama, A. (2022). Manajemen Sumber Daya Manusia (Untuk Pemerintahan dari Teori ke Praktik). Penerbit Widina.

Hasibuan, M. (2005). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.