Konten dari Pengguna

Belajar Manajemen Bukan Cuma Soal Angka, tapi Juga Manusia

Pernah nggak kamu mengerjakan tugas kelompok, lalu merasa heran karena setiap orang punya cara kerja yang berbeda? Ada teman yang langsung membagi tugas begitu kelompok terbentuk. Ada yang lebih suka mencari banyak referensi sebelum mulai bekerja. Ada juga yang baru terlihat sibuk ketika tenggat pengumpulan sudah dekat. Padahal, tugasnya sama dan tujuan kelompoknya juga sama.

Sumber Poto : Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Poto : Dok. Pribadi

Awalnya, mungkin kita menganggap perbedaan itu sekadar soal kebiasaan. Namun, kalau dipikir-pikir, cara seseorang bekerja, mengambil keputusan, dan menghadapi masalah ternyata banyak dipengaruhi oleh kepribadiannya. Hal seperti ini sebenarnya menarik untuk dibahas, terutama bagi kita yang belajar manajemen. Selama ini, kita sering mendengar bahwa seorang manajer harus bisa merencanakan pekerjaan, mengatur anggota tim, memimpin, dan mengawasi hasil kerja. Namun, ada satu hal yang terkadang terlupakan: semua itu dilakukan oleh manusia, dan manusia tidak memiliki cara berpikir yang sama.

Kenapa Kita Bisa Berbeda? Coba bayangkan dua orang yang mendapatkan tugas presentasi mendadak. Orang pertama mungkin langsung menyusun materi, membagi pekerjaan, dan menentukan jadwal latihan. Orang kedua justru ingin berdiskusi terlebih dahulu dengan teman-temannya untuk mencari ide yang menarik. Siapa yang lebih baik? Menurut saya, belum tentu salah satunya. Mereka hanya memiliki cara menghadapi situasi yang berbeda.

Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan kepribadian. Gordon Allport menjelaskan kepribadian sebagai sistem dalam diri seseorang yang membuatnya memiliki cara khas untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Artinya, kepribadian bukan cuma tentang apakah seseorang terlihat ramah, pendiam, atau percaya diri. Kepribadian juga berkaitan dengan bagaimana seseorang berpikir, merasakan sesuatu, dan bertindak ketika menghadapi berbagai keadaan.

Menariknya, kata personality berasal dari bahasa Latin persona, yang berarti topeng yang digunakan oleh pemeran teater. Kalau dipikirkan, ada sedikit kemiripan dengan kehidupan kita sekarang. Ketika bertemu orang baru, kita mungkin berusaha terlihat percaya diri. Ketika berada bersama sahabat, kita bisa menjadi jauh lebih santai. Namun, tentu saja, kepribadian yang sebenarnya tidak bisa dinilai hanya dari penampilan luar.

Menurut saya, memahami hal ini penting supaya kita tidak terburu-buru menilai seseorang hanya dari satu kejadian. Teman yang diam saat diskusi belum tentu tidak punya ide. Bisa jadi, dia sedang menyusun pikirannya sebelum berbicara. Sebaliknya, teman yang aktif menyampaikan pendapat belum tentu ingin mendominasi. Mungkin dia memang lebih mudah berpikir sambil berdiskusi. Saya rasa, masalahnya muncul ketika kita mulai menganggap satu tipe kepribadian lebih unggul daripada tipe lainnya. Misalnya, dalam sebuah kelompok, teman yang paling banyak berbicara sering dianggap paling aktif, sedangkan teman yang lebih banyak mengamati dianggap kurang berkontribusi. Padahal, kontribusi tidak selalu terlihat dari seberapa sering seseorang berbicara.

Psikolog Carl Jung juga membahas cara manusia memahami dunia melalui empat fungsi jiwa, yaitu berpikir, merasa, mengindra, dan intuisi. Setiap orang memiliki fungsi-fungsi tersebut, meskipun penggunaannya bisa berbeda-beda. Ada orang yang lebih mengutamakan data dan logika ketika mengambil keputusan. Ada pula yang mempertimbangkan perasaan orang lain atau lebih mengandalkan pengalaman dan kemungkinan yang belum terlihat.

