Kusen Bahas Arah Pendidikan Seni Rupa Muhammadiyah di Unismuh

Pengajar lepas dan staf di Unismuh Makassar. Senang audio visual, menulis hal menarik dan berkelanjutan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Dede Leman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan seni rupa tidak cukup hanya mengajarkan mahasiswa menghasilkan gambar atau karya visual. Pendidikan seni juga perlu memberi ruang bagi kreativitas, pembentukan karakter, dan kemampuan membaca lingkungan.
Pesan itu disampaikan Kusen, S.Ag., M.A., Ph.D., Wakil Ketua Lembaga Seni dan Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah, saat menjadi narasumber kuliah perdana dan stadium general Program Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.
Kegiatan bertema “Arah Gerak Seni Budaya Muhammadiyah Berkemajuan dalam Pendidikan Seni Rupa” berlangsung di Mini Hall Unismuh Makassar, Selasa (29/9/2026).
Dalam pemaparannya, Kusen mengajak mahasiswa melihat pendidikan seni rupa dari sudut pandang yang lebih luas. Menurut dia, calon guru seni perlu memahami bahwa proses belajar seni berhubungan dengan perkembangan cara berpikir dan karakter peserta didik.
Kusen memberikan contoh melalui eksperimen menggambar yang pernah dilakukannya. Sejumlah wali santri diminta menggambar pemandangan, rumah, dan kapal dalam waktu terbatas.
“Hasilnya 100 persen, padahal mereka duduknya berjauhan. 100 orang itu 100 persen persis,” kata Kusen.
Menurut Kusen, hasil tersebut memperlihatkan adanya pola pendidikan visual yang membuat seseorang cenderung menggambar dengan cara yang sama. Karena itu, ia menilai pendidikan seni perlu memberi ruang lebih besar bagi imajinasi dan kreativitas anak.
“Di sinilah peran dari arah gerak seni budaya Muhammadiyah berkemajuan dalam pendidikan seni rupa,” ujar Kusen.
Ia kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan peran mahasiswa sebagai calon pendidik. Menurut dia, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa perlu memahami cara mengajarkan seni yang mampu mendorong peserta didik mengembangkan kemampuan visual tanpa kehilangan kebebasan berkreasi.
Ketua Program Studi Pendidikan Seni Rupa FKIP Unismuh Makassar, Dr. Meisar Ashari, mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari tradisi kuliah perdana yang mulai dikembangkan program studi.
Meisar menjelaskan, kehadiran Kusen penting karena mahasiswa memperoleh kesempatan mendapatkan perspektif langsung dari tokoh yang bergerak di bidang seni dan budaya Muhammadiyah. Ia juga menekankan karakter keislaman sebagai salah satu unsur yang perlu diperkuat dalam pendidikan seni rupa di Unismuh.
Menurut Meisar, identitas Islam dalam seni tidak harus selalu ditampilkan melalui gambar masjid atau kaligrafi. Nilai Islam dapat diterjemahkan lebih luas ke dalam konsep dan gagasan karya yang dibuat mahasiswa.
Pembahasan kemudian masuk pada persoalan hukum seni, khususnya mengenai gambar manusia dan patung. Kusen mengatakan mahasiswa seni rupa perlu memahami persoalan tersebut dengan melihat konteks, bukan hanya mengambil kesimpulan dari pemahaman tekstual.
“Berarti hukum itu tergantung dari sebab,” ujar Kusen dalam menjelaskan hubungan antara suatu ketentuan dengan konteks yang melatarbelakanginya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar memahami seni dan agama secara lebih komprehensif. Menurutnya, calon pendidik seni akan menghadapi berbagai pertanyaan dari peserta didik sehingga membutuhkan wawasan yang cukup untuk memberikan penjelasan.
Dekan FKIP Unismuh Makassar, Dr. Baharullah, dalam sambutannya mengatakan kuliah perdana dan stadium general menjadi kesempatan penting bagi mahasiswa untuk memperoleh wawasan dari narasumber yang memiliki pengalaman di bidang seni dan budaya.
Baharullah juga memberikan pesan khusus kepada mahasiswa Pendidikan Seni Rupa. Ia meminta mereka tidak hanya mempersiapkan diri sebagai tenaga pendidik, tetapi juga tetap membangun kapasitas sebagai seniman.
“Jadilah seniman pendidik. Bukan hanya pendidik seniman,” kata Baharullah.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar karya yang dihasilkan nantinya memberikan manfaat bagi masyarakat dan tetap mencerminkan identitas kemuhammadiyahan.
Kuliah perdana tersebut mempertemukan tiga hal yang menjadi perhatian dalam pengembangan Pendidikan Seni Rupa Unismuh Makassar, yakni pendidikan, seni, dan nilai keislaman. Ketiganya menjadi ruang diskusi mahasiswa untuk memahami posisi seni rupa di tengah perubahan masyarakat.
Bagi mahasiswa, pembahasan itu menjadi bekal awal sebelum memasuki proses pembelajaran yang lebih teknis. Pendidikan seni rupa diharapkan tidak hanya melahirkan orang yang mampu membuat karya, tetapi juga pendidik yang mampu membantu generasi berikutnya berpikir kreatif dan memahami lingkungan melalui seni.