Selain itu, kepribadian juga dipengaruhi oleh bawaan dan lingkungan. Cara kita dibesarkan, pengalaman di sekolah, pergaulan, budaya, dan berbagai peristiwa dalam hidup dapat ikut membentuk diri kita. Alwisol menjelaskan bahwa kepribadian memiliki ciri yang menyeluruh, khas, relatif menetap, dan utuh. Meski begitu, bukan berarti seseorang tidak bisa berubah. Pengalaman dan proses belajar tetap dapat membantu kita mengembangkan kebiasaan baru.

Bagi saya, ini kabar baik. Kalau selama ini kita merasa kurang berani berbicara di depan umum atau terlalu terburu-buru mengambil keputusan, bukan berarti kita harus menerima keadaan itu selamanya. Kita tetap bisa belajar dan memperbaiki diri. Belajar Manajemen Berarti Belajar Memahami Manusia. Kalau kita kembali membahas manajemen, kepribadian ternyata punya hubungan yang cukup dekat dengan kegiatan sehari-hari seorang manajer.

Dalam perencanaan, misalnya, orang yang teliti mungkin lebih nyaman menyusun jadwal, menghitung kebutuhan, dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan sebelum bertindak. Sementara itu, orang yang lebih spontan mungkin cepat menemukan ide dan berani mencoba pendekatan baru. Keduanya memiliki kelebihan, tetapi juga perlu menyadari kekurangannya. Orang yang terlalu teliti bisa menghabiskan waktu terlalu lama untuk mempertimbangkan sesuatu, sedangkan orang yang terlalu spontan bisa melewatkan risiko penting.

Hal yang sama berlaku ketika mengatur pekerjaan. Bayangkan kita menjadi ketua kelompok dalam sebuah proyek kuliah. Jika kita memahami kemampuan dan kebiasaan anggota kelompok, pembagian tugas bisa dilakukan dengan lebih masuk akal. Teman yang pandai menjelaskan ide mungkin cocok menjadi juru bicara. Teman yang teliti bisa membantu memeriksa data dan menyusun laporan. Namun, pembagian tersebut sebaiknya tetap mempertimbangkan minat dan kemampuan setiap orang, bukan semata-mata memberi label berdasarkan kepribadiannya.

Jadi di sinilah pentingnya seorang pemimpin memahami orang lain. Memimpin bukan sekadar memberikan instruksi dan memastikan semua orang menyelesaikan pekerjaan. Pemimpin juga perlu mengetahui cara berkomunikasi yang tepat, memberikan kesempatan kepada anggota untuk berkembang, dan menyelesaikan perbedaan pendapat tanpa membuat suasana menjadi tidak nyaman. Bahkan, dalam fungsi pengendalian, kepribadian juga bisa berpengaruh. Ada orang yang mudah menerima kritik karena menganggapnya sebagai kesempatan belajar. Ada juga yang merasa tersinggung ketika pekerjaannya dikoreksi. Jika kita menjadi pemimpin, kita perlu belajar menyampaikan evaluasi dengan jelas tanpa merendahkan orang lain. Sebaliknya, jika kita yang menerima kritik, kita juga perlu belajar memisahkan masukan terhadap pekerjaan dari penilaian terhadap diri kita secara keseluruhan.

Jadi kemampuan mengelola manusia sama pentingnya dengan kemampuan mengelola pekerjaan. Rencana yang bagus sekalipun bisa gagal jika orang-orang yang menjalankannya tidak saling memahami. Dalam Manajemen Keuangan, Kepribadian Juga Ikut Berperan. Hubungan kepribadian dengan manajemen semakin menarik ketika kita membicarakan keuangan. Selama belajar manajemen keuangan, kita mungkin terbiasa menggunakan angka, rumus, dan analisis untuk menentukan keputusan terbaik. Namun, keputusan keuangan dalam kehidupan nyata tidak selalu sesederhana hasil perhitungan. Misalnya, dua mahasiswa sama-sama memiliki uang tabungan. Ketika melihat peluang investasi, mahasiswa pertama tertarik mencoba karena berharap mendapatkan keuntungan lebih besar. Mahasiswa kedua memilih menyimpan uangnya terlebih dahulu karena khawatir mengalami kerugian. Keduanya mungkin sudah memahami informasi yang sama, tetapi memiliki toleransi risiko yang berbeda.

Jadi persoalannya bukan tentang siapa yang paling berani atau paling berhati-hati. Yang lebih penting adalah apakah keputusan tersebut dibuat berdasarkan pertimbangan yang matang, sesuai dengan tujuan, dan mempertimbangkan risiko yang mungkin terjadi. Orang yang terlalu percaya diri bisa saja mengambil risiko tanpa perhitungan yang cukup. Sebaliknya, orang yang terlalu takut kehilangan uang mungkin melewatkan peluang yang sebenarnya sesuai dengan kebutuhannya. Karena itu, mengenali kecenderungan diri sendiri dapat membantu kita mengambil keputusan yang lebih bijak. Kepribadian juga memengaruhi cara kita berkomunikasi ketika membahas uang. Saat mengelola anggaran bersama, misalnya, ada anggota tim yang ingin melihat rincian setiap pengeluaran, sementara anggota lain lebih tertarik pada gambaran besarnya. Jika tidak saling memahami, perbedaan ini bisa menimbulkan konflik. Namun, jika dikelola dengan baik, justru keduanya dapat saling melengkapi.

Mulai Memahaminya dari Kehidupan Kampus. Kita sebenarnya tidak perlu menunggu sampai bekerja sebagai manajer untuk belajar memahami kepribadian. Kampus sudah memberikan banyak kesempatan untuk melatihnya, terutama melalui tugas kelompok, presentasi, diskusi, dan kegiatan organisasi. Kalau kamu termasuk orang yang lebih nyaman bekerja sendiri, cobalah sesekali mengambil peran dalam diskusi kelompok. Kamu tidak harus langsung menjadi orang yang paling banyak berbicara. Mulailah dengan menyampaikan satu pendapat atau mengajukan satu pertanyaan. Sebaliknya, kalau kamu terbiasa aktif berbicara, cobalah memberi kesempatan kepada teman lain untuk menyampaikan idenya sebelum mengambil alih pembicaraan.

Kita juga bisa menyesuaikan cara belajar dengan kebiasaan masing-masing. Orang yang suka keteraturan mungkin terbantu dengan jadwal belajar mingguan. Orang yang sering menunda pekerjaan bisa mencoba membuat tenggat kecil sebelum batas pengumpulan yang sebenarnya. Sementara itu, orang yang mudah merasa cemas ketika menghadapi tugas besar bisa membaginya menjadi beberapa bagian agar terasa lebih ringan.

Bagi saya, mengenali kepribadian bukan berarti mencari alasan untuk mempertahankan kebiasaan yang kurang baik. Justru sebaliknya, pemahaman tersebut seharusnya membantu kita mengetahui apa yang perlu dipertahankan dan apa yang perlu diperbaiki. Kita boleh memiliki karakter yang berbeda, tetapi bukan berarti kita tidak bisa belajar dari satu sama lain. Pada Akhirnya, Manajemen Bukan Hanya Soal Pekerjaan Semakin dipikirkan, belajar manajemen ternyata bukan hanya tentang bagaimana membuat perencanaan yang rapi, membagi tugas secara efektif, memimpin sebuah tim, atau mengawasi hasil kerja. Semua itu memang penting, tetapi ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu memahami manusia yang menjalankannya.

Kepribadian membantu kita memahami mengapa seseorang bisa bereaksi berbeda terhadap situasi yang sama. Pemahaman itu juga mengingatkan kita agar tidak mudah memberi penilaian hanya berdasarkan kesan pertama. Kita perlu melihat kemampuan, pengalaman, kebiasaan, dan kemauan seseorang untuk berkembang. Saya sendiri melihat bahwa salah satu bekal penting bagi mahasiswa manajemen adalah kemauan untuk mengenali diri sendiri sekaligus menghargai perbedaan orang lain. Kita tidak harus menjadi pribadi yang sama untuk bisa bekerja sama. Kita hanya perlu belajar berkomunikasi, saling melengkapi, dan bertanggung jawab atas peran masing-masing. Sebab, pada akhirnya, keberhasilan mengelola sesuatu tidak hanya ditentukan oleh seberapa bagus rencana yang kita buat, tetapi juga oleh seberapa baik kita memahami orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Referensi: Materi kuliah Komunikasi Bisnis Pertemuan 1, “Kepribadian Manusia”, yang merujuk pada pemikiran Gordon Allport, Alwisol, Hans Eysenck, Carl Jung, Henry Murray, dan Alex Sobur.